“Prinsip mendampingi Orang Muda Katolik (OMK) ialah “masuk melalui pintu mereka, keluar melalui pintu kita”.

Pada Awalnya

OMK Maria Bunda Karmel dahulunya bernama OMK Santo Yohanes , mengikuti nama awal wilayah gabungan Sebamban Raya sebelum pemekaran. Alasan mendasar pergantian nama dan menjalankan kegiatan sendiri karena jarak yang jauh dengan OMK induk (Paroki Stella Maris Sungai Danau). Rutinitas kegiatan yang dijalankan antara lain setiap malam minggu mereka berkumpul di gereja untuk berdoa Rosario. Selain di gereja, mereka juga berdoa di rumah masing-masing anggota secara bergiliran dan didampingi oleh pendamping yang ditentukan. Pada waktu itu, Pastor Bosco O.Carm selaku Pastor Rekan Paroki Sungai Danau, dan anggota Dewan Wilayah menugaskan Ignasius Suka untuk mendampingi OMK. Ada kegiatan rekoleksi dan rekreasi bersama yang dilaksanakan di Pantai Rindu Alam sekaligus diadakan pemilihan pengurus OMK Santo Yohanes. OMK dengan kepengurusan baru ini semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan liturgi dan kegiatan lain yang membutuhkan peran serta OMK. Meskipun menjalankan kegiatan secara terpisah dari OMK induk, OMK St. Yohanes tetap ikut bergabung dalam setiap kegiatan Dekanat Timur atau kegiatan-kegiatan dari Komisi Kepemudaan Keuskupan Banjarmasin. Pasang surut kegiatan dan keaktifan mewarnai perjalanan OMK St. Yohanes di masa pendampingan Pastor Bosco, O.Carm hingga beliau berpindah tugas di tempat yang baru.

OMK Paroki Baru

Setelah secara resmi terpisah dari Paroki Stella Maris karena pemekaran paroki, maka nama pelindung OMK berganti menjadi OMK Maria Bunda Karmel mengikuti nama pelindung paroki dan pembinaan OMK ditangani Pastor Paroki, RP. Mento, O.Carm.

Kegiatan pertama yang digalakkan Pastor Mento adalah mengajak beberapa OMK untuk bincang-bincang sekaligus rekreasi. Pastor memotivasi mereka untuk mengajak teman-teman dalam kegiatan berikut, sekaligus mengadakan pemilihan pengurus baru. Pengurus baru menyepakati kegiatan pertemuan malam minggu yakni kegiatan Lectio Divina dan Rekreasi, dimulai jam 18.30 sampai jam 22.00 WITA. Kegiatan Lectio Divina diawali dengan penjelasan tentang lectio divina dan prakteknya. Kegiatan ini dahulu pernah dilaksanakan Rm. Mento bersama OMK di paroki-paroki tempatnya berkarya dan hingga kini masih tetap dijalani.

Lectio Devina OMK MBK

Melalui kegiatan lectio divina ini, Pastor Mento mengajak OMK untuk aktif berdoa dengan cara membaca dan merenungkan Sabda Tuhan melalui Kitab Suci.  Kegiatan ini merupakan tradisi Gereja Katolik untuk membantu umat beriman dalam membangun persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” dari kata Latin yang artinya “bacaan”. Maka lectio divina berarti bacaan ilahi atau bacaan suci. Empat hal dalam proses lectio divina ialah:

Baca Juga:  Hidup dari Iman Abraham

1. Membaca (lectio), yang diumpamakan sebagai perkenalan,

2. Meditasi (meditatio) diumpamakan sebagai pertemanan,

3. Berdoa (oratio) sebagai persahabatan,

4. Kontemplasi (contemplatio) sebagai persatuan dengan Tuhan.

Butuh waktu yang cukup untuk membawa dan membiasakan OMK dalam kegiatan rohani ini, kata Pastor Mento. Kegiatan ini, telah berlangsung selama setahun sejak diresmikan, sempat terhenti karena pandemi Covid-19 namun kini berjalan kembali dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Pastor Mento melihat ada banyak perkembangan yang terjadi dalam wadah OMK secara umum dan dalam diri pribadi setiap OMK khususnya. Gereja mulai mempercayakan mereka tugas koor, lektor dan pemazmur dalam misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, pada Minggu 6 Juni 2021. Sehari sebelumnya, Sabtu sore, mereka membersihkan gereja, mendekorasi altar, latihan koor dan mazmur dengan diiringi musik orkes kreativitas OMK. Alat-alat musik disiapkan paroki dan Pastor Mento mendampingi mereka dalam latihan dan berbagai persiapan.

