Kita hidup di jaman internet. Kita tahu, bahwa internet merupakan sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan kabar, informasi dan berbagai berita secara cepat melintasi batas-batas ruang. Tetapi kompetisi ekonomi dan kehadiran jurnalisme online tanpa batas juga melahirkan sensasionalisme dan penyebaran hoax, tumpang tindihnya berita-berita, publikasi, pertunjukan, dan pada kemerosotan nilai-nilai dalam hidup. Diperlukan pedoman etis bagaimana kita menggunakan internet dengan baik dan benar sebagai tolok ukur moral dalam penggunaan Internet.

Pengajaran mengenai pedoman etis dan tolok ukur moral penggunaan internet tersebut diberikan oleh RP. Ignas Tari, MSF selaku Narasumber dalam Zoominar seri 10 yang diselenggarakan oleh Komisi Keluarga Keuskupan Banjarmasin pada Kamis (14/10/2021). Kegiatan yang diikuti oleh 51 partisipan Zoom ini juga disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube Pusat Pastoral Keuskupan Banjarmasin. Zoominar yang bertema “Tolok Ukur Moral Penggunaan Internet” ini dimoderatori oleh Stanislaus Warjiman dan difasilitasi oleh Komisi Komsos Keuskupan Banjarmasin.

 

Internet: Pedang Bermata Dua

Pastor Ignas Tari dalam pemaparannya menjelaskan bahwa sifat-sifat dari internet adalah instan, seketika, mendunia, terdesentralisasi, interaktif, berkembang tanpa batas dalam hal isi dan jangkauan, fleksibel dan sangat adaptif. Kekhasan tersebut memungkinkan setiap orang dengan peralatan seperlunya dan kemampuan teknik yang biasa dapat hadir secara aktif di dalam dunia maya, menyampaikan pesannya ke dunia untuk didengarkan.

Di sisi lain, internet memungkinkan orang untuk menjadi anonim, bermain peran serta hanyut dalam khayalan sesuai dengan selera masing-masing pengguna. Internet juga bisa mengarahkan seseorang untuk egois dan mementingkan diri sendiri.  Sebaliknya, internet dipergunakan untuk mendobrak keterasingan individu dan kelompok-kelompok. Karena sifat-sifatnya itu, internet bagaikan pedang bermata dua. Ia bisa menimbulkan dampak positif dan negative bagi penggunanya.

Baca Juga:  Orang Muda, Wajah Gereja Masa Kini dan Masa Mendatang

Internet dapat mengantar menuju komunikasi yang lebih baik dan menyatukan orang-orang. Internet dan sarana komunikasi sosial lainnya dapat menjadi sarana istimewa untuk membangun peradaban kasih.  Namun internet dapat juga menuntun pada semakin meningkatnya pengasingan dan pemusatan diri serta  dapat memisahkan. Dampak negative lainnya adalah internet telah digunakan seperti senjata perang sehingga dapat terjadi perang siber, terorisme siber dan konflik-konflik lainnya.

Internet dalam Pandangan Gereja

Gereja memandang sarana-sarana komunikasi sosial sebagai anugerah Allah. Salah satu sarana komunikasi sosial tersebut adalah internet yang merupakan media positif sebagai hasil proses sejarah ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi yang mengagumkan.

Internet dan teknologi komunikasi dapat menjadi sarana pewartaan dan penyebaran Injil sebagaimana yang dilakukan Carlo Acutis. Remaja Italia yang meninggal pada 12 Oktober 2006 di usia 15 tahun ini dikanonisasi Gereja Katolik menjadi Beato pada 10 Oktober 2020. Ia dijuluki  “Santo” pelindung Internet  karena pewartaan Injil yang dilakukannya melalui internet.

