Mgr. Petrus Boddeng Timang, Uskup Keuskupan Banjarmasin

Kepada yang dikasihi Tuhan, ibu-bapa, saudari-saudara, orang muda katolik, remaja dan anak-anak, umat beriman kristiani, para pemeluk hidup bakti biarawati-biarawan, rekan-rekan imam yang terberkati oleh Tuhan, yang saya banggakan dan kasihi, salam sejahtera bagi Anda sekalian.

 

  1. Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) bulan September 2021 sedang kita jalani bersama umat katolik se-Nusantara. Para pemandu pendalaman Kitab Suci di setiap paroki, komunitas, stasi dan kelompok-kelompok kategorial dengan tekun mempersiapkan bahan pertemuan yang diurai dalam empat (4) pertemuan. Sebelum bertugas mereka sendiri sudah dibekali dengan mendalami bersama bahan yang disiapkan oleh Lembaga Biblika Indonesia (LBI). Bahan yang ditawarkan berjudul Yesus Sahabat Seperjalanan Kita. Tersedia bahan pendalaman untuk umat berdasarkan usia dewasa dalam lingkungan/komunitas, remaja dan anak-anak. Dalam situasi pandemi Covid-19 dengan jumlah orang terpapar masih tinggi, patut disyukuri dan diapresiasi semangat umat untuk mengikuti pendalaman itu. Sebagian terbesar masih secara virtual, dengan jaringan (daring), belum dengan tatap muka.

Selama BKSN ini, Delegatus Kitab Suci Keuskupan Banjarmasin membantu umat Keuskupan (dan luar Keuskupan juga) untuk semakin mengakrabi Kitab Suci dengan mengajak umat, secara pribadi atau dalam keluarga, membaca sekali lagi Kitab Suci dengan berpedoman pada buku Paripurna Membaca Alkitab Dalam 312 Hari, Sebuah Panduan Praktis. Pusat Pastoral, Banjarmasin 2016. Buku tersebut diterbitkan pada Januari 2016 sebagai salah satu bentuk bantuan bagi umat untuk mengisi Tahun kedua ARDAS KEBAN Periode Pertama 2015-2019 yang bertajuk Tahun Kitab Suci dengan sasaran “semua keluarga katolik memiliki Kitab Suci, 80% umat katolik membaca Kitab Suci secara paripurna dan setiap komunitas atau stasi memiliki minimal dua (2) orang pewarta”.

 

 

  1. Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi Est, “tidak mengenal Kitab Suci sama dengan tidak mengenal Kristus”. Demikian ungkapan Santo Hironimus (340-420), seorang imam, pujangga Gereja yang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa aslinya (ibrani dan yunani) ke dalam bahasa latin. Kitab suci terjemahan itu yang disebut Vulgata selama ratusan tahun lamanya dipegang sebagai Kitab Suci resmi dalam Gereja Katolik sebelum tersedia terjemahan dalam bahasa-bahasa modern di berbagai negara. Santo Hironimus menegaskan dengan membaca Kitab Suci kita mengenal Kristus, kekuatan Allah dan hikmat Allah (1 Kor 1: 24).

BKSN adalah salah satu upaya Gereja Katolik Indonesia untuk membangun kebiasaan membaca Kitab Suci. Selanjutnya kebiasaan itu membangkitkan kecintaan dan kerinduan untuk semakin akrab dengan Kitab Suci. Kerinduan seorang pembaca Kitab Suci untuk menemukan Kabar Gembira dari sebuah kisah seringkali tidak tercapai atau dianggap tidak tercapai. Kurangnya pengetahuan ilmu tafsir dan keseganan terhadap “sucinya” Kitab Suci itu sering dipandang sebagai kendala untuk mendalami secara pribadi sebuah kisah atau perikop dalam Kitab Suci itu. Anggapan seperti itu justru dapat mengurangi keyakinan seseorang bahwa dirinya sedang  menghadapi Firman Tuhan dan bahwa Tuhan yang bersabda dalam Kitab Suci itu sendirilah yang membimbing dirinya menemukan Kabar Gembira itu. “Carilah di dalam kitab Tuhan dan bacalah….Roh Tuhan sendiri telah mengumpulkan mereka…” (Yes 34: 16).

Baca Juga:  Tahun Liturgi dan Tahun Politik: "Menjadi apakah anak ini nanti?" (Luk 1:66)

Membaca Kitab Suci adalah dialog dengan Allah. Allah yang mengambil prakarsa untuk menyapa pembaca. Roh-Nya memimpin seseorang untuk tergerak mulai membaca Kitab Suci yang menyampaikan cerita atau kisah apa pun juga. Dalam pembacaan Roh itu juga memberikan kekuatan, keberanian dan ketekunan untuk melanjutkan pembacaan walaupun si pembaca (rasanya) belum menangkap apa-apa tentang isi dan belum juga memahami pesannya. Roh itu pula yang menerangi hati dan budi si pembaca supaya TERBUKA bagi Sabda Allah yang sedang berbicara melalui teks-teks Kitab Suci tersebut.

