PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS PADA HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-55

Saudara-Saudari terkasih,

Undangan untuk “Datang dan Melihat”, yang menyertai perjumpaan perjumpaan awal yang menyentuh antara Yesus dan murid muridNya, merupakan metode setiap komunikasi manusiawi yang otentik. Kita perlu keluar dari sikap puas diri dan mengatakan “kita sudah tahu”, untuk mengungkapkan kebenaran hidup yang menjadi sejarah. (bdk. Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 54, 24 Januari 2020). Kita perlu bergerak, pergi melihat sendiri, tinggal bersama orang- orang, mendengarkan kisah mereka dan mengumpulkan pelbagai pendapat atas realita yang akan selalu mengejutkan kita dalam beberapa aspek.

“Buka mata anda dengan takjub terhadap yang anda lihat, dan biarkan tanganmu merasakan kesegaran dan vitalitas, sehingga ketika orang lain membaca apa yang anda tulis, mereka akan menyentuh denyut kehidupan yang ajaib.” Begitu kata Beato Manuel Lozano Garrido, (1) ketika menasehati rekan-rekannya sesama wartawan.
Karena itu saya ingin mendedikasikan pesan tahun ini, pada panggilan untuk “datang dan lihatlah”. Pesan ini sebagai inspirasi bagi setiap bentuk komunikasi yang ingin makin jelas dan jujur: dalam dunia jurnalistik, di internet, khotbah harian Gereja dan politik atau komunikasi sosial. “Datang dan lihatlah”. Inilah cara iman Kristiani dikomunikasikan, sejak pertemuan-pertemuan pertama di tepi Sungai Yordan dan Danau Galilea.

“Menghabiskan Sol Sepatu”: Turun ke Jalan

Mari kita renungkan persoalan besar dalam pemberitaan. Ada suara suara yang sejak lama prihatin atas resiko digantikannya liputan investigatif yang original dalam surat kabar, siaran Televisi, Radio dan Website menjadi liputan berisi narasi tendensius. Pendekatan ini semakin kurang mampu menangkap kebenaran dari pelbagai hal dan kurang memahami kehidupan kongkrit banyak orang, apalagi mengerti fenomena sosial yang lebih serius atau gerakan positif di tingkat akar rumput.

Krisis industri penerbitan berisiko mengarahkan pemberitaan yang hanya dirancang di ruang redaksi, di depan komputer, di pusat-pusat berita, di jejaring sosial, tanpa pernah  keluar  ke  jalan. Tanpa “menghabiskan sol sepatu”, (turun ke jalan), tanpa bertemu orang untuk mencari cerita atau memverifikasi situasi tertentu dengan mata kepala sendiri. Jika kita tidak membuka diri pada perjumpaan, kita tetap tinggal sebagai penonton dari luar, meskipun inovasi teknologi mampu membuat kita seolah-olah  tenggelam dalam sebuah realitas luas secara langsung. Setiap sarana berguna dan bernilai hanya jika mampu memasukkan pengetahuan  atau berita  di   internet yang jika tidak maka tidak akan  tersebar, dan    hanya jika memungkinkan terjadinya pertemuan.

Injil Sebagai Berita

Kepada para murid pertama yang ingin mengenalNya, setelah  pembaptisan di Sungai Yordan, Yesus menjawab: “Datang dan lihatlah” (Yoh 1:39), Ia mengundang mereka berelasi denganNya. Lebih dari setengah abad kemudian, ketika Yohanes yang sudah sangat tua, menyusun Injil-Nya, ia mengingat beberapa detail “berita” yang mengungkapkan kehadirannya di tempat itu dan dampak yang dialami dalam hidupnya: “kira-kira pukul empat, di sore hari” (bdk. Yoh.1:39). Keesokan harinya -demikian Yohanes melanjutkan- Filipus menceritakan kepada Natanael perjumpaannya dengan Sang Mesias. Natanael menjawab dengan skeptis:  “Mungkinkah  sesuatu  yang baik datang dari Nazaret?” Filipus tidak berusaha meyakinkan dengan pelbagai alasan tetapi ia menjawab: “Mari datang dan lihatlah.”(Yoh 1: 45-46). Natanael pergi dan melihat, dan sejak saat itu hidupnya berubah.

