Melalui dua kali pertemuan katekese di Bulan Liturgi Nasional 2021, semoga iman kita semakin bertumbuh dari sisi pengetahuan, pengenalan dan juga penghayatan kita akan Ekaristi sebagai puncak hidup kristiani kita,” harap Pastor Albertus Jamlean, MSC, ketua Bidang Liturgi Keuskupan Banjarmasin di akhir kegiatan Katekese Doa Syukur Agung. Pada kesempatan tersebut, Pastor Albert kembali mengundang seluruh peserta untuk mengikuti katekese liturgi berikutnya yang akan disampaikan oleh Bapak Uskup Petrus Boddeng Timang (Uskup Keuskupan Banjarmasin dan Ketua Komisi Liturgi KWI) pada 28 Mei 2021 mendatang.

Katekese yang diadakan pada Rabu, 19 Mei 2021 melalui media Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pusat Pastoral Keuskupan Banjarmasin tersebut kembali menghadirkan Narasumber, Pastor Stenly Vianny Pondaag, MSC. Sebanyak 77 partisipan Zoom mengikuti kegiatan yang dipandu oleh Venansius (anggota Komisi Liturgi Keuskupan Banjarmasin) selaku moderator.

Pastor Stenly Vianny Pondaag, MSC (Narasumber) dan Venansius (Moderator)

Dalam pemaparan materi, Pastor Stenly menegaskan bahwa Doa Syukur Agung (DSA) merupakan pusat dan puncak seluruh Perayaan Ekaristi. Di dalam DSA ada Doa Syukur dan Pengudusan. DSA ini merupakan doa yang disampaikan oleh imam atas nama umat kepada Allah Bapa, dalam Roh Kudus, dengan pengantaraan Yesus Kristus. Dengan DSA, seluruh umat beriman menggabungkan diri dengan Kristus dalam MEMUJI KARYA AGUNG A LLAH dan dalam MEMPERSEMBAHKAN KURBAN.

Berdasarkan asal usulnya, DSA berasal dari tradisi perjamuan makan orang Yahudi, dimana kepala keluarga akan mengucapkan doa pujian atas roti sebagai berkat dari Sang Pencipta, kemudian memecah-mecahkan roti dan membagikan pada seluruh keluarga lalu mereka makan bersama. Sesudah itu mereka mengucap syukur atas anggur dan ditutup dengan doa sesudah makan. Hal serupa dilakukan juga dalam Perjamuan Yesus bersama para murid-Nya. Yesus bertindak sebagai kepala keluarga. Ia mengucap doa berkat atas roti, mengucap syukur atas cawan atau piala.

Baca Juga:  Warga Limbur Merindukan Guru

Doa sesudah makan (Birkat Ha-mazon) bagi orang Yahudi mengandung tiga unsur yaitu: PUJIAN melalui pewartaan karya ciptaan Allah, Ber-SYUKUR dengan mengenangkan karya keselamatan Tuhan dan PERMOHONAN bagi penyelenggaraan Tuhan sampai akhir zaman. Doa Birkat Ha-mazon (Doa Sesudah Makan) inilah yang menjadi asal usul Doa Syukur Agung dalam liturgi. Jadi DSA bukan saja berisi teks atau naskah doa. DSA juga sebuah KARYA/JENIS SASTRA yang disusun berdasarkan struktur/susunan yang tetap, dengan bagian bagian yang saling berkaitan satu sama lain.

Dalam perkembangan, bagian Pujian dan Ucapan Syukur membentuk unsur ANAMNESIS.  Bagian PERMOHONAN membentuk unsur kedua, yakni EPIKLESIS atau permohonan kepada Tuhan, supaya Roh Kudus turun atas bahan persembahan roti dan anggur.

Dalam katekese yang berdurasi sekitar dua jam tersebut, Pastor Stenly juga menguraikan bagian-bagian dalam DSA, pembaharuan DSA dalam misa, ciri khas DSA II, III, IV, serta titik puncak DSA. Dosen Liturgi Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng ini juga menegaskan bahwa kuasa konsekrasi adalah kuasa Roh Kudus karena Roti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus adalah berkat karya Roh Kudus. Dan, seluruh DSA adalah Doa Konsekrasi.

Selanjutnya peserta diberikan kesempatan untuk bertanya melalui kolom chat dan dijelaskan satu persatu oleh Pastor Stenly. Usai tanya jawab, kegiatan ditutup dengan foto bersama dan doa penutup oleh Andreas Koko dan berkat oleh Pastor Albert. (smr)

Peserta yang mengikuti melalui Zoom Meeting

 

Download materi Katekese Doa Syukur Agung:Katekese DSA@2021