Pembacaan harus dibarengi dengan sikap terbuka, polos, tanpa pretensi atau “tuntutan” apa pun perihal hasil atau buah pembacaan itu. Pembaca harus berani membiarkan imajinasi berjalan seraya fokus pada teks yang dibaca. Hindari “beban” bahwa sesudah membaca, segera akan menangkap pesan, apalagi tambahan pengetahuan tentang Kitab Suci khususnya tentang kisah yang dibaca. Sebaliknya ia harus membiarkan diri “berenang” dengan bebas dan nyaman dalam lautan tak bertepi misteri kasih dan kebaikan Allah yang tersimpan dan tersembul dari kisah yang dibaca itu. Bila seseorang membaca sebuah kisah biasa, membaca novel atau menonton sebuah film baru, dia belum mengerti jalannya cerita. Pastinya pesan cerita, novel atau film itu pun belum ditangkap seluruh dan seutuhnya dengan benar. Dan selesai membaca atau menonton pun belum tentu dia menangkap seluruh pesan.

Membaca kitab suci juga demikian. Dalam Kitab Suci ada tokoh, adegan dengan latar belakang, konteks atau detail maupun pesan yang belum dimengerti dari awal bahkan sampai akhir pembacaan. Namun itu bukan bagian paling penting dari membaca Kitab Suci. Seluruh pembacaan seharusnya merupakan suatu doa seperti yang diserukan oleh Samuel muda, kepada Tuhan, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3:10). Dan apa pun juga kesan dan pesan yang ditangkap, pembaca hendaknya diakhiri dengan doa seperti diucapkan Bunda Maria sesudah disapa oleh malaikat Gabriel pada saat menerima Kabar Gembira, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Inti kegiatan manusia dalam berdialog dengan Allah melalui pembacaan Sabda-Nya adalah sikap dan suasana teNANG, heNING, reNUNG (NANG-NING-NUNG).

 

  1. Membaca dan mendengarkan Sabda Allah dalam Kitab Suci pertama-tama berarti mendengarkan Sabda Allah, Yesus sendiri, yang sedang menyapa pembacanya. Sapaan itu adalah tanda kasih-Nya kepada umat-Nya. Tetapi dapat juga suatu teguran, “Barangsiapa Kukasihi ia Kutegur dan Kuhajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah” (Why 3:19). Di sinilah letak perbedaan besar membaca Kitab Suci dan bahan bacaan lainnya. (Itulah alasan terpenting mengapa dalam Perayaan Ekaristi tidak diperkenankan menggantikan bacaan Kitab Suci dengan sumber bacaan lain, misalnya Konstitusi suatu Tarekat Kebiaraan, surat edaran atau apa pun juga).
Baca Juga:  Waspada dalam Pengharapan pada Tahun Gereja Inklusif 2022

Berdialog dengan Allah berarti mempersilahkan Yesus Sang Sabda menyapa murid-murid-Nya supaya dalam hidup pribadi dan hidup bersama murid-murid Yesus semakin sepikiran dan seperasaan dengan Yesus Kristus (Flp 2:5) untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama. Semakin bergaul dengan Yesus semakin kita diubah menjadi semakin serupa dengan Yesus dalam cara berpikir, berperasaan, bersikap dan berperilaku. Dengan kata lain membuka diri terhadap kehadiran Yesus dalam pembacaan Kitab Suci merupakan langkah pertama sebuah PERTOBATAN. Tak mungkin membaca Kitab Suci tanpa menghasilkan kehidupan rohani yang semakin tumbuh berkembang dan membuahkan kebaikan. Dalam kehidupan sehari-hari sudah lazim bahwa seseorang menghadapi segala macam tantangan, kesulitan dan hambatan. Berbagai sikap dan reaksi muncul terhadap kenyataan itu. Beragam cara dan upaya ditempuh untuk mengatasinya. Tak seorang pun siap dan sanggup menanggung berbagai tekanan tanpa upaya untuk meringankan atau melepaskan diri daripadanya. Setiap orang merindukan kelepasan dari beban dan hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan.

 

  1. Langkah pertama pertobatan ialah menerima dengan ikhlas dan penuh syukur bahwa Allah mengasihi semua orang dan karenanya merelakan Anak-Nya hadir sebagai Sang Sabda di tengah-tengah manusia dalam wujud manusia, supaya tak seorang pun di antara manusia itu binasa (Yoh 3:16-17). Bila Allah menegur dan menghajar manusia dengan cobaan atau hukuman sekali pun, tujuannya tetap sama ialah supaya manusia tetap setia, bertekun dan berani tinggal dalam kasih Allah tersebut. “Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayanginya” (Amsal 3:12). Allah dalam diri Yesus Sang Sabda itu setiap saat menawarkan kepada manusia untuk menerima Diri-Nya sebagai makanan, rezeki kehidupan. Percakapan (= dialog) dengan Tuhan selalu mulai dari prakarsa Tuhan sendiri. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:20).

