oleh Lucas Djatmiko HN

Jumat , 11 Januari 2022 pukul 17.00 Wita terjadwal Perayaan Misa Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia. Jadwal ini dibagikan Pastor Paroki Suriyan melalui media sosial pada Kamis, 10 Februari 2022, dan disebarkan pada Grup Pusat Paroki, Komunitas, Stasi dan Dewan Pastoral Paroki. Bidang Liturgi mempersiapkan liturgi perayaannya. Bidang Persekutuan menghubungi keluarga-keluarga yang anggota keluarga terbaring sakit untuk diadakan penjemputan mengikuti misa. Bidang Pelayanan melalui Seksi Sosial melakukan persiapan aksi nyata pemberian paket popok dewasa dan baju tidur sebagai ungkapan perhatian Gereja bagi yang sakit dan dalam kondisi terbaring.

Mereka yang sakit mendapatkan pelayanan khusus pada Misa Hari Orang Sakit Sedunia ke-30 di paroki Suriyan.

Pada hari pelaksanaan ruang gereja ditata sedemikian rupa sehingga mengakomodasi mereka yang sakit. Beberapa kursi berbahan rotan yang dilengkapi sandaran dan satu buah dipan disiapkan berjajar dari depan ke belakang diperuntukkan bagi mereka yang sedang menderita sakit, tidak berdaya karena renta dan ada beberapa yang menderita kebutaan karena usia tua. Dipan tempat tidur dipergunakan untuk berbaring seorang bapak yang lumpuh dan harus di tandu saat memasuki ruang gereja. Beberapa umat penderita sakit ada juga yang dipersilakan duduk di bangku barisan depan. Umat yang lain duduk sebagaimana biasa di bangku-bangku gereja yang hampir memenuhi tiga perempat ruang gereja Santo Yosep Suriyan.

Tema hari orang tua sakit sedunia kali ini adalah : “ Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu adalah murah hati” Pater Yohanes Susanto, MSC menyampaikan homili tentang makna murah hati. Kemurahan hati merupakan sikap mau melupakan masa lalu seseorang yang kita sebut sebagai pendosa. Menjadi murah hati artinya kita mau melihat masa depan yang lebih baik. Kemurahan hati mampu mendorong setiap orang untuk berani melihat masa depan, bertobat, dan membarui hidup.

Baca Juga:  Pelayanan Kesehatan dan Sunat Masal di Gereja Landasan Ulin

Pengalaman Pater Aba, MSC, atau biasa disebut Romo nDeso , saat pelayanan membagi Komuni Kudus kepada Ibu Lodo menjadi bahan permenungan yang sangat menarik. Seorang ibu yang pada usia tua kedua pasang matanya mengalami kebutaan. Untuk melihat Bapak Lodo sang suami tercinta tidak lagi bisa, hanya bisa mengenali dari suara dan aroma tubuhnya. Untuk memasakkan suami dilakukan dengan indera perabanya. Suatu pagi saat sedang memasakkan suami yang masih berada di kebun karet, saat hendak memasukkan kayu bakar ke mulut tungku agar api tetap dapat bernyala justru bara api yang terpegang. Hal ini membuat beberapa hari berikutnya tidak bisa memasakkan suaminya.

Pengalaman Ibu Lodo bisa jadi menjadi pengalaman bagi semua orang. Hal ini mengingatkan pada saatnya akan menjadi tua dan akan tidak berdaya. Kegagahan , kemolekan, kecerdasan serta segala kelebihan pada diri manusia pada saaatnya bisa berubah sebaliknya. Pengalaman sakit atau ditinggalkan merupakan konsekuensi alamiah yang bisa terjadi bagi siapa saja, namun dalam iman Katolik bukanlah sebuah kutukan atau karma.

Seksi Sosial memberikan tanda kasih kepada mereka yang sakit yang menghadiri Misa Kudus.

Perayaan hari orang sakit dicanangkan Santo Yohanes Paulus II tiga puluh tahun lalu pada 11 Februari 1991. Beliau mengajak Gereja agar punya perhatian terhadap yang sakit dan lemah. Doa dan perhatian pada hari ini adalah bentuk dari kasih yang dibagikan Gereja pada mereka. Umat Paroki yang sakit mendapatkan doa dan perhatian khusus di dalam Perayaan hari Orang sakit Sedunia. Demikian juga bagi para dokter, perawat, dan seluruh tenaga kesehatan, agar tetap mampu memberikan perhatian dan pelayanan bagi yang sakit dan menderita serta tetap dianugerahi Kesehatan dan kegembiraan dalam hidup.

Baca Juga:  Perizinan TK Yos Sudarso Kotabaru: Penantian Penuh Harap

Pater Aba Memberikan santapan Tubuh dan Darah Kristus dengan disuapkan ke mulut kepada mereka yang sakit. Pelayanan imam dilanjutkan dengan berkat percikan air suci kepada para penderita sakit. Mereka nampak bahagia atas perlakuan istimewa yang diberikan oleh Gereja.

Saat pertengahan hingga berakhirnya Perayaan Ekaristi hujan mengguyur deras. Para relawan melayani kepulangan para penderita sakit dengan mobil secara bergantian. Bagi penderita sakit yang tidak turut hadir misa, akan diberikan pelayanan Komuni Kudus oleh Pastor dari rumah ke rumah. Bagi umat di luar Pusat Paroki, yakni Stasi Isodorus Nawin dilayani 13 Februari 2022, dan Stasi Santa Lucia Muara Uya pada jadwal berikutnya.

 

Kontributor: Lucas Djatmiko HN Seorang pendidik dan aktivis paroki dan Stasi Muara Uya Suriyan