Saat ini internet banyak digunakan untuk hal-hal yang baik, dengan harapan yang lebih baik lagi, tetapi banyak kerugian dapat terjadi juga karena penggunaannya yang tidak tepat. Kebaikan atau keburukan yang akan dihasilkan, akan tergantung dari beberapa pilihan. Dalam penerapannya Gereja menawarkan dua sumbangan yang amat penting: komitmennya terhadap martabat pribadi manusia dan tradisi kebijakan moralnya yang telah berlangsung lama.

 

Tolok Ukur Moral Penggunaan Internet

Secara etis, apakah internet membuat manusia lebih bahagia dan lebih baik? Menurut Gereja, jawabannya, untuk banyak segi: Ya! Gereja mengakui internet sebagai sarana komunikasi sosial yang berpengaruh bagi pendidikan dan pengayaan budaya, bagi perdagangan dan keterlibatan politik, bagi dialog dan pemahaman antarbudaya, juga dapat melayani soal-soal agama. Meskipun demikian diakui juga bahwa internet bisa disalahgunakan untuk mengeksploitasi, memanipulasi, menguasai dan korupsi.

Baca Juga:  Perayaan Tahbisan Imamat, Diakon dan Pesta Perak Imamat

Pribadi dan komunitas masyarakatlah yang merupakan unsur utama untuk penilaian etis terhadap internet. Sehubungan dengan pesan yang disampaikan, proses komunikasi, isu-isu struktural dan sistemik dalam komunikasi – prinsip etis mendasar adalah sebagai berikut: Pribadi manusia dan komunitas manusia merupakan tujuan dan ukuran dari penggunaan media komunikasi sosial. Komunikasi hendaknya dilakukan oleh pribadi-pribadi kepada pribadi-pribadi demi keutuhan perkembangan pribadi.

Internet memiliki kemampuan untuk menjamin bahwa setiap orang di mana pun di muka bumi untuk mengembangkan kesejahteraan umum melalui solidaritas dan berpartisipasi dalam masalah-masalah berat dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh setiap orang dan seluruh masyarakat. Kita tidak akan pernah merasa bahagia dan damai tanpa orang lain, dan bila seorang bermusuhan dengan yang lain.

Berbagi Tanggung Jawab

Dengan makin berkembangnya teknologi komunikasi dan internet, maka sejumlah persoalan pun muncul seperti: tidak adanya privacy, pornografi, bocornya keamanan dan kerahasiaan data, pelanggaran hak cipta dan hak kekayaan intelektual, munculnya situs-situs yang menyebarkan kebencian serta gossip yang berkedok berita.

Solidaritas adalah ukuran kegunaan yang ditawarkan internet bagi kebaikan bersama. Kebaikan bersamalah yang menjadi konteks untuk mempertimbangkan pertanyaan moral ini: “Apakah sarana komunikasi sosial digunakan untuk kebaikan atau kejahatan.” Banyak orang dan kelompok berbagi tanggung jawab dalam hal ini. Semua pengguna internet diwajibkan menggunakannya dengan cara yang terinformasi dan disiplin untuk tujuan yang baik secara moral.

Para orangtua hendaknya membimbing dan mengawasi anak-anak dalam penggunaan internet. Sementara itu  sekolah-sekolah serta lembaga-lembaga dan program-program pendidikan lainnya hendaknya mengajarkan penggunaan internet dengan bijak sebagai bagian pendidikan media massa komprehensif, yang mencakup tidak hanya pelatihan dalam kemampuan-kemampuan teknis –‘literasi komputer’ dan yang serupa–, tetapi juga kemampuan mengevaluasi isi secara tepat dan bijak.

Baca Juga:  LGBT dalam Pandangan Gereja Katolik

Bagi mereka, yang keputusan-keputusan dan tindakan-tindakannya berperan membentuk struktur dan isi internet, memiliki kewajiban untuk melaksanakan solidaritas dalam pelayanan kebaikan bersama.

Dengan demikian tolok ukur moral penggunaan Internet adalah bagaimana menggunakan internet dengan bijak dan hanya untuk melakukan kebaikan. (smr)