Sapaan dan pendampingan suku Dayak Meratus di daerah Loksado dan Paramasan Atas tak dapat dipisahkan dari keterlibatan Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), baik dari sisi program, pendanaan, volunteer, maupun petugas pastoral. Meskipun demikian, kehadiran KTM di daerah tersebut tetap dalam tanggung jawab Tim Pemberdayaan Dayak Meratus Keuskupan Banjarmasin.

 

Melanjutkan Keterlibatan Volunteer Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM)

Keterlibatan KTM di daerah Paramasan Atas berawal dari kunjungan RP. Yohanes Indrakusuma O.Carm ke Keuskupan Banjarmasin pada 18-23 Februari 2013. Pada waktu itu RP. Yohanes O.Carm bersama dua orang Suster Putri  Karmel menjajagi kemungkinan mendirikan pusat pembinaan dan spiritualitas Keuskupan Banjarmasin sesuai permintaan Bapak Uskup Petrus Boddeng Timang. Awalnya mereka meninjau situasi serta lokasi Stasi Uren, Paroki Tanjung. Selain meninjau situasi dan lokasi, RP. Yohanes O.Carm juga mengunjungi para volunter KTM untuk melihat karya dan keadaan mereka di daerah tersebut.

Dari hasil kunjungan, diputuskan bahwa keterlibatan para volunter KTM dalam pelayanan di daerah Meratus tetap dilanjutkan. Bahkan diputuskan untuk menambah volunter supaya karya dan pelayanan dapat berjalan lancar. Namun, sebagai pusat pembinaan, lokasi tersebut tidak cocok karena terlalu jauh dan terpencil.

Kemudian RD. Ignatius Allparis mengusulkan lokasi baru di Loksado. Setelah meninjau ke lokasi tersebut, RP. Yohanes O.Carm melihat bahwa lokasi tersebut lebih memungkinkan. Entah di Loksado atau jalan menuju Batulicin. Daerah itu alamnya bagus dan lokasinya lebih strategis. Namun, rencana pusat pembinaan kerohanian untuk sementara belum dapat direalisasikan karena belum tersedia tenaga (Suster-Suster Putri Karmel).

 

Dari Uren ke Loksado

Tak lama kemudian, para volunteer KTM yang sebelumnya ikut menggiatkan umat di Uren berpindah menuju medan pelayanan baru di daerah Loksado. Berkat dukungan umat setempat yang sudah lama bermukim di Padang Griwil-Loksado, mereka berhasil memperoleh sebidang tanah. Di atas tanah itu kemudian dibangun sebuah rumah singgah yang cukup representatif karena berada di pinggir jalan poros Kandangan-Loksado-Batulicin.

Dari sana mereka bergerak menjelajahi daerah-daerah di sekitarnya dan  akhirnya menetap di dusun Niwak, Paramasan Atas Kabupaten Banjar, sekitar 50 km dari Padang Griwil. Mereka disambut baik oleh masyarakat setempat. Bahkan mereka berhasil memperoleh sebidang tanah hibah dari salah seorang pemuka masyarakat. Di atas tanah yang berdampingan dengan balai adat itu mereka mendirikan rumah tinggal untuk volunteer sekaligus tempat pertemuan dan ibadat. Berkat bantuan banyak pihak, volunteer KTM berhasil membangun sistem penyediaan air bersih dan pembangkit listrik tenaga air untuk kepentingan masyarakat desa Niwak.

Baca Juga:  Kak Venti: Apa yang Kalian Rasakan saat Menerima Komuni I?

Tiga tahun belakangan, KTM mandiri dalam segi keuangan, pelaksanaan di lapangan dan pembinaan para volunteer. Namun mereka tetap menjadi bagian dari program Pemberdayaan Dayak Meratus Keuskupan Banjarmasin.

