Paus Fransiskus

Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi

 

Saudara- saudari terkasih!

Pengembangan sistem kecerdasan artifisial, yang baru- baru ini saya refleksikan dalam Pesan  untuk  Hari  Perdamaian Dunia,  (1  Januari  2024 ),  memengaruhi  dunia  informasi  dan komunikasi secara radikal, termasuk landasan- landasan kehidupan masyarakat. Perubahan ini memengaruhi semua orang, bukan hanya para profesional di bidang tersebut. Pesatnya penyebaran atas  penemuan- penemuan menakjubkan, yang fungsi dan potensinya tidak dapat dipahami oleh sebagian besar dari kita  entah  untuk memahami atau mengapresiasinya, terbukti menarik dan membingungkan. Oleh karena itu, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendalam tentang hakikat manusia, kekhasan kita, dan masa depan spesies Homo sapiens  di zaman kecerdasan artifisial.  Bagaimana kita bisa  tetap menjadi manusia seutuhnya dan memandu transformasi budaya demi kebaikan?

 

Mulai dari Hati

Pertama- tama, kita  perlu  kesampingkan dulu  prediksi bencana dan dampak  buruknya  yang  mematikan.  Seabad lalu, Romano Guardini, ketika berefleksi tentang teknologi dan kemanusiaan, mendesak kita untuk tidak menolak “ kebaruan” dalam upaya“ melestarikan dunia indah yang terancam punah ini.” Di saat yang sama, secara profetis dia memperingatkan bahwa “ kita terus- menerus berada dalam proses menjadi.

Kita harus terlibat dalam proses ini. Masing- masing dengan caranya sendiri dan dengan keterbukaan.  Namun, juga dengan kepekaan terhadap segala sesuatu  yang  destruktif dan tidak manusiawi di dalamnya”. Guardini menyimpulkan: “ Masalah- masalah ini bersifat teknis, ilmiah, dan  politis; Namun tidak dapat diselesaikan kecuali dengan mulai  dari rasa kemanusiaan kita. Makhluk manusia jenis baru harus terbentuk, dikaruniai spiritualitas yang lebih dalam dan kebebasan serta kesadaran baru”.[1 ]

Pada zaman sekarang ini, segala bentuk refleksi  harus dimulai dari hati. Kalau tidak, risikonya; manusia bisa kaya di bidang teknologi, tetapi  miskin  dalam  kemanusiaan.[2 ] Dengan mengadopsi cara tertentu  dalam  memandang realitas; dan memulihkan kebijaksanaan hati, kita dapat menghadapi dan menafsirkan kebaruan zaman serta menemukan kembali jalan menuju komunikasi yang sungguh manusiawi. Dalam Alkitab, hati dipandang sebagai tempat kebebasan dan pengambilan keputusan. Hati melambangkan integritas dan persatuan, tetapi juga keterlibatan emosi, keinginan, mimpi kita.

Dan di atas segalanya, hati adalah tempat terdalam perjumpaan kita dengan Tuhan. Dengan demikian, kebijaksanaan hati  merupakan  kebajikan  yang memungkinkan kita mengintegrasikan keseluruhan serta bagian- bagiannya, keputusan- keputusan dan konsekuensi- konsekuensinya, kemuliaan dan kerentanan, masa lalu dan masa depan, individualitas dan keanggotaan kita dalam satu komunitas yang lebih besar.

Kebijaksanaan hati ini membiarkan dirinya ditemukan oleh mereka yang mencarinya dan dilihat oleh mereka yang mencintainya. Kebijaksanaan hati  mengantisipasi  mereka yang menginginkannya dan mencari mereka yang pantas mendapatkannya   (lih.   Keb.   6 : 12 – 16 ).   Ia   menemani   mereka yang  mau  menerima  nasihat  (lih.  Ams.  13 : 10 ),  mereka  yang diberkahi  dengan  ketaatan  dan  hati  yang  mendengarkan  (lih. 1   Raj.   3 : 9 ).   Karunia   Roh   Kuduslah   yang   memampukan   kita melihat segala sesuatu dengan cara pandang Tuhan.

