Membangun Umat Perdana

Setelah satu tahun menjalani karya pastoral di Stasi Mandam, Suster-Suster ALMA merasa perlu untuk melebarkan sayap mencari wilayah pelayanan yang belum dijangkau.  Akses jalan perkebunan sawit yang rusak, belum diaspal, berlumpur jika musim hujan dan berdebu jika musim kemarau, tak menghalangi langkah Suster Rince ALMA, Sr. Yuni ALMA dan Yohanes Rusdiansyah untuk berkunjung dan menyapa masyarakat di Muara Napu pada 19 September 2013.  Kunjungan tersebut diterima dengan baik oleh penduduk Napu yang sebagian besar suku Dayak yang bekerja sebagai petani. Waktu itu di desa Napu hanya ada 1 keluarga yang beragama Katolik, yaitu keluarga mama Butet, seorang bidan yang berasal dari Medan.

Setelah  kunjungan tersebut, Suster-Suster ALMA tergerak untuk mengajarkan membaca, menulis dan berhitung kepada anak-anak Napu. Maka ijin untuk mengajar pun dilayangkan kepada Kepala Desa setempat. Kepala Desa setempat mengijinkan dan bahkan mendukung kegiatan mengajar tersebut dengan memberikan tempat di balai desa. Anak-anak yang tempat tinggalnya jauh diantar jemput dengan pick-up oleh Suster-Suster ALMA.

Kunjungan Suster-Suster ALMA ke Napu

Beberapa bulan kemudian, para orangtua mulai ada yang tertarik untuk bergabung dalam Gereja Katolik dan bersedia dibina secara Katolik. Tanggapan warga tersebut mendorong para pastor, biarawan-biarawati serta tokoh-tokoh umat di Dekanat Timur untuk mengadakan pertemuan bersama para tokoh-tokoh adat dan pemerintah setempat. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk memperkenalkan diri secara resmi dan menjalin keakraban. Pada 2 Februari 2014, Gereja Katolik diberikan ijin untuk mengadakan Ibadat Sabda di Balai Desa dengan dibantu oleh umat stasi Mandam dan stasi Lalapin.

Kunjungan rutin dua kali seminggu pun terus dilakukan. Berkat semangat dan cinta yang besar, akses jalan yang sulit tidak menyurutkan perjuangan para pastor, suster, dan pelayan umat untuk menemukan mutiara yang indah. Pada Malam Paskah  2014, 5 KK yang terdiri dari 17 jiwa dibaptis. Umat perdana ini cukup aktif  dalam kegiatan menggereja walau mereka belum mengerti banyak tentang kekatolikan.

Dengan menjadi anggota umat Allah dalam Gereja Katolik. maka umat baru ini merasa terpanggil dan mulai memikirkan pembangunan gereja. Umat yang sudah dibaptis maupun para ketekumen bergotong royong membangun gereja karena selama ini mereka masih menggunakan Balai Desa.  Dengan keterbatasan ekonomi, mereka berjuang bersama para suster ALMA membangun tempat ibadat atau gereja yang sederhana dari papan kayu dengan ukuran 20×6, untuk tempat ibadat/Ekaristi dan untuk pembinaan-pembinaan sekaligus tempat menginap para petugas pastoral.

Gereja Santa Anastasia Stasi Napu: Menimba Semangat Seorang Misionaris Cilik

Anastasia Mesin

Gereja stasi yang dibangun tersebut kemudian diberi nama Santa Anastasia.  Nama tersebut diberikan untuk mengenang semangat seorang anak dari Mandam yang meninggal akibat kecelakaan ketika ikut kunjungan pastoral ke Napu pada 2 November 2014.

Baca Juga:  Pesta Nama dan Pelindung Utama Tarekat MSC

Setelah perayaan Ekaristi peringatan arwah orang beriman di Stasi Mandam, beberapa umat dan Suster-Suster ALMA bermaksud mengadakan pelayanan ibadat di Stasi Napu. Tiba-tiba, Anastasia dan beberapa temannya ikut dalam perjalanan pelayanan tersebut. Rupanya Tuhan mempunyai rencana lain dalam perjalanan misi dan pelayanan tersebut. Anastasia mengalami kecelakaan sepeda motor, tertabrak truk dan meninggal ditempat kejadian.

Anastasia Mesin adalah puteri pertama dari pasangan Yohanes Rusdiansyah dan Maria Goreti Indus. Kelahiran seorang anak putri pertama dalam keluarga ini, merupakan harapan besar bagi keluarga, karena satu-satunya anak putri yang lahir dari seluruh keluarga besar. Anastasia dikenal sebagai anak yang baik, sabar, penyayang, setia menjaga dan mendampingi adik-adik dalam kegiatan Sekami.