Para volunteer KTM telah disiapkan untuk mengajar agama serta ilmu-ilmu sosiologi dasar termasuk budaya-budaya suku Dayak yang sungguh beragam antara satu daerah dengan daerah lainnya. Di lapangan, mereka harus menghadapi akses jalan menuju dusun Niwak yang rusak dan berlumpur. Perjalanan harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor karena harus melewati beberapa jembatan gantung. Jika tidak hujan, perjalanan dari Padang Griwil menuju Niwak ditempuh dalam waktu 5 jam. Namun jika hujan, perjalanan bisa ditempuh hingga 8 jam. Apalagi jika di tengah perjalanan, kendaraan mengalami kerusakan seperti: rantai lepas, dan lain-lain. Syukurlah, sejak 2018 aparat keamanan membantu perbaikan jalan sehingga semua jalan menuju Niwak sudah mulai membaik.

 

Kehadiran: Menghidupi Hal Terpenting dalam Pendampingan

Bapak Uskup Petrus Timang, RP. Damianus, volunter dan masyarakat Paramasan Atas

Kehadiran dalam setiap segi kehidupan merupakan hal terpenting dalam pendampingan masyarakat. Setiap volunteer harus bisa masuk dalam setiap irama hidup mereka, berbaur dan bersatu dalam nadi hidup masyarakat Dayak. Ketika masyarakat ke ladang, para volunteer juga ikut ke ladang. Ketika masyarakat gotong royong memperbaiki jalan, para volunteer terlibat dalam kegiatan tersebut. Ketika di daerah tersebut ada acara adat yang disebut “Aruh,“ maka para volunteer juga harus ikut.  Kehadiran  itulah  yang menjadi perekat untuk membaur dalam kehidupan masyarakat Dayak Meratus. Dengan demikian, para volunteer dapat diterima oleh masyarakat Dayak Meratus.

Pemberitaan warta kasih yang disampaikan oleh para volunteer diwujudkan melalui pendidikan, kesehatan serta karya nyata. Para volunteer mengajar membaca dan menulis bagi anak-anak, kaum muda serta kaum dewasa yang sebagian besar masih susah membaca dan menulis. Para volunteer juga mengajarkan perilaku hidup sehat dengan membangun saluran air bersih dan MCK. Ketika ada masyarakat yang sakit seperti sakit kepala, sakit gigi, dan lain-lain, maka mereka akan lapor pada para volunteer dan para volunteer biasanya akan memberikan obat-obatan yang diperlukan yang memang sudah disiapkan sebelumnya. Para volunteer dianggap sebagai “dokter.”

Baca Juga:  Misa Harian Jumat Pekan Biasa XI, 18 Juni 2021

Para volunteer juga mengajak kaum muda di desa tersebut untuk berolah raga  volley, badminton dan catur, serta bermain musik di rumah singgah. Dengan demikian, rumah singgah di Niwak menjadi tempat berkumpulnya kaum muda di desa Niwak dan Padang Griwil.

 

Loncatan Besar dalam Pemberdayaan Masyarakat

Pada awalnya terjadi kesepakatan antara warga dengan Tim Pemberdayaan Meratus untuk mewujudkan keinginan warga mendapatkan listrik dan air bersih. Volunteer Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) Tony Sigit dan Rafael Nugraha yang berkarya disitu melakukan survey dan mengumpulkan data untuk keperluan tersebut. Mereka pun menginformasikan kepada Dhani, rekanan mereka, yang kebetulan sama-sama aktif di KTM Malang. Agustus 2017 Dhani melaksanakan survey, perencanaan dan perhitungan di sumber air terjun di Dusun Niwak.

Dhani mengakui mengajar mata kuliah konversi energi namun belum pernah menangani proyek pembangkit listrik mikrohidro. Dengan kekuatan jaringan, Dhani mendiskusikan proyek ini dengan teman-temannya di Malang. Sementara itu warga Niwak menanggapi dengan penuh semangat, ketika rencana ini diungkapkan kepada mereka.

