Tema Natal yang Aktual

“Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan” (bdk.1 Ptr.1:22) menjadi tema yang diangkat oleh KWI dan PGI. (lihat tulisan Pesan Natal PGI-KWI). Pesan ini disampaikan para pemimpin gereja-gereja di Indonesia untuk memberi pesan bahwa Yesus yang lahir adalah penggenapan janji Tuhan dalam sejarah keselamatan. Saat ini Dia menjadi penggerak menghadapi situasi kehidupan bangsa: menghadapi permasalahan ancaman gelombang pandemi Covid-19 baru, kesulitan penghidupan dan situasi sosial ekonomi. Namun cinta kasih Kristuslah yang harus kita hidupi untuk menggerakkan persaudaraan. Persaudaraan yang dapat mengatasi halangan yang dihadapi saat ini.

Homili Bapak Uskup

Bapak Uskup Petrus Boddeng Timang menyampaikan homili malam Natal di Gereja Katedral Banjarmasin.

Sebagai selebran utama dalam misa malam Natal di Katedral Banjarmasin, Bapak Uskup Petrus Boddeng Timang membuka homili dengan penegasan bahwa kelahiran Yesus adalah peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi. Injil Lukas tentang kelahiran Yesus dibingkai dalam sejarah, tercatat dalam Kitab Suci maupun kitab-kitab sejarah zaman itu. Nubuat kelahiran-Nya telah disampaikan Nabi Yesaya dimana disebutkan sebagai Putera yang dianugerahkan kepada kita, lambang pemerintahan ada di bahunya dan orang menyebutnya Penasihat Ajaib Allah yang Perkasa. Siapakah orang itu? Dialah yang datang bagi umat manusia dalam kegelapan. Negeri kekelaman saat ini pun dapat digantikan dalam situasi negara dan dunia. Bapak Uskup mengilustrasikan bahwa kekelaman itu karena pandemi, adanya kekerasan dalam rumah tangga, tekanan pihak ekstrem, diskriminasi dan intoleransi dari pihak tertentu kepada sesamanya. Bencana alam yang kita alami menjadikan hidup kita ada dalam kegelapan. Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.

Dalam situasi sulit tidaklah aneh jika seseorang bertanya,”Dimana Allah?” atau “Kapan Dia bertindak untuk mengakhiri beban yang menindih umat manusia?” Semua pertanyaan itu bisa dijabarkan dalam diri kita. Simbolisasi kegelapan dan terang bisa ditangkap dalam perayaan ekaristi malam Natal. Kegelapan hidup manusia karena bermacam peristiwa dilihat sebagai aneka dosa manusia. Kegelapan itu sudah ditepis dan bersinarlah Terang. Walau redup atau kecil terang itu namun itulah Terang yang menghalau kegelapan hidup ini. Terang itu disebut dengan indah oleh Nabi Yesaya: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Baca Juga:  CARITAS dan Bela Rasa

Bapa uskup menutup homilinya dengan ajakan untuk menggalang persaudaraan dengan Yesus dalam iman, pengharapan dan kasih dan semakin hari semakin kuat dan erat. Mari bersama-sama, mulai dari keluarga kita masing-masing berjalan bersama dengan Yesus sebagai satu kesatuan dalam bimbingan Roh Kudus dalam terang yang cemerlang menuju rumah kita yang sejati. Perayaan malam Natal ini merupakan awal perjalanan hidup  baru, berjalan bersama, berbagi bersama dn saling menolong.

Pesan Natal para Gembala Paroki

Kita menimba banyak kekuatan dari intisari homili Natal para pastor yang telah menyiapkan dengan baik terhadap situasi umat di tempat mereka berpastoral, bahkan pesan universal kepada semua orang dari inspirasi kelahiran Yesus Kristus Sang Immanuel.

Pastor Ping Poto, MSF (foto Komsos LU)

Pastor Ping Poto, MSF memaknai Natal menjadi 3 hal: pertama Semangat Natal yang dahsyat hendaknya dihidupi sepanjang tahun sehingga harapannya dalam setahun ke depan kita menjalani kehidupan dengan semangat Natal, walau kadang kita menghadapi berbagai tantangan dan cobaan. Makna kedua kelahiran Yesus Kristus harus mampu merubah hidup kita dari hidup yang biasa-biasa saja di dalam iman menjadi sebuah hidup yang  luar biasa. Makna ketiga membawa pesan bagi kita bahwa kita harus “lahir” seperti Kristus  untuk membawa suka cita besar bagi sesama.

Pastor Edi Taran, MSC, membawakan renungan Natal di kanalnya: Yesus lahir di rumah yang dikotori oleh dosa dan kesalahan kita. Dia datang tinggal menjadi makanan rohani agar kita tidak lapar lagi. Dia datang menjadi cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan. Ragu cemas takut adalah hal yang manusiawi namun bangkitlah untuk membuka pintu hati kita, sediakan palungan yang nyaman dan lampin yang hangat. Dia datang membawa kehangatan iman kepada Allah, berharap penuh akan kasih yang selalu tercurah. Kita tetap melangkah mesti ada rasa lelah, terus mencari meski minim peluang, tetap mengetuk meski tidak ada yang membukakan. Dia akan menuntunmu dengan cara yang luar biasa. Dia adalah Bintang Kejora sejati yang menghantar kepada suka cita meski banyak tantangan.

Misa malam Natal di Gereja Kelayan.

Pastor Yohanes Susanto MSC menekankan agar umat memaknai kelahiran Yesus sebagai wujud kasih Allah yg sangat mencintai umatnya, dengan hadir dalam wujud manusia.

Baca Juga:  Peletakan Batu Pertama Gereja Stasi St. Anastasia, Napu

Pastor Iwan Yamrewaw, MSF menekankan bahwa semangat dan nafas dari Natal adalah kasih, yang diwujudnyatakan kehadiran Kristus Tuhan yang bersedia menjadi Manusia sama seperti kita, namun Dia rela hadir di tengah-tengah kita, untuk menyelamatkan kita dari dosa. Kehadiran Kristus yang membawa semangat Kasih hendaknya menjadi inspirasi kita sebagai manusia untuk mewujudkan dan membagi kasih tersebut kepada sesama di sekitar kita, sesuai dengan tema Natal tahun ini :“Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan”.