Kamis (22/04/2021), Komsos KWI menyelenggarakan Webinar dengan tema “Pesan Paus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 untuk Pekerja Media Komsos.” Webinar yang mengupas Pesan Paus Fransiskus itu menghadirkan Narasumber Errol Jonathans, Jurnalis senior dan CEO Suara Surabaya serta Alex Madji, wartawan yang mensharingkan pengalamannya telah menjadi pekerja media sejak tahun 1990-an. Sekitar 73 pekerja media dan komsos dari berbagai keuskupan mengikuti kegiatan yang digelar melalui Zoom Meeting ini.

Keprihatinan Jurnalisme Saat Ini
Dalam pemaparannya, Errol Jonathans menguraikan bahwa Pesan Paus Paus Fransiskus yang bertajuk “Datang dan Lihatlah” merupakan suatu penegasan tindakan yang harus dilakukan oleh seorang jurnalis. Seorang jurnalis perlu turun ke lapangan untuk memperoleh kebenaran, kepastian dan fakta. Mereka perlu check-recheck, konfirmasi, verifikasi serta investigasi atau mengumpulkan data terhadap suatu kejadian atau berita yang beredar di masyarakat dengan menghabiskan sol sepatu untuk menjumpai saksi, narasumber, tempat kejadian, instansi dan sebagainya.

Pesan Paus Fransiskus menjadi sebuah jawaban atas keprihatinan jurnalisme saat ini dimana terjadi fenomena jurnalisme opini, yaitu suatu berita yang memuat wawancara dengan narasumber, tetapi karyanya tidak disertai data dan investigasi di lapangan. Ada kecenderungan digantikannya liputan investigatif yang orisinil di media televise, surat kabar, radio, website menjadi suatu liputan yang berisi narasi tendensius.

Kredibilitas Jurnalisme
Lebih lanjut Errol Jonathans mengutip pernyataan William Safire (The New York Times) “Jangan coba bermimpi menjadi repoter, editor, kolumnis dan influenser media online kalau tidak kompeten terhadap elemen jurnalisme yang hakiki.” Elemen jurnalisme yang hakiki adalah keakuratan/ketepatan, keseimbangan/tidak memihak dan kejelasan. Jika ketiga hal ini dipenuhi, maka akan dihasilkan jurnalisme yang kredibel atau dapat dipercaya. Hal inilah yang ditekankan Errol Jonathans pada jurnalis Radio Suara Surabaya, yaitu untuk turun ke lapangan meski di tengah situasi Pandemi dan menyiarkan berita secara tepat. Ketepatan (bukan kecepatan) berita menjadi yang utama.

Baca Juga:  Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi?

Kredibilitas Jurnalisme harus didukung oleh pekerja media atau pekerja Komsos yang kompeten. Kompetensi tersebut meliputi: punya pengetehuan dan ketrampilan, sanggup bekerja tanpa batasan waktu, tidak gentar menghadapi kesulitan peliputan, bermental tangguh menghadapi Narasumber, disiplin dengan target waktu dan produksi, mahir menulis dan bertutur, adaptif dengan teknologi komunikasi-informasi, memperbanyak pengalaman meliput peristiwa, mengikuti perkembangan trend konsumen, setia pada regulasi, kode etik dan berintegritas.

Menghabiskan Sol Sepatu
Dalam Webinar tersebut, Alex Madji, wartawan yang pernah bekerja pada Harian Pikiran Rakyat membagikan pengalamannya bekerja sebagai wartawan pada tahun 1990-an. Saat itu komunikasi yang bisa dilakukan hanya melalui pertemuan langsung atau telepon. Jadi, saat itu seorang jurnalis memang harus turun ke lapangan dan melaporkan hasil liputannya ke kantor secara langsung maupun melalui telepon.

Seiring perkembangan teknologi komunikasi, pekerjaan jurnalis menjadi lebih mudah. Hasil liputan bisa dikirim melalui email, BBM, Whatsapp, dan sebagainya. Bahkan saat ini bukan wartawan yang mencari berita tapi berita yang mendatangi wartawan melalui media-media sosial yang dapat diakses dengan mudah. Namun, sayangnya kemudahan-kemudahan ini justru malah menjadikan seorang jurnalis enggan turun ke lapangan dan menginvestigasi suatu kejadian atau berita. Maka tak heran, berita-berita yang tersebar di berbagai media, terutama media sosial menjadi berita yang tidak kredibel.

Pada kesempatan itu, Alex Madji mengajak seluruh pekerja Komsos untuk turun ke lapangan, menghabiskan sol sepatu agar menghasilkan karya-karya yang mewartakan kebenaran. Dalam sesi tanya jawab, Alex Madji juga berharap agar masyarakat memiliki budaya literasi yang baik. Mampu memilah, mana berita yang mengadung kebenaran dan mana yang hanya berisi narasi tendensius serta tidak menyebarkan berita yang tidak jelas dan tidak akurat. (smr)

Baca Juga:  Dialog Sejati: Menghabiskan Pulsa atau Sol Sepatu?