Wawancara dengan Stefanus Kasma, Ketua Presidium PMKRI Cabang Banjarmasin Sanctus Agustinus

Pemerintah saat ini berusaha mendongkrak rasa nasionalis dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional ke-113 dengan tema “Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!”. Tujuan luhurnya memelihara, menumbuhkan, dan menguatkan semangat gotong royong sebagai landasan melaksanakan pembangunan dan selalu optimis menghadapi masa depan, untuk mempercepat pemulihan bangsa dari pandemi Covid-19.

Namun bagaimana dengan respon kaum muda, yang sekarang dikenal dengan Generasi Millenial?

Sebuah situs Alvara-Strategic.com mengungkapkan bahwa para peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir antara 1980 s.d. 2000-an sebagai generasi millennial. Generasi muda masa kini berusia dikisaran 15 – 34 tahun. Hasil survei yang dilakukan Alvara Research Center tahun 2014 menunjukkan millenial usia 15 – 24 tahun lebih menyukai topik pembicaraan yang terkait musik/film, olahraga, dan teknologi. Sedangkan yang berusia 25 – 34 tahun lebih variatif, termasuk di dalamnya sosial politik, ekonomi, dan keagamaan. Konsumsi internet generasi millenial jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok penduduk yang usianya lebih tua, dan menunjukkan adanya ketergantungan.

PMKRI mengambil bagian dalam peduli musibah dampak banjir Kalsel.

Ventimiglia kali ini mencoba menggali dari seorang anak muda, Stefanus Kasma, Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Banjarmasin, perihal respon kaum muda memaknai peristiwa Kebangkitan Nasional.

Menurut Stefanus, Untuk menanggapi Kebangkitan Nasional yang pertama adalah bagaimana cara kita memaknai Kebangkitan Nasional itu sendiri. Kita memaknai dengan memperbaiki diri kita sebagai generasi muda dalam menghadapi era digital dalam perkembangan zaman, sehingga kita bisa melewati masa-masa sulit ini. Sebagai Kaum muda dan mahasiswa kita terus belajar dan meningkatkan prestasi dan membangkitkan persatuan, kesatuan khususnya di dalam kelompok mahasiswa. Tidak lupa sejarah nasional.

Dialog Publik Musibah Awal Tahun di Banua

Cara pandang yang dibawa Stefanus Kasma rupanya sudah terbentuk dari perjalanan mengikuti berbagai kegiatan di organisasinya. Menyangkut sebuah pilihan, dimana pada mulanya ia tertarik untuk mendapatkan banyak teman dan pengalaman. Ia bersyukur karena menemukan bahwa PMKRI menjadi wahana pengkaderan, ada pendidikan formal maupun non formal yang menekankan benang merah untuk dimiliki setiap kader: intelektualitas, fraternitas (rasa persaudaraan) dan kristenitas.

Baca Juga:  Amang Pandir: Ventimiglia Digital

Stefanus tidak menampik situasi yang sekarang dihadapi oleh kaum muda, yang lebih suka mengurus keperluan mereka sendiri, mungkin dianggap kurang peduli terhadap lingkungannya, lebih senang di zona nyaman. Saya merasakan sedikit kaum muda atau mahasiswa yang terjun ke masyarakat, menyuarakan suara masyarakat. Lebih suka kuliah saja.

Aksi penggalangan dana musibah bencana NTT dan NTB

Apa penyebab situasi seperti itu? Yang utama adalah perlu dorongan orang tua, dari pemerintah membuat kesempatan untuk diskusi dan membuka wawasan pemuda, menumbuhkan rasa cinta dan semangat, keluar dari zona nyaman. Harus banyak disuarakan dan diakomodir.

Lalu apa solusi yang bisa ditawarkan? Media yang menjadi wadah bagi kaum muda sudah banyak, sepertiinya harus ada dorongan, termasuk dari gereja, memberi panggung. Kaum muda tidak dilihat sebelah mata, harus dipedulikan, tidak diabaikan.

Situasi nasional atau kedaerahan, terutama issue politik selalu ramai. Ada respon yang bertentangan antara yang pro dan kontra. Bagaimana PMKRI menyikapinya?
Tentu terkait hal tersebut, kita harus mengkaji dulu, tidak langsung mengkritik. Terkait tanggapan terhadap berita dan media sosial yang berkembang, PMKRI harus kritis terhadap berita-berita tersebut (hoax atau dianggap serba benar). Jika berita benar kita dukung jika salah kita koreksi, kita harus berani.

Apa yang menjadi pusat perhatian kaum muda di PMKRI Cabang Banjarmasin?

Diskusi terbaru yang diangkat bersama adalah dampak ekologis dari kejadian banjir yang melanda Kalsel. Dibahas antar kelompok mahasiswa. narasumber dari setiap kelompok: pemerintahan, aktivis lingkungan (5 pemateri) dengan OKP Kelompok Cipayung Plus kota Banjarmasin ( PMKRI, GMKI, GMNI, HMI, PMII, IMM, KAMMI, KMHDI, HIKMAHBUDHI) dengan tajuk Dialog Publik pada Februari 2021. Kegiatan bulan Juni ini adalah diskusi Dampak Ekologis, tgl 23-27 Juni 2021 akan dibawa dalam pertemuan PMKRI dalam Konferensi Study Regional: Regio Kalimantan tgl 23-27 Juni 2021 di Palangka Raya.

Baca Juga:  Kebaikan Allah melalui Ayam Bertelur di dalam Gereja

Kegiatan yang dirancang tentu harus diikuti dengan aksi kegiatan eksternal misalnya bakti sosial: bantuan banjir di Kabupaten Batola, mengadakan penggalangan dana, pembelajaran di Sekolah Bawang, diskusi2, bantuan dari cabang2 pMKRI dari seluruh Indonesia. Difasilitasi FKUB organisasi massa kepemudaan lintas agama diajak membangun forum kerja untuk membangun solidaritas dan toleransi, memahami situasi setiap kelompok umat beragama dengan mengunjungi rumah ibadah masing-masing serta bakti sosial bersama.

Bagaimana jika orang muda memotivasi dirinya?

Kita tidak bisa bertindak sendiri jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak. Berilah kami ruang, alangkah baiknya diberi fasilitas. Anak muda perlu mendapatkan motivasi diri sebagai pribadi, meningkatkan kapasitas dengan prestasi, menumbuhkan budaya belajar, dan lebih menumbuhkan kesadaran dalam menjaga keutuhan NKRI. Guru sekolah memberikan dorongan kepada siswa, misalnya pembelajaran di mata pelajaran tertentu (PPKN) sehingga rasa semangat, kesatuan bisa tumbuh. Sekarang anak muda ditantang untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. Guru memberi semangat juang kepada siswa, kampus memberi kesempatan diskusi untuk membuka komunikasi, membuka forum dan membuat aksi, turun ke masyarakat lewat kegiatan sosial. Teori dan praktek harus ada. Jika tidak ada aksi percuma saja.

Apa yang menjadi harapan dan peran kaum muda saat ini?

Harapan sebagai orang muda dan harapan bangsa yang pertama adalah menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan. Lebih sering komunikasi dalam diskusi untuk issue-issue aktual, persatuan, kesatuan, intolerensi, berita hoax, memberi solusi-solusi supaya tak terjadi perpecahan, memerangi narkoba sebagai bahaya utama kaum muda. (oZo)