Baca Juga:  Teknologi: Mudah untuk Yang Muda tapi Tidak untuk Yang Tua

Begitulah  iman   Kristiani dimulai dan dikomunikasikan: sebagai pengetahuan langsung, lahir dari pengalaman, dan bukan dari desas-desus:
“Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar benar Juruselamat dunia” kata orang- orang kepada Perempuan Samaria, setelah Yesus singgah di desa mereka (bdk.Yoh 4:39-42).
“Datang dan lihatlah” adalah metode mengenal realitas yang sangat sederhana. Inilah verifikasi paling jujur dari setiap pernyataan. Karena untuk mengetahui harus bertemu dan membiarkan orang di depan saya berbicara, serta membiarkan kesaksiannya sampai kepada saya.

Terima Kasih atas Keberanian Banyak Wartawan

Jurnalisme yang juga menceritakan realitas, menuntut kemampuan untuk pergi ke tempat di mana tak seorangpun pergi. Suatu gerak dan keinginan untuk pergi melihat sendiri. Sebuah rasa ingin tahu, keterbukaan dan gairah. Kita harus berterima kasih atas keberanian dan komitmen dari begitu banyak pekerja profesional: para wartawan, para pekerja film, editor, dan sutradara yang kerap bekerja dengan penuh resiko.

Berkat upaya mereka, sekarang ini kita mengetahui, misalnya penderitaan kaum minoritas yang teraniaya di beberapa tempat di dunia; laporan tentang banyak penindasan dan ketidakadilan atas orang miskin dan atas alam ciptaan, serta cerita tentang begitu banyak perang yang terlupakan. Jika suara-suara ini bungkam atau berkurang, bukan hanya pemberitaan yang akan rugi, tetapi terutama seluruh masyarakat   dan   demokrasi.    Situasi ini sungguh sebuah pemiskinan atas kemanusiaan kita.

Banyak   realitas   yang  terjadi di dunia, terlebih di  masa  pandemi semakin menguatkan ajakan pada dunia komunikasi untuk “datang dan melihat”. Sungguh ada  resiko  membicarakan tentang pandemi dan setiap krisis hanya dengan menggunakan cara pandang negara-negara yang lebih kaya dan dengan menggunakan “pembukuan ganda”. Misalnya, ada  permasalahan  tentang vaksin dan perawatan medis secara umum, yang berisiko mengecualikan orang miskin.

Siapa yang akan berbicara pada  kita tentang penantian panjang orang-orang yang    butuh   kesembuhan   di  desa-desa di Asia, Amerika Latin, dan Afrika yang dilanda kemiskinan? Demikian juga perbedaan sosial dan ekonomi pada tingkat global berisiko menentukan urutan distribusi vaksin anti- covid dan orang miskin selalu di baris akhir. Dan hak semua orang untuk sehat hanya ditegaskan sebagai prinsip tetapi tidak terlaksana secara nyata. Bahkan di dunia yang lebih makmur, tragedi sosial seperti  keluarga-keluarga  yang  tiba- tiba jatuh miskin, terluka dan berusaha mengatasi rasa malu mengantri di pusat- pusat Lembaga Caritas untuk menerima paket makanan. Kisah tentang mereka tidak banyak menjadi berita dan sebagian besar tetap tersembunyi.

Baca Juga:  Media Digital: Berkat atau Kutuk?

Peluang dan Jebakan di Website

Internet, dengan berlimpah ekspresi sosialnya, dapat meningkatkan kemampuan bercerita dan berbagi. Karena itu banyak mata makin terbuka atas dunia. Demikian juga  banyak gambar dan kesaksian akan terus dihadirkan. Teknologi digital memberi kita kemungkinan atas informasi tangan pertama dan tepat waktu dan itu sangat berguna. Ingatlah pada keadaan darurat tertentu dimana internetlah (website) yang paling pertama memberitakan dan menjadi layanan komunikasi utama bagi masyarakat. Sungguh sebuah sarana ampuh, yang menuntut kita
semua bertanggungjawab sebagai pengguna dan konsumen.

Kita semua berpotensi menjadi saksi atas peristiwa yang jika  tidak  diceritakan akan diabaikan  oleh media tradisional. Kita berkontribusi bagi masyarakat dengan memunculkan lebih banyak cerita positif. Syukurlah, berkat internet kita punya  kesempatan menceritakan apa yang  kita  lihat,  apa yang terjadi di depan mata dan berbagi kesaksian. Namun demikian sudah nyata bagi semua orang resiko dari komunikasi sosial yang tidak diverifikasi. Sejak lama kita sudah mengetahui bagaimana berita dan bahkan gambar mudah dimanipulasi, dengan pelbagai alasan. Kadang kadang hanya karena narsisme belaka.

