Konflik di Jantung Tanah Suci

Beberapa pekan terakhir ini tentu kita semua telah menyimak bagaimana perjalanan konflik antara Israel dan Palestina, yang telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kedua belah pihak.

Dari kiri ke kanan: Presiden Israel Shimon Peres, Paus Fransiskus, Patriarkh Bartholomeos I, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Foto oleh Paul Haring. Hak Cipta: © 2014 Catholic News Service

Malam itu, ketika sedang melaksanakan ibadah salat tarawihnya, sejumlah warga Palestina dikabarkan diusir paksa oleh polisi Israel. Peristiwa tersebut berlangsung di Masjid Al-Aqsa, pada Jumat, 7 Mei 2021.

Ketegangan di antara kedua belah pihak pun pecah di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Polisi Israel menembakkan peluru karet, yang kemudian dibalas oleh jemaah warga Palestina dengan berbagai macam benda.

Polisi Israel juga dilaporkan mempergunakan granat kejut untuk mengusir jemaah dan akibat insiden tersebut banyak orang dilaporkan terluka.

Kemudian polisi Israel melakukan penutupan kawasan Masjid Al-Aqsa dan hal tersebut membuat warga Palestina yang tinggal di sekitar lokasi tersebut menjadi meradang dan melancarkan aksi. Hal itu selanjutnya membuat polisi Israel mencabut blokade. Sebanyak 136 orang dilaporkan terluka dalam bentrokan itu.

Peristiwa tersebut merupakan satu dari rangkaian episode isu Masjid Al-Aqsa, sejak negara Israel berdiri pada 1948 silam. Entah mengapa episode demi episode terus berlangsung hingga kini, tanpa ada seorang pun yang tahu kapan rangkaian episode tersebut akan berakhir.

Beberapa hari terakhir pun banyak diberitakan oleh berbagai media massa yang ada bahwa pertikaian kembali pecah karena Israel mengancam akan melakukan pengusiran terhadap puluhan warga di kawasan Sheikh Jarrah.

Menurut Reuters, merujuk laporan dari kedua belah pihak, terdapat 205 warga Palestina dan 17 aparat keamanan Israel luka-luka dalam bentrokan yang berlangsung.

Sebagian besar warga yang tinggal di kawasan Sheikh Jarrah adalah orang Palestina, namun Israel mengklaim bahwa wilayah tersebut merupakan tempat suci di mana terdapat makam seorang imam agung Yahudi.

Sejarah Konflik Tak Berujung

Baca Juga:  Misa Harian Selasa Pekan Biasa X, 8 Juni 2021

Konon sejarah konflik di Yerusalem sudah dimulai sejak abad sebelum Masehi. Menurut catatan sejarah, Yerusalem merupakan salah satu kota tertua yang pernah ada di muka bumi. Kota ini berdiri sejak tahun 3000 Sebelum Masehi. Maka secara matematis, usia kota suci ini sudah mencapai 5000 tahun.

Konflik Israel – Palestina yang Tak Kunjung Usai (Sumber Foto: https://hot.grid.id/)

Pada 21 Mei 2021, Kompas.com mengabarkan dari markas besar PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) terkait isu terkini Israel – Palestina. Dalam laporan tersebut Menteri Luar Negeri Palestina Riad Al-Maliki dan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat dan PBB Gilad Erdan, keduanya sama-sama menuduh bahwa bentrokan yang berlangsung beberapa waktu terakhir sebagai “genosida”.

Adapun pengertian genosida menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras.

“Seluruh dunia tetap diam dan menutup mata terhadap genosida seluruh keluarga Palestina,” kata Menlu Riad Al-Maliki dikutip dari AFP.

Namun Duta Besar Israel untuk AS dan PBB, Gilad Erdan, tidak terima negaranya disebut demikian dan balik menuduh.

Duta Besar Israel menuding Hamas tidak ada bedanya seperti Nazi yang ingin melakukan genosida pada orang-orang Yahudi. “Kami melihat upaya untuk menciptakan kesetaraan moral yang salah,” kata Erdan.

Roket-roket dari Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Palestina telah merenggut 12 nyawa di Israel, termasuk satu anak, satu warga India, dan dua warga Thailand. Sementara itu serangan Israel di Gaza menewaskan 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak dan 1.900 orang luka-luka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Sekitar 120.000 orang dikabarkan mengungsi, menurut otoritas Hamas. “Bagaimana kekuatan pendudukan berhak mempertahankan dirinya sendiri, ketika seluruh rakyat di bawah pendudukan dirampas hak yang sama?” kata Menlu Palestina tentang klaim Israel atas pembelaan diri. “Mari kita hentikan pembantaian ini,” pungkas Riad Al-Maliki.

Jejak Takhta Suci Tawarkan Rekonsiliasi

Tanah Suci sampai kini masih tetap menjadi sorotan dunia internasional. Apalagi tragedi kemanusiaan yang melibatkan Israel dan Palestina tak kunjung berakhir. Unjuk kekuatan militer dari kedua belah pihak tetap berlangsung dari waktu ke waktu hingga kini. Persis seperti apa yang kita saksikan melalui tayangan beragam media yang ada.

Dari kiri ke kanan: Presiden Israel Shimon Peres, Patriarkh Bartholomeos I, Paus Fransiskus, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Foto oleh Paul Haring. Hak Cipta: © 2014 Catholic News Service

Balada ratap dan tangis pun menjadi tontonan yang berhasil menghadirkan kemirisan di hati kita semua, sebab ada begitu banyak warga sipil – khususnya kaum wanita dan anak-anak, yang menjadi korban dalam serangkaian konflik yang seolah-olah tak berujung pangkal ini.