Juga memampukan kita dalam melihat hubungan, situasi, peristiwa- peristiwa, dan mengungkapkan makna sebenarnya. Tanpa kebijaksanaan ini, hidup menjadi hambar. Kebijaksanaan [Lat. sapientia] – yang akar kata Latinnya adalah sapere, yang terkait dengan kata benda sapor– mempunyai arti memberi “ kenikmatan” bagi kehidupan.

                                                                                                

Baca Juga:  Pembukaan Sinode Para Uskup 2023 di Keuskupan Banjarmasin

Peluang dan Bahaya

Kebijaksanaan seperti itu tidak bisa diperoleh dari mesin. Meskipun istilah “ kecerdasan artifisial” lebih tepat menggantikan “ pembelajaran mesin” ( machine  learning) yang   digunakan  dalam  l iteratur  i lmiah,  penggunaan  kata “ inteligensi” terbukti bisa menyesatkan. Tidak diragukan lagi, mesin memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dari manusia dalam menyimpan dan menghubungkan data, tetapi hanya manusia yang mampu memahaminya. Ini bukan sekadar masalah membuat mesin tampak lebih manusiawi, tetapi membangunkan umat manusia dari tidur akibat i lusi kemahakuasaan. Juga membangunkan keyakinan bahwa kita adalah subjek yang sepenuhnya otonom dan  mengacu pada diri sendiri, terlepas dari semua ikatan sosial dan lupa akan status sebagai makhluk.

Manusia selalu menyadari dirinya tidak cukup, karena itu berusaha mengatasi kerentanannya dengan menggunakan  segala cara. Dari artefak masa prasejarah paling awal, kita tahu bahwa manusia telah  menggunakan banyak alat untuk membantu  tangannya. Lalu muncullah media memperluas penyebaran kata- kata. Lalu muncullah media  yang digunakan  untuk memperluas penyebaran kata- kata. Dan sekarang, kita mampu menciptakan mesin- mesin rumit yang bertindak sebagai pendukung  bagi pikiran  manusia. Bagaimanapun, masing- masing instrumen ini dapat disalahgunakan.

Kita bisa terjerumus dalam godaan  primordial,  menjadi serupa  dengan  Tuhan  dan  tanpa  Tuhan  (lih.  Kej.  3 ).  Sebuah keinginan untuk menggapai semua hal dengan upaya kita sendiri padahal Tuhan telah memberi kita secara gratis sehingga kita bisa menikmatinya bersama orang lain.

Segala sesuatu yang ada  dalam  jangkauan  kita  dapat menjadi peluang atau ancaman, tergantung kecenderungan hati kita. Tubuh kita misalnya, diciptakan untuk berkomunikasi dan bersekutu. Namun, bisa kita pakai sebagai alat untuk menyerang yang lain. Demikian juga, teknologi yang dikembangkan untuk membantu manusia dapat  menjadi sarana untuk melayani dengan kasih atau alat  untuk memusuhi yang lain. Oleh karena itu, sistem kecerdasan artifisial dapat membantu mengatasi ketidaktahuan dan memfasilitasi pertukaran informasi antarmanusia  dari berbagai bangsa dan generasi.

Ambil contoh misalnya, kecerdasan artifisial membantu kita mengerti dan mengakses i lmu pengetahuan warisan masa lampau. Dengan kecerdasan itu juga,  kita  dapat berkomunikasi dengan orang lain yang menggunakan bahasa yang berbeda. Namun, di saat yang sama, hal- hal tersebut dapat menjadi sumber “ polusi pikiran”,  karena  disebarkan secara tidak utuh atau dengan narasi yang salah. Parahnya, informasi itu disebar dan diyakini seolah- seolah sebagai sebuah kebenaran. Kita perlu memikirkan persoalan disinformasi ini, yang bakal muncul terus dalam bentuk berita palsu,[3 ]    dan    yang    sekarang    mewujud    dengan    istilah deepfake. Deepfake merupakan bentuk manipulasi foto, yang tampaknya sempurna tetapi salah (saya juga menjadi  objek dari  deepfake  ini).  Atau  manipulasi  audio  yang  sebenarnya tidak pernah dikatakan oleh seseorang. Teknologi simulasi yang berada di belakang semua program ini sebenarnya bermanfaat dalam bidang- bidang tertentu dalam hidup kita. Namun, ini bisa menjadi persoalan kalau sudah mendistorsi hubungan kita dengan orang lain dan kenyataan hidup yang kita alami.