Allah selalu menawarkan kasih-Nya kepada manusia (“mengetuk pintu”). Sebelum manusia membuka pintu hatinya, tidak terjadi dialog, tidak ada sukacita kebersamaan (“makan bersama”). Sebaliknya, bagi yang membuka pintu dan mempersilahkan Yesus masuk ke dalam hidupnya, ada hadiah luar biasa, sukacita dan kegembiraan atas kebersamaan dengan sesama dan Yesus sendiri. Lebih dari itu manusia mendapat kepastian tentang hidupnya. Yesus sendiri sebagai Mesias (Juru Selamat) menjadi pusat kehidupan. Bahkan Dialah roti yang turun dari surga dan “siapa yang makan dari roti itu akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:51).

Membuka pintu bagi Yesus berarti menerima tawaran-Nya yang mau datang dan tinggal dalam hidup kita saat ini menuju kepada zaman mesianik, akhir zaman. Saat itu yang sedang terjadi sekarang ini juga, Tuhan akan menyediakan bagi segala bangsa  “suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk dengan anggur yang tua yang disaring endapannya; Tuhan akan mengoyakkkan kain berkabung; Ia akan meniadakan maut seterusnya; menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi” (Yes 25:6-8).

Baca Juga:  Pendalaman Kitab Suci di Paroki Santo Yusup, Kotabaru

Manusia yang berani, mau dan tetap membuka pintu kehidupannya bagi kehadiran Yesus Mesias Juru Selamat itu disebut pemenang. Mereka meninggalkan egonya yang sempit, tidak terikat pada kesenangan dan kenikmatan indrawi sesaat, tidak juga terbelenggu oleh keengganan untuk meninggalkan kepastian sementara di bumi ini yang terikat kepada harta kekayaan duniawi. Mereka disebut pemenang karena mereka menang atas godaan-godaan duniawi, kesombongan, kekayaan dan beragam macam dosa. Mereka pemenang karena mereka menerima Yesus, mempersatukan diri dengan Yesus Pemenang atas dosa, kematian dan berbagai cobaan. “Barangsiapa menang, ia akan kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why 3:21).

Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) Indonesia 2021 adalah Yesus Sahabat Seperjalanan Kita. Sahabat itu meyakinkan kita, “Tenanglah Aku ini, jangan takut” (Mat 14: 21). Benar, Dia adalah sahabat seperjalanan kita, dengan pengandaian bahwa kita pun setia, tekun, berani dan bangga mencamkan peringatan-Nya, “siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why 3: 22). Peringatan itu  muncul berkali – kali dalam kitab Wahyu (Why 2:27; 2:11; 2:17; 2:29; 3:6; 3: 13) dan dalam Injil Matius serta Markus (Mat 11: 15; 13:9; 13: 43; Mrk 7: 16).

Dengar-dengaran terhadap suara Roh Kristus yang berbicara melalui teks-teks Kitab Suci sebegitu ditekankan karena dengar-dengaran adalah tanda kesediaan manusia untuk berdialog dengan Tuhan. Tuhan selalu siap mendengarkan doa kita tetapi apakah kita selalu juga siap untuk mendengarkan dan melaksanakan pesan Tuhan? Apakah dialog dengan Tuhan dengan membaca Kitab Suci dan melalui doa-doa kita menjadi “kebiasaan” yang menyatu dengan hidup kita sehari-hari? Benarkah sebelum dan sesudah membaca Kitab Suci atau berdoa kita selalu berserah diri dengan berkata, “Berbicaralah, sebab hambamu ini mendengar” (1 Sam 3: 10). Senada dengan itu siapkah kita selalu berdoa, “Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu”? (Luk 1: 38).

Di zaman serba canggih dalam berkomunikasi dewasa ini, hanya satu alat komunikasi untuk berdialog dengan Tuhan, sederhana tetapi efektif, namanya doa. Doa merupakan saluran on line yang mempertemukan bumi dengan surga, dialog antara manusia berdosa rapuh dan terbatas dengan Allah yang mahatinggi, kudus dan abadi. Semoga seluruh hidup kita, setiap nafas kehidupan merupakan doa yang hangat, sederhana dan langsung tersambung kepada Bapa di surga melalui Yesus sahabat seperjalanan sejati. Patuhilah hukum-hukum-Nya (Ams 28: 7) dan kita akan diperkenankan mengambil bagian dalam kerajaan yang abadi Allah, Bapa-Nya di surga. Allah adalah Kasih, Deus Caritas Est.

  

Banjarmasin pada Pesta Santo Matius Rasul

Tanggal 21 September 2021

Petrus Boddeng Timang

Uskup Keuskupan Banjarmasin