Proses mewujudkan ide pembangkit listrik mikrohidro ini memakan waktu 7 bulan, dari perencanaan di bulan Agustus 2017 sampai dengan terpasang semua unit dan instalasinya pada Februari 2018. Dhani bercerita tentang suka duka proses pembangunannya, ”Yang banyak bekerja adalah warga dan volunteer disini.” Kesulitan medan mencapai dusun dan lokasi pembuatan bendungan, terutama kondisi jalan yang berlumpur sepanjang puluhan kilometer menjadi tantangan tersendiri. Dhani mengisahkan perjuangan tersebut,” Warga disini membawa semen dengan sepeda motor dan sempat jatuh bersama sepeda motornya. Bahkan pipa besar yang menghubungkan dam ke turbin diameter 8 inch dan panjang sekitar 50 meter diangkut sendiri oleh warga disini, itu sangat luar biasa! Pompa dengan generatornya sudah dirakit di Malang, beratnya 300 kg! Sempat teman-teman disini berinisiatif membongkar karena kesulitan pengangkutan dan tidak berkoordinasi dengan saya. Ketika sudah sampai di lokasi bingung memasangnya lagi! Setelah mereka pasang saya sempat kesini lagi, mencoba lagi dan akhirnya bisa. Pemasangan instalasi sekitar tiga minggu. Volunteer Aldo Rampaeng dan Wim Makalesa yang berkoordinasi dengan warga. Ada juga anak-anak muda yang bagus tekniknya memiliki banyak peran besar disini. Saya hanya konsultan teknis dari jarak jauh, yang mengerjakan semua itu volunteer bersama warga disini.”

Baca Juga:  Peraturan Pantang dan Puasa Masa Prapaskah 2024 Keuskupan Banjarmasin

Berkat kekuatan kerja sama dan berjejaring ini keinginan untuk menikmati listrik terwujud. Dhani mengungkapkan syukurnya mewakili semua orang yang terlibat, termasuk para pemerhati, praktisi, instansi dan donatur,” Saya senang sekali karena ini adalah berkat Tuhan yang luar biasa untuk satu desa. Anak-anak bisa belajar di malam hari dan memiliki dampak yang besar. Ini semua merupakan campur tangan dari Tuhan. Allah bisa menunjuk siapa saja, bukan hanya saya, karena saya mengikuti panggilannya dan saya ikut terlibat, jadi saya juga bisa bersuka cita!”

Mewujudkan keinginan warga untuk mendapatkan aliran listrik dan air bersih

Tak lama setelah terwujud aliran listrik di Niwak, Tim Delegatus Kesehatan Keuskupan Banjarmasin yang dipimpin oleh Dr. Tri Joko melakukan pelayanan kesehatan ke desa Niwak, Hananai, Kusan, Nuut, Baringan, Inpres dan Padang Griwil. Selain pelayanan kesehatan, Dr. Tri Joko beserta Tim Medis memberikan penyuluhan Hidup Bersih dan Sehat.

Loncatan besar dalam mewujudkan aliran listrik di Niwak serta pelayanan kesehatan yang dilakukan Tim Delegatus Kesehatan Keuskupan Banjarmasin tersebut membuat desa Niwak yang menjadi sebuah desa yang masyarakatnya dapat menikmati pendidikan, air bersih, tenaga listrik serta perilaku hidup sehat. Hal ini berdampak pada meningkatnya permintaan masyarakat sekitar Paramasan Atas untuk diberikan pendampingan oleh para volunteer.

Dalam perjalanan pendampingan masyarakat Dayak Meratus selama beberapa tahun ini, ternyata ada hal-hal yang terjadi di luar perkiraan manusia, yaitu efek domino dari Karya Nyata. Permintaan dan kesadaran dari masyarakat untuk didampingi serta diberdayakan dalam setiap segi kehidupan semakin meningkat.  Dan ini sungguh merupakan karya Tuhan sendiri. (smr – dari berbagai sumber)