YOSAFAT MANSAH :
MENGGABUNGKAN KETAHANAN PANGAN DAN DIALOG DENGAN LINGKUNGAN

Mansah adalah seorang pemuda penggerak umat di Dusun Kaar Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Ia memiliki semangat dan jiwa enterpreneurship. Segala usaha dilakukan dengan berbasis kepada tanaman pangan dan perkebunan namun tetap memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Mari kita simak sepak terjangnya.

Ketahanan Pangan Wilayah

Pegunungan Meratus bagi Mansah merupakan tempat yang cocok untuk bercocok tanam. Ia dan isterinya dengan gigih mengelola ladang dan kebunnya. Mansah mengaku memiliki lahan seluas 10 ha. Bahkan kata Mansah tetangganya memiliki luas lahan 20 ha – 30 ha! Penguasaan lahan tersebut berkaitan dengan sistem ladang berpindah yang masih dihidupi masyarakat setempat. Namun yang membedakannya Mansah sudah mengusahakan pengolahan lahan yang lebih intensif, dengan pemupukan dan penyemprotan hama atau penyakit.

Saat ini Mansah membudidayakan: pisang, kakao, timun, jagung dan karet. Kebun karet yang dimilikinya seluas 5 ha, kebun pisang 3 ha, ladang jagung 2 ha (selang-seling panen 2 rotasi), sawah gunung jika ditanami seluas 2 ha setiap tahun. Setiap hari mereka turun memelihara ladang.

Tumpang sari tanaman pisang dan jagung di lahan olahan.

 

Mansah meneruskan keseruan aktivitas hariannya,“Kami sekarang menyemprot lahan untuk penanaman jagung. Karet sudah produksi namun belum sempat dipanen karena tidak ada tenaga yang menangani. Getah karet di Kaar dihargai Rp.10.300/kg. untuk karet penjualannya bulanan, Jika kita punya barang tinggal telpon para pembelinya. Adapun Panen pisang talas apabila musim berbuah adalah mingguan, Pisang dihitung per sisir harga Rp.3.200/sisir. Langsung cash bayar di tempat. Pertemuan beberapa tahun lalu ada umat di banjar ada umat kita yang menampung, kita bisa enak hubungan.”

Baca Juga:  Sosialisasi Penyalahgunaan Narkoba di Paroki Katedral Banjarmasin

Melihat produksi tanaman pangan yang dihasilkan, maka tidak berlebihan bahwa kawasan yang dihuni Mansah merupakan lumbung pangan wilayah dan memiliki ketahanan pangan yang tinggi.

Apakah ada kesulitan yang dihadapi peladang setempat?

Penanganan hama dan penyakit tanaman.

Hama tikus dan penyakit buli jagung, daun menjadi kuning layu, merupakan permasalahan yang mereka hadapi. Mansah harus segera melakukan tindakan sigap,” Tanaman jagung kena buli dipastikan gagal. Saya punya bibit 17 kg, umur 1 minggu saat tumbuh, benih sebanyak 3 kg terkena buli. Langsung kami cabut dan diganti tanaman lain.” Mansah merasa didukung oleh petugas lapangan Mantri Pertanian yang membantu memberikan penyuluhan dan saran-saran teknis.

Memperhatikan Lingkungan Hidup

“Kami mendapatkan penyuluhan dan informasi dari Dinas Kehutanan, romo ataupun kawan-kawan saya, berkaitan dengan menanam sawit. saat ini yang sedang maju di Pamukan Barat memang menanam sawit, harga sawit sekarang sudah sampai Rp.2.000. Penyuluhan tersebut berkaitan dengan sifat tanaman sawit yakni akan menghabiskan potensi sumber air.

Kami berpikir untuk masa depan anak-anak kami, jatah mereka sudah dimakan oleh orang tuanya, bagaimana dengan anak-anak nanti?

Jika akan menanam jangan keseluruhan lahan dihabiskan oleh tanaman sawit, 1-2 ha tidak apa-apa, jangan full semua,”himbau Mansah.

Tanaman Pangan Menjanjikan

Ketua Stasi Kaar ini mengungkapkan,”Hidup berdasarkan hasil tanaman lebih dari cukup. Namun ada syarat yang harus dipenuhi yakni sebagai petani harus rajin turun ke ladang, setiap hari harus ke lapangan, harus mengontrol. Jika malas maka ladang segera dipenuhi rumput.”

Mansah dan isterinya masih menyempatkan usaha toko kebutuhan sehari-hari di rumah dan memelihara babi.” Untuk ternak babi ini Mansah mendapatkan dukungan modal dari Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Banjarmasin. Jumlahnya 4 ekor, umurnya 1 tahun 4 bulan. “Tinggal menunggu pembeli saja,” tawanya renyah.

Baca Juga:  Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Pastor Paroki Katedral Banjarmasin

Kerja Keras dan Kerja Sama

Mengingat masa kecil Mansah bercerita susahnya kehidupan di desa asalnya, Desa Wayuanin. Sebelah sisi barat Pegunungan Meratus, sehingga orang tua Mansah memutuskan melakukan migrasi lokal ke Dusun Kaar. “Kami berjalan kaki selama enam jam,” kenang Mansah. Di Kaar saat itu sudah ada keluarga mereka yang tinggal. Mengapa harus pindah? “Sebenarnya di Wayuanin kami punya tanaman kopi dan pinang, namun tidak bisa menjual karena susah mengeluarkan, tidak ada transportasi dan jalan yang mendukung. Lain halnya dengan Dusun Kaar, para pembeli tinggal ditelepon, ditunjang jalan yang baik dan mobil angkutan menjangkau tumpukan hasil tanaman yang diletakkan di pinggir jalan dekat rumah mereka, dibayar cash lagi!” kata Mansah bersemangat.

“Saya berpendapat jika ingin hidup lebih baik, tidak mengalami kemiskinan maka harus berusaha dan bekerja giat karena segalanya ada dan siap diolah.”

Usaha penyadaran atau meningkatkan taraf hidup sering kali saya sampaikan ketika bertemu kerabat dan tetangga. Bagi yang baru saja pindah dan memulai usaha menurut saya harus punya minat untuk bertanam, menebas dengan baik untuk mencukupi kehidupan,” saran Mansah mengakhiri percakapan kami via jaringan telepon. (oZo)