Inkorporasi memiliki arti untuk penyatuan atau peleburan. Subjeknya adalah para imam, biarawan, biarawati yang baru masuk bertugas di Keuskupan Banjarmasin. Arti inkorporasi dipakai Keuskupan Banjarmasin agar mereka bisa melebur menjadi satu dalam visi misi keuskupan dan dalam gerak pastoral, termasuk di dalamnya pemahaman dan keseragaman gerak dalam tata pengembalaan, tata kelola keuangan dan administrasi. Bertempat di Ruang Rapat lantai II Aula sasana Bhakti Gereja Veteran Banjarmasin, penggodogan ini berlangsung sehari,19/8, dari jam 08.00-17.00 WITA.

Suasana Inkorporasi para Imam bersama Ekonom Keuskupan RD Simon

Kali ini 13 imam baru yang masuk berkarya di Keuskupan Banjarmasin, termasuk pastor diosesan yang baru ditahbiskan, pastor Yohanes Tjuandi, langsung bergabung. Nampak dari mereka yang sudah senior, seperti Pastor Karyono, CM, Pastor Budi Wihandono, dan Provinsialat MSF Pastor Doni Tupen MSF. Namun perlu disadari bahwa tata gerak pastoral Keuskupan Banjarmasin memiliki hal yang khas, yang berbeda dari keuskupan mereka berkarya sebelumnya, dan memiliki tahapan penekanan Tahun Pastoral sesuai Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin.

Pendapat mereka tentang Inkorporasi:

Pastor Ping Poto, MSF (Pastor Paroki Yohanes Pemandi-Landasan ulin) : Inkorporasi merupakan cara yang baik untuk membantu para pastor muda atau yang baru berkarya di Keuskupan banjarmasin untuk sungguh-sungguh memahami Arah Dasar Keuskupan sehingga apa yang dilakukakan sejalan dengan visi misi keuskupan. Setiap sessi yang dibawakan memang hal yang riil yang ada di keuskupan ini. Maka setelah setahun di keuskupan saya bersyukur bisa menerima inkorporasi ini.

Pastor Ruben basenti Moruk, OFM (Pastor Paroki Santo Fransiskus Asisi-Gendang): Prinsipnya saya senang walaupun sejak lama sudah di sini, namun saya jadi semakin mengetahui gerak pastoral keuskupan. Semakin lebih tahu Arah Dasar Keuskupan ini seperti apa. Saya semakin lebih mengenal keuskupan ini khususnya karya, tenaga-tenaga pastoral, wilayahnya dan bagus diberikan gambaran secara umum sejauh mana gambaran Gereja Katolik ini berelasi dengan pemerintahan. Bapak Uskup memberikan beberapa hal yang menarik, kami dituntut disamping menjadi pemimpin umat juga menjadi pemimpin atau tokoh masyarakat. Selain itu data dan informasi-informasi lain membantu kami mengetahui lebih dekat keuskupan.

Baca Juga:  Arahan Bapak Uskup dalam Pertemuan Dewan Karya Pastoral Inti

Data Umat

Sessi tata administrasi gereja menghadirkan bahasan khusus Data Umat dalam program yang diadopsi Keuskupan yakni BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan). Program ini dikembangkan Keuskupan Agung jakarta dan Universitas Binus Jakarta. Pastor Ruben menanggapi,” Data Umat itu penting. Zaman sekarang bagi saya pastoral berbasis data tidak boleh dipandang remeh. Ini menjadi kebutuhan dasar kita untuk berpastoral. Maka mau tidak mau kerja sama dari tenaga pastoral di Keuskupan harus disadarkan dan dikerahkan kembali. Kami menyadari paroki-paroki baru itu belum bisa berbuat apa-apa. Selain karena SDM juga kesadaran kami masih kurang. Tetapi bagi kami sendiri satu hal yang positif diingatkan lagi bagi saya, terutama masalah mutasi umat dan disegarkan kembali kiranya tim keuskupan bisa datang. Pastoral berbasis data tidak bisa ditawar-tawar lagi.”

Pastor Iwan Yamrewaw, MSF mengingatkan juga karena Program Data Umat sudah berjalan cukup lama (sejak Pra Sinode 2013) namun tidak menunjukkan hasil yang berarti sebaiknya ditunjuk paroki percontohan untuk menjadi contoh di Keuskupan.

Inkorporasi sehari tersebut ditutup dengan tanya jawab dan serba-serbi yang dipandu Direktur Pusat Pastoral, Pastor Yusuf Suharyoso. SJ. (oZo)