Pembinaan umat merupakan tanggung jawab otoritas Gereja. Di paroki-paroki menjadi tanggung jawab utama pastor paroki. Dalam pelaksanaannya imam yang mengajar dibantu tim Pewartaan, yakni biarawan, biarawati dan awam yang terdiri dari katekis, guru agama dan katekis sukarela. Dua penanggung jawab dalam Bidang Pewartaan dan pembina Sakramen Inisiasi yakni Yakobus Yulionorto dari Paroki Kelayan dan Antonius Irianto dari Paroki Landasan Ulin menceritakan pengalaman dan tantangan yang mereka mereka hadapi. Apakah yang ingin mereka sampaikan, teristimewa di masa Pandemi Covid-19 ini?

Kualifikasi Tim Pengajar

Yakobus Yulionorto

Masalah utama memang kualifikasi latar belakang pendidikan Kateketik atau filsafat teologi para pengajar tidak merata dimiliki paroki-paroki. Dari kuesioner yang dibagikan Komisi Pendidikan dan Pewartaan bulan Februari-Maret 2021 ada 68 responden yang memberikan jawaban dan sebanyak 19 orang (27,9%) belum memiliki kualifikasi tersebut. Mereka adalah katekis suka rela, termasuk di dalamnya penyuluh agama Katolik honorer dari Kemenag. Apabila menelisik di paroki-paroki maka angka ini kemungkinan bisa lebih besar lagi. Anton Irianto selaku pengampu bidang pewartaan merupakan katekis suka rela yang mengusahakan penyelenggaraan pelaksanaan sakramen inisiasi dengan mengusahakan berbagai bahan yang kompeten dan berhubungan dengan pastor paroki serta suster anggota tim.

 

 

Penggunaan Buku Panduan Resmi Sakramen Inisiasi (Baptis, Komuni I dan Penguatan) Keuskupan Banjarmasin

Antonius Irianto

Penggunaan Buku Panduan Resmi Keuskupan masih belum tersebar merata dan dipakai oleh paroki-paroki. Paroki Kelayan sudah sepenuhnya menggunakan materi Buku dari Komisi Kateketik Keuskupan. Bidang Pewartaan Paroki Landasan Ulin menyampaikan menggunakan buku panduan keuskupan namun menambahkan dengan beberapa buku tambahan lain (buku Mengikuti Yesus Kristus dan Persiapan Komuni Pertama dari Komkat KAS) atas seizin Pastor Paroki dan Suster SND  dan  Panduan Pendampingan Katemumen dari Tim Kerja Katekese Paroki Santo Yosep Purwokerto di kanal Youtube Parokisanyos Purwokerto.

Baca Juga:  Uji Coba Panggung Pesparani 2022 Kontingen Kalimantan Selatan

Pembinaan Katekumen

Pembinaan katekumen di setiap paroki telah dilaksanakan. Di Paroki Kelayan biasanya dilaksanakan mulai Agustus s.d. Malam Paskah untuk penerimaan Sakramen Baptis. Paroki Landasan Ulin saat ini belum membuka pelajaran karena situasi masa pandemi Covid-19 ini.

Tahapan Pembinaan Katekumenat

Dalam Buku Panduan untuk katekumenat ada 4 masa dan 3 tahap pendampingan (lihat artikel Kesiapan Buku Panduan Sakramen Inisiasi). Paroki Kelayan menggunakan 2 tahapan pelantikan yakni pelantikan pertama dan pelantikan kedua menjelang babtisan sedangkan Paroki Landasan Ulin menggunakan semua tahapan yang ada.

Kesulitan yang Dihadapi Pengajar

Dari segi ketersediaan pengajar, Yulio Norto mengungkapkan bahwa di Paroki Kelayan tidak ada masalah dan pengajar memenuhi kualifikasi ilmu kateketik atau filsafat teologi. Potensi guru agama dan suster berlatar belakang kateketik tersedia. Namun hal ini berkebalikan dengan situasi di Paroki Landasan Ulin, Anton Irianto mengaku merupakan katekis suka rela yang menyediakan diri walau merasa pengetahuan ilmu agama secara formal belum ada ditambah dengan keterbatasan anggota tim untuk mengampu sakramen inisiasi. Hal ini bisa dijumpai situasinya di paroki-paroki yang ada di keuskupan. Perlu perhatian dari paroki maupun keuskupan terhadap variasi situasi pengajar yang ada.

Pembinaan masa Mistagogi yang mengantar kepada makin dewasanya iman para baptisan baru memang sudah diupayakan. Namun demikian menurut Yulionorto pada kenyataannya tahapan yang sudah dipersiapkan menjadi tidak berfungsi karena adanya anggapan dari peserta baptis baru yang menilai apabila sudah menerima baptisan maka kewajibannya selesai. Tim kerja Pewartaan Paroki Kelayan memprogramkan pembinaan (mistagogi), dan pada misa minggu pagi para baptisan baru dalam waktu sebulan  duduk bersama secara khusus di salah satu bangku gereja untuk didoakan oleh imam pada perayaan ekaristi. kenyataannya bahwa para babtisan baru tidak hadir pada masa mistagogi.

Baca Juga:  Kesan dan Pesan Para Sahabat RD. Yohanes Tjuandi

Paroki Landasan Ulin menurut Anton Irianto melakukan pendampingan aktif dengan cara komunikasi melalui alat komunikasi (HP) atau melihat keaktifan langsung baptisan baru di gereja dan komunitas. Sebagian besar menjalankan sesuai harapan bahkan mau aktif dalam persiapan ekaristi, mengikuti kegiatan komunitas atau kepanitian acara tertentu.

Kiranya sharing dari para pengajar sakramen inisiasi dapat memberikan gerak bersama dan perhatian paroki maupun keuskupan dan kesadaran umat untuk tetap mengadakan pembinaan berkelanjutan bagi mereka yang memerlukan. (oZo)