Ketika lahan Kalimantan Selatan masih dipenuhi hutan pegunungan dan rawa, hiduplah sekelompok ular berkulit lorek. Binatang ini ditakuti oleh makhluk hidup lainnya karena memiliki bisa beracun yang mematikan. Jika mencari mangsa maka mereka akan mengharu dalam kelompok untuk membuat takut dan tak berdaya mangsanya. Tak heran binatang-binatang hutan menamai mereka ular haruan karena tingkah polahnya itu.

Namun walau mereka ditakuti, masih tetap ada juga yang ditakuti ular haruan, yakni Sang Dewa Api. Saat musim kemarau kering kawanan Dewa Api mengamuk melalap kawasan hutan rawa dan padang belukar dimana mereka tinggal.

Begitulah peristiwa kebakaran berulang terjadi! Bukan main takutnya kawanan ular haruan hingga mereka melarikan diri ke daerah yang lebih tinggi di kaki Gunung Kupang. Dewa Api dan pasukannya melalap seluruh semak belukar dan pohon-pohon merapat serta galam. Akhirnya kawanan ular haruan menjumpai sebuah rumah panggung di tepian hutan Gunung Kupang. Sang kepala ular haruan mengetuk-ngetuk pintu mohon belas kasihan dan perlindungan dari kejaran api.

Di rumah panggung itu tinggal sepasang suami isteri peladang. Namun sang suami sedang pergi ke hutan mencari gaharu. Isteri peladang yang sedang mengandung sangat ketakutan ketika tahu yang mengetuk pintu adalah sekawanan ular haruan!

“Tolonglah kami manusia, jika tidak kalian tolong matilah kami terbakar api.”

Mendengar teriakan minta tolong itu tergeraklah isteri peladang karena belas kasihan, dibukanya pintu rumah.

“Apakah yang bisa aku bantu?” kata isteri peladang dengan gugup. Sang kepala ular haruan segera menyahut,”Dapatkah ibu mengantar kami menemui Dewi Sungai Tabuk agar Sang Dewi menyelamatkan hidup kami?”

Isteri peladang itu menyanggupinya. Dengan berjalan susah payah ia mengantar ke pinggir sungai dekat hutan dimana Dewi Sungai Tabuk biasa ditemui.

Baca Juga:  Daftar ulang tahun Imam serta Biarawan/Biarawati di Keuskupan Banjarmasin Bulan Oktober 2021

“O Sang Dewi, bisakah engkau menolong agar kami tidak mati terkena amukan api?”

Sang Dewi menjawab,”Aku bisa menolongmu agar kalian bisa tinggal di dalam air sehingga Dewa Api takut mendekatimu.”

Penuh harap cemas sang kepala ular haruan bertanya,”Bagaimana caranya Sang Dewi?”

“Engkau kujadikan warga sungaiku. Bentuk tubuhmu akan kuubah menjadi ikan dan konsekwensinya kalian tidak lagi memiliki racun yang berbahaya. Hidup kalian terjamin di dalam sungai dan air gambut di banua ini.”

Tanpa pikir panjang ular haruan menyetujuinya agar keluarga dan keturunannya bisa selamat.

Sang Dewi Sungai Tabuk segera memerciki kawanan ular haruan dengan air sungai. Ajaib! Tubuh mereka berubah dari bentuk ular menjadi bentuk ikan yang panjang. Tubuh mereka tumbuh sirip di samping kepala, di punggung, di bawah perut sampai ekor. Kulitnya masih menunjukkan pola coret belang abu-abu. Namun untuk megingat asalnya maka bagian kepala ular haruan tidak berubah. Mereka sekarang menyandang nama ikan haruan alias ikan kepala ular.

Betapa gembiranya kawanan ikan haruan itu berenang di sungai. Terbebaslah mereka dari bahaya api. Sebagai ucapan terima kasih dan membalas budi ibu peladang yang sedang hamil itu, ikan haruan berjanji,”  Ibu peladang dan keturunanmu, apabila ibu melahirkan maka kami rela mengorbankan diri. Makanlah diri kami untuk membantu kesehatan ibu setelah melahirkan karena badan kami memiliki kemampuan menyembuhkan luka dan sakit. Tidak itu saja, apabila keluargamu menanam padi di sawah, maka kami akan menjaga sawahmu dari gangguan siput dan ulat yang merusak padimu.”

Begitulah sampai sekarang kita bisa mengingat kembali kisah ular haruan yang beracun menjadi ikan haruan yang rela menolong karena tahu membalas budi baik orang lain yang telah menolongnya. (oZo)

Baca Juga:  Menjadi Pengikut Kristus yang Sejati