Kesadaran kritis ini mendorong kita untuk tidak mempersalahkan sarana. Namun membuat kita semakin mampu membuat pembedaan dan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih matang dan mengetahui kapan harus menerima dan kapan harus menolak pesan/konten.

Kita semua bertanggung jawab atas komunikasi yang kita buat, atas informasi yang kita berikan, atas kontrol terhadap berita palsu dan bersama-sama melatih menyingkap yang benar. Kita semua dipanggil menjadi saksi kebenaran: untuk pergi, melihat dan berbagi.

Melihat secara Langsung Sungguh Tak Tergantikan

Dalam komunikasi, tidak ada yang bisa sepenuhnya menggantikan “melihat” secara pribadi. Beberapa hal hanya dapat dipelajari dengan mengalami. Kita tidak berkomunikasi hanya dengan kata kata, tetapi dengan mata, dengan nada suara, dan dengan gerakan.

Daya tarik kuat Yesus atas mereka yang berjumpa denganNya terletak pada kebenaran khotbah-Nya, tetapi efektivitas dari apa yang Ia katakan tidak terlepas dari tatapan, sikap dan bahkan keheninganNya. Para murid tidak hanya mendengarkan kata-kataNya. Mereka melihatNya berbicara. Memang, dalam diriNya – Sang Logos menjelma – Firman menjadi Wajah, Tuhan yang tidak terlihat memungkinkan diriNya dilihat, dirasakan dan disentuh, seperti ditulis Penginjl Yohanes. (Bdk. Yoh: 1:1-3). Kata-kata hanya efektif jika “dilihat”, hanya jika Anda terlibat dalam pengalaman dan dalam dialog. Oleh karena itu “datang dan lihatlah” sungguh sangat mendasar. Kita lihat betapa banyak kata kosong juga di jaman kita, dalam setiap bidang kehidupan publik, bisnis dan juga politik, ada begitu banyak orang yang fasih bicara tetapi kosong.

Baca Juga:  Zoominar Rosario Suci Maria dalam Keluarga

“Tahu bicara tanpa henti tetapi tidak menyampaikan apa- apa. Gagasannya laksana dua butir gandum dalam sekam, butuh satu hari untuk menemukannya dan ketika ditemukan sungguh tidak setimpal dengan usaha pencahariannya.”  [2]   Kata- kata tajam Dramawan Inggris juga berlaku bagi kita para komunikator Kristiani. Kabar baik Injil telah menyebar ke seluruh dunia berkat pertemuan antar manusia, dari hati ke hati. Semua orang, baik pria maupun wanita yang telah menerima undangan yang sama untuk “datang dan melihat”, benar-benar terpengaruh oleh sesuatu yang “lebih” manusiawi dalam tatapan, kata-kata dan gerak-gerik mereka yang bersaksi tentang Yesus Kristus.

Semua sarana sungguh bernilai. Sang komunikator hebat bernama Paulus dari Tarsus, seandainya sudah ada waktu itu,  pasti   akan  menggunakan  email dan media sosial. Namun orang-orang sezamannya justru terkesan atas iman, harapan dan cinta kasih Paulus, ketika mendengarnya berkotbah. Dan sungguh beruntung boleh ada bersamanya serta boleh menyaksikannya dalam sebuah pertemuan atau dalam percakapan pribadi.

Sambil melihat Paulus bertindak di manapun ia berada, orang orang sezamannya membuktikan sendiri betapa benar dan berbuah bagi kehidupan mereka, pernyataan keselamatan yang dibawa sang utusan Tuhan. Dan bahkan di mana sang rekan kerja Allah ini  tidak dapat dijumpai secara pribadi, para murid yang dikirimnya memberikan kesaksian tentang cara hidupnya dalam Kristus (Bdk1 Kor 4:17).

“Kita memiliki buku di tangan, tetapi fakta ada di depan mata”[3] Ungkapan ini dinyatakan Santo Agustinus ketika berbicara tentang pemenuhan nubuat yang ditemukan dalam Kitab Suci. Begitu juga Injil dihidupkan saat ini, setiap kali kita menerima kesaksian menarik dari orang-orang yang hidupnya telah diubah oleh perjumpaan dengan Yesus. Dan rantai pertemuan, yang mengkomunikasikan daya tarik petualangan Kristen ini sudah berlangsung lebih dari dua ribu tahun. Maka, tantangan yang menanti kita adalah berkomunikasi dengan menjumpai orang- orang di manapun mereka berada dan sebagaimana adanya.