Kesan RD. Antonius Budi Wihandono terhadap RD. Yohanes Tjuandi

RD. Antonius Budi Wihandono

Romo Antonius Budi Wihandono, Pr adalah orang yang mengenal Diakon Yohanes Tjuandi atau Johan secara dekat selama Johan menjalani masa diakonat di Stasi Mandam. Romo Budi bahkan mendapat tugas langsung dari Mgr. Petrus Boddeng Timang untuk mendampingi Diakon Johan.

Tim penyusun Buku Kenangan menemui Romo Budi di Pastoran Mandam, Sabtu (12/6/2021) malam. Saat itu, Diakon Johan sedang berada di Stasi Napu untuk tugas pendampingan anak muda. Berikut petikan wawancara dengan Romo Budi, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang sekarang berkarya di Stasi Mandam Paroki Batulicin.

Bagaimana Diakon Johan selama di Mandam?

Diakon Johan datang pada 26 Januari 2021. Dari Surat Keputusan (SK) Bapak Uskup, saya diminta untuk mendampinginya. Kalau mau dibuat sebagai kesimpulan yang pokok, Diakon Johan sangat diterima oleh umat di sini.

Sangat diterima dalam hal apa?

Pertama, dalam kepribadiannya. Umat menilai paling tidak dari beberapa tokoh umat, Diakon adalah pribadi yang dewasa. Yang dimaksud oleh umat, dia tidak usah terlalu banyak diberi nasihat dan sudah tahu apa yang harus dilakukan. Diakon termasuk orang yang memiliki kepedulian, tahu banyak hal yang tidak perlu diminta, tetapi berinisiatif menawarkan bantuan. Misalnya, kalau saya mau memberi rekoleksi, dia berinisiatif untuk memfotokopi bahannya, berinisiatif membersihkan kapel jika melihatnya kotor, dan mengganti galon air minum ketika habis. Pada dirinya, sifat-sifat kekanakan (merasa enak ataupun tidak enak, senang ataupun tidak senang) hampir tidak ada.

Dari sisi hidup sosial atau relasi, dia bisa bergaul dengan siapa saja, dengan yang tua, yang muda, dan anak-anak. Untuk dengan anak-anak, modelnya lebih banyak mengajar sampai anak-anak mendapat suatu ilmu. Di sini, tidak sedikit anak yang belum lancar membaca meskipun sudah kelas 4 SD. Diakon biasanya menawarkan diri untuk mengajari anak-anak. Dan pada saat atau momen tertentu, anak-anak diajaknya jalan-jalan.

Baca Juga:  ”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu.” (Yoh 15:9)

Dengan orang muda, inisiatifnya banyak dan kerap mengadakan pertemuan. Anak muda di Mandam yang tadinya tidak rutin pertemuan dibuat rutin pertemuan. Dalam pertemuan itu, Diakon biasanya menampilkan film-film yang memotivasi anak muda agar percaya diri dan tahan banting. Pertemuan dengan orang muda itu tidak hanya dalam satu paroki, tetapi juga lintas paroki. Dia sangat diterima oleh anak-anak muda. Pergaulan dengan orang tua juga tidak canggung. Orangnya entengan dan suka menawarkan hal-hal yang baik.

Dari sisi intelektual, Diakon jelas mampu. Kemampuan intelektual itu saya lihat cukup mumpuni karena dalam khotbah dia dapat membahasakan hal-hal yang tidak mudah dengan bahasa yang mudah diterima oleh umat. Untuk itu, jelas butuh kecerdasan. Diakon mampu menerjemahkannya sehingga anak-anak, orang muda, dan orang tua bisa paham.

Dari sisi pastoral, penggembalaannya dari pastoral liturgi seperti ibadah sudah bagus. Dia mencoba belajar banyak, dan juga cintanya pada umat dengan mengunjungi mereka yang kurang tersapa. Di awal tugas di Mandam, saya meminta Diakon untuk mendata umat, dan tugas itu diselesaikan dengan cepat. Dari sisi penggembalaan, saya sendiri tidak begitu mengkhawatirkannya. Semua sudah oke.

