Renungan oleh: RP. Ambrosius, MSF.

Senin, 20 September 2021
PW. St. Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hadang

Ezra. 1:1-6
Luk. 8:16-18

 

Saudara/i yang terkasih…
Pelita adalah lampu kecil yang akrab dengan hidupku ketika masih kecil. Jika senja tiba, aku bergegas untuk mengambil pelita, memeriksa minyak tanah di dalamnya apakah masih cukup atau harus ditambah. Setelah semua Persiapan selesai, pelita dinyalakan dan diletakkan di atas kaki dian atau digantung di kawat agar menerangi seluruh ruangan. Walaupun nyalanya kecil, tetapi pelita mampu memberi terang bagi siapapun.
Hari ini, Yesus berbicara tentang pelita. Dia menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempat tidur atau menutupnya dengan tempayan, tetapi meletakkannya di atas kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah melihat cahayanya. Hal ini mau menegaskan bahwa pribadi kita masing-masing adalah pelita di tengah dunia. Orang dapat melihat cahaya hidup kita melalui tutur kata dan tindakan kita yang seturut teladan Kristus.

Saudara/i yang terkasih…
Apa yang diajarkan oleh Yesus dilakukan oleh Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang, para martir Korea. Mereka adalah pelita di tengah situasi Korea yang mencekam karena penganiayaan. Namun dengan iman yang teguh pada Kristus yang wafat dan bangkit, mereka tetap menyalakan pelita kasih bagi pertumbuhan Gereja di Korea.

Saudara/i yang terkasih…
Untuk menjadi pelita di tengah gelapnya dunia yang dipenuhi kekerasan, kebencian, dendam dan iri hati, kita harus siap sedia untuk memberikan dan mengorbankan diri agar terang kecil kita dilihat oleh sesama sehingga mereka pun melihat Terang Kasih Kristus yang sejati. Mampukah kita menjadi pelita di tengah dunia ini?
Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin

Baca Juga:  Caritas itu PSE dan PSE itu Caritas

Embun pagi – Mu-Sa-Fir