Anastasia tertarik menjadi Katolik ketika Suster-Suster ALMA mulai berkarya di Stasi Mandam. Setelah menjalani pembinaan sebagai katekumen bersama kawan-kawannya, Anastasia dibaptis pada Malam Natal 2012. Setelah Anastasia di baptis, ia menjadi rasul cilik yang membawa Kabar Baik kepada kedua orangtuanya untuk mengimani Yesus Kristus. Kabar Baik yang dibawanya mampu menggerakkan hati kedua orangtuanya untuk menjadi pengikut Kristus dalam Gereja Katolik. Akhirnya pada Malam Paskah 2013, kedua orangtuanya dibaptis oleh RP. Stanislaus Eylannor Beda, CM.

Yohanes selalu mendukung anaknya untuk mengikuti berbagai kegiatan rohani baik di stasi Mandam, Napu, Batulicin maupun Kotabaru. Anastasia mendampingi adik-adik minggu gembira di stasi dan membawakan tarian setiap kali ada perayaan besar seperti Natal, Paskah dan ulang tahun Paroki Batulicin.

Sementara itu, Yohanes Rusdiansyah mempunyai cita-cita supaya Gereja Katolik dikenal oleh banyak orang, terutama masyarakat Napu yang daerahnya boleh dikatakan masih tergolong desa terisolir. Harapan ini dapat terwujud. Beberapa masyarakat Napu memberi diri dibaptis dan bergabung dalam Gereja Katolik. Yohanes Rusdiansyah inilah yang membuka jalan dan merintis stasi di Napu.

Iman Diuji dalam Perjalanan Misi

Seiring dengan semakin bertambahnya masyarakat yang ingin belajar agama Katolik serta diperlukannya pendidikan agama Katolik di sekolah-sekolah, maka RP. Antonius Wahyuliana CM, RP. Jacques Gros, CM dan Suster-Suster ALMA membuat program  pelayanan ke Napu tiga kali dalam seminggu. Pelayanan tersebut meliputi pembinaan calon baptis, mengajar agama Katolik di SDN Napu dan ibadat pada hari Minggu sekaligus Sekolah Minggu sebelum ibadat atau Ekaristi.

Namun, peristiwa kematian Anastasia menjadi sebuah peristiwa yang cukup menantang karya misi karena Anastasia meninggal dalam perjalanan misi menuju stasi Napu. Banyak pihak yang mengambil kesempatan tersebut untuk mempersalahkan Gereja. Ada juga yang mengadu domba pihak keluarga dengan Suster-Suster ALMA. Bahkan beberapa calon baptis ketakutan menjadi Katolik karena takut mati.

Baca Juga:  CARITAS dan Bela Rasa

Suster-Suster ALMA yang bertugas di Mandam mengalami perasaan gundah: apakah ini akhir dari perjalanan misi di Mandam? Namun dengan kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi, Suster-Suster ALMA tetap mendekatkan diri dengan keluarga almarhum dan mengurus doa, misa pemakaman, dan lain-lain.

Kesadaran bahwa apa yang dilakukan di Mandam dan Napu adalah karya Tuhan dan hanya semata-mata untuk Tuhan rupanya mampu menggerakkan Suster-Suster ALMA untuk terus berjuang mengunjungi keluarga-keluarga dan melayani umat Stasi Napu, mengajar agama Katolik di SD. Perjuangan itu dilakukan dengan mencari jalan pintas dan melewati hutan sawit untuk menembus tempat pelayanan. Ketika hujan, mereka melalui jalan yang licin dan mesti turun untuk mendorong sepeda motor  karena masih trauma dengan peristiwa kecelakaan yang dialami Anastasia. Lama kelamaan, umat yang tadinya merasa takut menjadi Katolik kemudian mulai sadar bahwa semua orang juga akan mengalami kematian namun dengan situasi dan waktu yang berbeda.

Darah yang ditumpahkan oleh misionaris cilik Anastasia Mesin dalam perjalanan misi ke stasi Napu seakan telah menjadi pupuk bagi kesuburan perkembangan umat di stasi Napu. Di stasi ini, setiap tahun selalu ada baptisan baru. Kenyataan ini menyatakan rahmat berlimpah dari Tuhan dan membuka mata iman umat di Mandam serta Napu sehingga gereja stasi di Napu tersebut diberi nama pelindung Anastasia.