Tahbisan Diakonat Yohanes Tjuandi di kapel Seminari Menengah Santo Petrus Banjarmasin, 25 Januari 2021

Catatan khusus yang harus diperhatikan Diakon untuk perjalanan selanjutnya?

Lebih pada bagaimana nanti efektivitas dalam penggunaan barang-barang milik pribadi. Artinya, kalau membeli sesuatu harus dipikirkan, ini dibutuhkan atau tidak. Kalau memang dibutuhkan, itu dibutuhkan untuk jangka panjang atau hanya untuk sesaat. Kalau hanya untuk sesaat, lebih baik pinjam saja, tidak usah beli. Dalam istilah Jawa kalau membeli sesuatu jangan sampai muspro atau sia-sia.

Baca Juga:  Dari Seorang Biarawan Menjadi Rohaniwan

Kalau dalam pengelolaan harta benda, ya itu yang saya beri catatan. Apalagi kalau nanti ditugaskan di daerah-daerah seperti di Mandam ini, yang umatnya secara ekonomi masih kurang. Intinya, jangan mentang-mentang ada, tetapi sungguh berpikir dengan situasi sekitar, termasuk dengan rekan dalam komunitas pastoran. Hal-hal seperti itu harus dikelola dengan baik.

Seandainya nanti bertugas di daerah orang-orang kaya, pada saat tertentu kalau tidak berani mengatakan tidak, bisa saja terjerumus. Bagi seorang imam, hal-hal seperti ini sangatlah penting. Apalagi nanti kalau bertugas di daerah perkotaan yang begitu mudah dan nyaman. Kalau tidak hati-hati, begitu ada sedikit kesulitan akan mudah merepotkan umat. Lebih buruknya nanti bisa menjadi ”nesting”, yaitu mengumpulkan atau mengoleksi apa saja yang tidak begitu perlu.

Bagaimana keseimbangan hidup pribadi dan pastoralnya?

Saya kira Diakon ini tidak begitu suka dengan hal-hal yang tidak begitu berguna. Dari sisi kepribadiaan, saya tidak banyak melakukan teguran karena dia sudah punya ritme yang baik, yang menurut saya sudah pas. Seingat saya, dia tidak pernah mengeluh ketika bertugas melayani. Bahkan, ketika melakukan tugas yang berat. Saya juga selalu mengatakan padanya, dalam hal pastoral tidak ada senior dan tidak ada junior, tetapi adanya adalah sebuah aturan yang baik.

Diakon sepertinya punya ketertarikan ke Pemberdayaan Dayak Meratus (PDM), apakah diarahkan ke sana?

Saya sendiri dalam pendampingan tidak pernah memfokuskan pada satu hal. Di satu sisi, memfokuskan pada satu hal itu bagus, misalnya ke PDM. Tetapi di sisi lain, ada efek negatifnya. Nanti seandainya Uskup sama sekali tidak mempercayakan itu, bisa jadi ketika sudah menjadi imam mudah menyalahkan Uskup. Padahal, imam harus sangat terbuka dengan kebutuhan keuskupan. Dan yang tahu persis kebutuhan keuskupan itu adalah Uskup dengan segala psikologisnya.

Baca Juga:  Misa PW St. Bernadus, Abas Pujangga Gereja, 20 Agustus 2021

Bahwa Diakon punya ketertarikan, boleh saja. Tetapi justru saya mengatakan hati-hati. Karena yang dari Uskup itu harus dipahami sebagai penugasan dari Tuhan, yang bisa jadi sangat lain dengan interes pribadi. Maka, harus selalu dipahami ketika menjadi imam jangan pernah menonjolkan interes pribadi, tetapi selalu mengikuti apa yang menjadi kebutuhan keuskupan.

Pesan Romo untuk Diakon?

Jadilah imam yang baik dengan taat kepada Uskup. Dan jangan pernah berpikir sedikit pun mengenai kebijakan Uskup itu sesuatu yang buruk. Kebijakan Uskup itu jelas dari Roh Kudus untuk sesuatu yang baik. Kalau sedikit saja sudah mulai mempertanyakan kebijakan Uskup itu sudah keliru. (JY)