Baca Juga:  Tahun Liturgi dan Tahun Politik: "Menjadi apakah anak ini nanti?" (Luk 1:66)

Dalam kepemimpinan Paus Fransiskus, Takhta Suci pun pernah menawarkan rekonsoliasi kepada kedua belah pihak yang selama ini bertikai. Dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan di Taman Vatikan pada 8 Juni 2014 silam.

Kala itu Bapa Suci berujar demikian, “Panggilan untuk menciptakan perdamaian butuh keberanian, melebihi peperangan. Inilah panggilan untuk berani mengatakan ‘ya’ tanpa konflik, ‘ya’ berdialog dan menghentikan kekerasan, ‘ya’ bernegosiasi dan menghapus permusuhan, ‘ya’ menghormati kesepakatan dan menolak provokasi, ‘ya’ bersikap tulus dan tidak bermuka dua. Semua itu butuh keberanian, daya juang dan keuletan,” tegas Paus seperti dilansir news.va dalam Hidupkatolik.com.

Pada pertemuan tersebut hadir Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Shimon Perres, Paus Fransiskus, dan Patriarkh Bartholomeos I. Di Taman Vatikan mereka bertemu dan berdoa bersama bagi perdamaian. Perjumpaan tersebut menjadi ajang mohon damai berdasarkan tiga tradisi kepercayaan monoteis.

Baik Israel maupun Palestina memiliki tradisi keagamaan yang bervariasi. Umat Katolik ada di dua negara itu. Begitupun Protestan, Orthodoks, Islam dan Yahudi. Jika mendasarkan diri hanya pada nama dan cara berpakaian, orang tak akan bisa membedakan agamanya.

Pertemuan di Vatikan 7 tahun yang lalu tersebut sebenarnya hendak menempatkan perbedaan agama sebagai pintu masuk seruan damai. Mereka memiliki jejak yang sama sebagai keturunan Abraham. Relasi persaudaraan asali ini secara apik dibingkai Bapa Suci untuk menggulirkan “ide perdamaian.” Akar tradisi monoteis menjadi titik pijak mendekatkan yang berjauhan dan merangkul erat sebagai saudara. “Tak ada lagi peperangan dan beranilah menjadi saudara satu sama lain,” seru Bapa Suci Paus Fransiskus.

Dalam situasi demikian jelaslah bagi kita bahwa Bapa Suci ingin “memerangi” kekerasan yang merajalela di Tanah Suci. Format doa tak lain adalah cara berwawan hati agar dijauhkan dari intrik politik. Pendekatan spiritual ini bertolak pada keyakinan bahwa kekuatan doa mampu memberikan daya ubah bagi siapa pun juga.

Baca Juga:  Pelayanan Penuh Kenangan di Mandam

Tentu para pemimpin yang menghadiri pertemuan di Taman Vatikan saat itu sama-sama mempunyai harapannya agar kiranya tembok perseteruan yang keras dan dingin selama puluhan tahun mampu diruntuhkan. Usaha-usaha demikian sudah barang tentu tidak bisa terjadi dalam waktu sekejap. Namun momentum doa perdamaian tersebut seolah menjadi gugatan nurani pemimpin Israel dan Palestina untuk mengikat “tali persaudaraan” dan “memangkas duri-duri kebencian” masa silam.

Saat melakukan kunjungan ke Maroko, Bapa Suci Paus Fransiskus bertemu dengan Raja Mohammed VI. Pertemuan itu menghasilkan deklarasi bersama yang ditandatangani keduanya pada 30 Maret 2019 lalu.

Inti dari deklarasi tersebut adalah meminta pengakuan dunia internasional untuk menghormati karakter unik dan sakral dari Kota Yerusalem yang berada di kawasan Palestina. Kota Yerusalem merupakan warisan umum kemanusiaan dimana ketiga agama monoteistik bebas untuk beribadah.

“Kami menganggap penting untuk melestarikan Kota Suci Yerusalem/Al-Quds Acharif (bahasa Arab) sebagai warisan umum kemanusiaan, dan terutama para pengikut ketiga agama monoteistik, sebagai tempat pertemuan dan simbol koeksistensi damai di mana saling menghormati dan dialog dapat dipupuk,” demikian bunyi kutipan deklarasi itu.

“Yerusalem adalah kota yang unik. Kota Suci bagi orang Yahudi, Kristen, dan Muslim, di mana tempat suci untuk setiap agama dihormati, dan memiliki panggilan khusus untuk perdamaian,” ujar Paus Fransiskus seperti dilansir Catholic News Service dalam Hidupkatolik.com.

“Saya mengikuti peristiwa yang terjadi di Yerusalem saat ini,” ujar Paus Fransiskus melalui akun Twitter pribadinya @pontifex pada 9 Mei 2021. Selanjutnya Bapa Suci mendoakan agar Yerusalem tidak lagi menjadi tempat lahirnya kekerasan.

Paus Fransiskus juga meminta agar setiap pihak menyetop tindakan kekerasan terhadap satu sama lain. “Kekerasan hanya melahirkan kekerasan lagi. Hentikan semua bentuk kekerasan,” ucap Paus seperti dikutip Pikiran-Rakyat.com.

Banjarmasin, pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Minggu, 30 Mei 2021
Oleh : Mgr. Petrus Boddeng Timang (Uskup Keuskupan Banjarmasin)