Kegembiraan dan Kegelisahan Gereja

Saat ini umat Katolik di Napu terdiri dari 30 KK, 20 KK di antaranya adalah masyarakat Dayak Meratus dan sisanya adalah pendatang. Keterlibatan dan rasa memiliki umat akan gereja di Napu cukup baik. Meskipun sederhana dan terbuat dari kayu, namun gereja Napu cukup terawat dan bersih. Setiap Sabtu sore anak-anak muda membersihkan gereja dan menghias altar gereja dan setiap minggu diadakan pembinaan bagi anak-anak (Sekami).

Namun di balik kegembiraan tersebut, ada juga keprihatinan. Beberapa umat tidak aktif lagi mengikuti misa.

Baptisan di stasi Napu

 

Berkah dari Ayam Bertelur di Meja Kreden

Situasi, pikiran dan perasaan manusia tak akan mampu membatasi kuasa Tuhan. Hal-hal yang dalam pikiran manusia menciutkan harapan, namun bagi  Sang Pencipta justru menjadi berkat. Manusia hanya bisa tunduk, pasrah dan memohon pada Tuhan Yang Maha Kuasa serta melakukan segala yang harus dilakukan sebagai Gereja-Nya. Selanjutnya Tuhanlah yang berkarya!

Baca Juga:  Keceriaan HUT RI ke-77 di Paroki Landasan Ulin

Roda misi terus berputar. Ketika Pastor Paroki Santo Vincentius a Paulo Batulicin, RP. Antonius Wayuliana, CM pindah tugas, tanggung jawab pelayanan di stasi Napu digantikan oleh RP. Puji Nurcahyo Yohanes Thomas Maria selaku Pastor Paroki yang baru. Ketika Pastor Gros, CM yang tinggal di Mandam ditarik ke Provinsialat CM di Surabaya, hadir RD. Yunus, seorang imam Diosesan dari Keuskupan Palembang yang tinggal dan berpastoral di wilayah Mandam bersama Suster-Suster ALMA.

Tahun 2018, Tim Pemberdayaan Dayak Meratus (PDM) Keuskupan Banjarmasin mulai memikirkan pembangunan gereja yang lebih permanen, menggantikan gereja yang ada. Pada waktu itu ada umat  yang menghibahkan tanah seluas 2 hektar untuk Gereja. Namun setelah Tim PDM meninjau langsung ke lokasi tanah hibah, ternyata letaknya kurang strategis, tidak berada di jalan utama. Tak lama kemudian ada umat yang menyumbang lahan ukuran 50m x 70m untuk gereja dan letaknya strategis. Jarak lahan dari gereja lama sekitar 500 meter. Maka Tim PDM bersama umat setempatpun kembali bahu membahu menyiapkan pembangunan gereja di lokasi tersebut. Ada yang mencari donatur, mencari bahan-bahan, merancang bangunan dan sebagainya.

Tahun 2020, seorang imam Diosesan dari Keuskupan Agung Semarang, RD. Antonius Budi Wihandono diutus berkarya ke Kesukupan Banjarmasin dan ditempatkan di wilayah Mandam, maka ia juga menangani pelayanan pastoral di Napu. Beberapa bulan berkarya di Keuskupan Banjarmasin, Pastor yang akrab disapa dengan Romo Budi atau Romo Wihong dan video-video homili maupun renungannya selalu ditonton oleh puluhan ribu penonton ini, menghebohkan jagat media sosial. Ia mengunggah video yang menggambarkan seekor ayam bertelur di meja kreden gereja Napu ketika dia akan mengadakan misa di situ. Video kejadian unik tersebut menjadi viral. Apalagi unggahan tersebut seakan mengobati kerinduan para follower Romo Budi di media sosial setelah beberapa bulan vakum mengisi konten.

Peristiwa viralnya video ayam bertelur itu pun tak disia-siakan ketua Tim Pemberdayaan Dayak Meratus, RD. Ignatius Allparis Freeanggono. Ketika dia menerima video tersebut, maka Romo Allparis menambahkan kiriman video rencana pembangunan gereja di Napu. Puji Tuhan! Dalam tempo tak kurang  enam bulan, banyak donatur dari berbagai daerah tergerak untuk memberikan sumbangan pembangunan gereja dan jumlahnya cukup untuk membangun gereja hingga selesai. Bersamaan dengan itu, pastoran di Mandam selesai dibangun sehingga tukang-tukang bangunan yang selesai bekerja di Mandam langsung dapat mengerjakan pembangunan gereja di Napu. Maka pada Rabu, 19 Mei 2021 diadakan pemberkatan peletakan batu pertama bagi pembangunan gereja di Napu oleh Mgr. Petrus Boddeng Timang.