OMK MBK bersama Pastor Mento (berdiri tengah kaos hitam) setelah berkegiatan.

OMK Mengambil Peran

Pada misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tahun ini, Paroki Maria Bunda Karmel belum mengadakan kegiatan penerimaan Komuni Pertama, baru akan dilaksanakan Juli 2021. Suasana misa berlangsung meriah dengan peran serta kurang lebih 25 OMK yang ambil bagian dalam koor, mazmur dan menghias altar, menimbulkan rasa bangga dan mendapat dukungan dari orangtua masing-masing OMK dan umat pada umumnya.

Dalam kotbahnya, Pastor Mento mengatakan, “Prinsip utama mendampingi orang muda Katolik ialah “masuk melalui pintu mereka, keluar melalui pintu kita”. Prinsip ini mengacu pada sebuah adaptasi yang total. Banyak pendamping memilih mundur karena tidak mampu mendampingi orang muda karena berhadapan dengan kompleksitas karakter. Kalau kita mau masuk ke sana, kita harus meninggalkan dalam tanda kutip, apa yang disebut dengan istilah “status sosial atau gelar”. Kadang kala embel-embel itu yang membuat , anak-anak muda susah menerima dan tidak betah. Misalnya saya sebagai Pastor, jika saya ada bersama mereka dan tidak bisa berbaur dengan “kemudaan” mereka, maka mereka akan merasa sungkan, merasa canggung, lalu menghindar. Kita mesti bisa mengatasi rasa tidak nyaman, rasa tersinggung dan amarah ketika menghadapi mereka. Nah…setelah benar-benar diterima dan merasa nyaman, di sana kita bisa belajar banyak tentang mereka. Kemudian misi yang akan kita laksanakan akan mudah dijalankan. Saya ajak mereka rekreasi dulu, bersenda gurau, bermain musik dan menyanyi, masuk dapur rekaman dan membuat album rekaman dan setelah itu mengajak mereka untuk rajin berdoa, setia ikut Misa Minggu di Gereja dan kegiatan rohani lainnya. Kemudian rekaman kegiatan di-share ke media sosial untuk menggugah hati orang muda yang lain dan juga orang tua yang masih membatasi mereka karena alasan tertentu. Kita mulai melihat, membaca dan menemukan bakat dan aspirasi mereka untuk sebuah kebaikan bersama”.‌

Baca Juga:  Sosialisasi Penyalahgunaan Narkoba di Paroki Katedral Banjarmasin

Della Marcelina Susanty, salah satu OMK yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan OMK seperti Jambore OMK se-Dekanat Barat- Dekanat Timur, dan juga sebagai Pemazmur mengatakan dalam wawancara melalui media WhatsApp, “Selama mengikuti kegiatan OMK, saya menjadi orang yang lebih percaya diri. Tidak ada halangan apapun bagi saya untuk mengikuti kegiatan OMK. Orang tua selalu mendukung saya dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, khususnya kegiatan rohani yang berkaitan dengan Gereja. Saya berharap semoga OMK kita lebih kompak, sehingga lebih berkembang dan bisa lebih aktif dan ikut berpartisipasi dalam tugas-tugas gereja.”

Sebelum berkat penutup, Pastor Mento menegaskan kembali misinya dalam membangun iman dan fisik Paroki MBK Sebamban Raya,“Saya berharap 10 sampai 20 tahun ke depan bisa mendengar cerita yang indah tentang kemajuan iman dan umat Paroki Maria Bunda Karmel Sebamban Raya. Mungkin nanti adik-adik OMK ini, menjadi Dewan Pastoral Paroki menggantikan Pak Marno dan kawan-kawan…” Misa yang berlangsung meriah ini diakhiri dengan lagu “TUHAN SUMBER GEMBIRAKU” dari Madah Bhakti nomor 477.