Permenungan dalam obrolan dengan umat – oleh RD. Ign. Allparis Freeanggono

Sebagai pastor di suatu paroki, saya selalu berusaha menyapa dan menjalin komunikasi yang baik dengan umat. Dengan menjalin komunikasi, saya jadi mengenal umat yang rajin misa atau terlibat dalam kehdupan menggereja. Namun sebaliknya, ketika ada umat yang sudah lama tidak saya temui dalam misa atau kegiatan, baik di gereja maupun stasi, saya merasa “kehilangan.” Memang ada 1001 alasan orang untuk terlibat dalam hidup menggereja. Namun ada juga 1001 alasan untuk tidak terlibat dalam hidup menggereja.

Biasanya, ketika bertemu dengan umat yang sudah lama tidak ke gereja, spontan muncul pertanyaan saya pada mereka, “Hai, kok lama tidak ke Gereja. Kemana saja?” Jawabannya pun beragam.

Ada yang menjawab, “Saya sibuk, Romo.”

Ada juga yang menjawab, “Saya tidak mendapat ijin dari perusahaan untuk tidak bekerja di hari Minggu, Romo.”

Saya bisa mengerti, di masa Pandemi, ketika keadaan ekonomi serba sulit, umat harus mempertahankan asap dapur tetap mengepul.

Ada lagi yang menjawab, “Saya sakit, Romo,” Atau “Saya harus menjaga orangtua saya yang sakit.” Saya juga bisa memahami jawaban ini dan saya katakan dengan empati, “Semoga semuanya membaik.” Atau “Semoga lekas sembuh,” dan jawaban-jawaban semacam itu.

Jawaban lain yang saya terima adalah, “Saya tidak ada kendaraan untuk ke gereja, Romo.” Terhadap jawaban ini dalam hati saya berharap agar teman sekomunitasnya atau teman yang rumahnya dekat dengannya bisa lebih peka dengan menyapa dan menawarkan tumpangan.

Namun suatu hari, dalam perjumpaan dengan seseorang yang sudah lama tidak gereja, saya berdialog dengan orang itu tentang cara kita bersyukur kepada Tuhan dengan meluangkan waktu setidaknya seminggu sekali untuk pergi beribadah ke Gereja.

Baca Juga:  Aktif dalam Pertobatan Hati dan Diri

Tetapi saya mendapatkan jawaban yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Dengan mantap ia mengatakan, “Romo, bekerja itu kan juga ibadah?”

Gubrak! Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saat itu saya tidak menemukan jawaban yang tepat untuk pernyataan itu. Namun jawaban itu mengusik saya. Saya jadi membayangkan, seandainya semua umat memiliki pandangan seperti itu berarti Gereja tidak perlu repot-repot membeli tanah, mengurus perijinan dan membangun gereja. Dewan Pastoral Paroki tidak perlu repot-repot menyiapkan liturgi dan pelayanan bagi umat. Kan akhirnya semua bisa digantikan dengan bekerja?

Tapi, tiba-tiba ada suatu bayangan di benak saya…..

Ketika tidak ada ibadah, tidak ada liturgi, tidak ada pelayanan, bagaimana jika mereka sakit? Atau, bagaimana jika mereka memerlukan misa arwah atau ibadat arwah bagi keluarganya? Apakah bisa digantikan bekerja?