Wawanhati dengan seorang Pendeta – oleh RD. Ign. Allparis Freeanggono

Dalam perbincangan dengan seorang Pendeta, ada suatu pernyataan dari Bapak Pendeta tersebut yang bagi saya cukup mengejutkan, “Romo, keluarga besar saya itu adalah orang Katolik. Ayah saya wakil ketua Dewan Paroki.” Mendengar pernyataan itu, saya pun mulai menanyakan kisahnya hingga menjadi Pendeta.

Bapak Pendeta itu menuturkan bahwa kejadiannya berawal ketika dia akan masuk SMA di sekolah Katolik di kotanya dan ternyata tidak diterima. Maka kemudian ia mendaftar di sekolah Protestan dan diterima. Di situ dia mulai mengenal Gereja Protestan dan mendapatkan pembinaan. “Saya dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di Gereja Protestan dan diajak kemana-mana. Saya pun mulai tertarik dan bergabung dalam Gereja Protestan,” katanya.

Mendengar penuturannya, saya penasaran dan bertanya, “Lalu, bagaimana kemudian timbul keinginan untuk menjadi Pendeta?”

“Pembinan-pembinaan dan kegiatan-kegiatan di sekolah itulah yang membuat saya tertarik menjadi seorang Pendeta,” jawabnya.

Saya terdorong untuk bertanya lebih lanjut, “Apakah waktu itu orangtua mengijinkan?”

Bapak Pendeta itu mengungkapkan, ketika dia meminta ijin pada orangtua untuk menjadi seorang pendeta, orangtuanya kaget dan langsung menangis sambil mengatakan, “Kamu itu sudah kami persembahankan untuk menjadi seorang pastor, mengapa malah berkeinginan menjadi seorang pendeta?”

Perkataan orangtuanya itu, membuat Bapak Pendeta terkejut karena sebelumnya dia tidak pernah mendengar dan tidak pernah tahu bahwa dia telah dipersembahkan menjadi seorang Pastor. Kemudian ia meminta penjelasan maksud kata-kata dari orangtuanya.

Ayahnya bercerita, ketika pendeta itu masih bayi dan ibunya mau memandikan dia, ibunya lupa bahwa air panas yang digunakan untuk mandi itu belum dicampur dengan air dingin. Dan ketika badannya dicelupkan ke bak mandi yang panas tersebut, bagian tangan ibunya dan bagian belakang bayi itu terkena air panas. Dalam keadaan panik dan dalam proses pengobatan, ayah dan ibunya memanggil Pastor untuk mendoakan. Lalu bayi itu diangkat ke atas dan didoakan, “Tuhan kalau anak ini diberi kesempatan untuk hidup kami bersembahkan agar dia nanti bisa mengabdi kepada Engkau untuk menjadi seorang imam.” Ayah Pendeta itu mengatakan, saat itu dia bernazar bahwa jika anaknya (pendeta itu) selamat dan sembuh, maka  akan dipersembahkan menjadi seorang Pastor.

Baca Juga:  Sepuluh Pertanyaan Dasar Sinodalitas Gereja Lokal

Mendengar cerita ayahnya, Bapak Pendeta sangat terkejut dan menyesalkan mengapa orangtuanya tidak pernah bercerita mengenai nazar atau janji itu.  Luapan air mata pun semakin  tak terbendung dalam keluarga itu. Keterkejutan, kesedihan dan penyesalan tak mengubah keputusan Bapak Pendeta. Langkah sudah terlalu jauh dan tak mungkin lagi melangkah mundur atau membalik arah jarum jam. Bapak Pendeta itu akhirnya mengatakan pada orangtuanya, “Saya ingin mengabdi kepada Tuhan tetapi juga ingin menikah. Maka saya tetap ingin menjadi Pendeta.” Dan orangtuanya merestui menjadi pendeta sampai sekarang.