Dimulai dengan gelombang pertama kemunculan kecerdasan artifisial, berupa media sosial; kita telah merasakan ambivalensinya, baik dari sisi kemungkinan pengembangannya, maupun risiko dan persoalan yang dimunculkannya. Tahap kedua pengembangan kecerdasan artifisial generatif, pasti membawa kita pada satu lompatan kualitatif. Oleh karena itu, penting memahami, mengapresiasi, dan mengatur instrumen- instrumen, yang jika berada di tangan yang salah  dapat  membawa  pada  skenario  yang tidak kita inginkan. Seperti juga hasil kecerdasan dan keterampilan manusia yang lain, algoritma tidaklah netral. Untuk itu, perlu tindakan pencegahan, yakni dengan membuat pedoman- pedoman  dalam  bertindak  (kode  etik).  Kode  etik  ini berguna untuk mencegah dampak buruk penggunaan sistem kecerdasan artifisial, yang bisa jadi menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi sosial. Juga mencegah upaya mereduksi pluralisme dan polarisasi opini publik atau penciptaan pikiran- pikiran sektarian/ primordial. Sekali lagi, saya mengimbau komunitas internasional “ untuk  bekerja sama mengadopsi perjanjian internasional yang telah mengatur pengembangan dan penggunaan kecerdasan artifisial dalam berbagai bentuk”. [4 ] Di saat yang  sama, dalam berbagai konteks, regulasi saja memang tidak cukup.

Baca Juga:  Perkembangan Pembangunan Gereja Maria Bunda Karmel

 

Bertumbuh dalam Kemanusiaan

Kita semua dipanggil untuk tumbuh bersama,  dalam kemanusiaan dan sebagai manusia. Kita ditantang  untuk membuat lompatan kualitatif menuju arah yang kompleks, multietnik, pluralistik, multireligius dan masyarakat yang multikultural. Kita dipanggil untuk merenungkan secara  hati- hati pengembangan teoretis dan penggunaan instrumen- instrumen komunikasi dan i lmu pengetahuan  baru  ini.  Dan tentu saja, manfaat penggunaan instrumen ini bakal disertai risiko yang mengubah  segalanya  menjadi  hitungan  abstrak yang mereduksi  individu  menjadi  data,  pemikiran  menjadi satu proses mekanis, pengalaman menjadi sebuah cerita individual, kebaikan menjadi profit, dan di  atas  semua  itu adalah penyangkalan pada keunikan masing- masing individu dengan berbagai kisahnya. Realitas  konkret  larut  lenyap sebagai sekadar data statistik.

Revolusi digital akan memberi kita kebebasan  yang  lebih besar asal kita tidak terpenjara dalam  sebuah kondisi yang saat ini disebut ruang gema (echo chambers). Situasi seperti ini,  bukannya meningkatkan pluralisme informasi, malah berisiko menjerumuskan kita pada kebingungan. Kita bisa menjadi mangsa kepentingan dan kekuasaan pasar. Oleh karena itu, kita tidak dapat menerima bila penggunaan kecerdasaan artifisial  membuat  kita  mudah berpikir prematur, mudah mengumpulkan data tanpa verifikasi, dan gagal menjalankan tugas editorial kolektif. mudah mengumpulkan data tanpa verifikasi, dan gagal menjalankan tugas  editorial  kolektif.  Representasi realitas  dalam  sebuah “ data    besar”    (big    data),    betapapun    bergunanya    bagi pengoperasian mesin- mesin, pada akhirnya menyebabkan hilangnya satu hal substansial dari kebenaran benda- benda yang kemudian menghambat komunikasi antarpribadi dan mengancam kemanusiaan kita. Dengan demikian, informasi tidak dapat dipisahkan dari berbagai relasi kehidupan. Ini karena informasi melibatkan tubuh dan keterlibatan di dunia nyata. Informasi selalu terkait tidak hanya  dengan  data, tetapi juga dengan pengalaman manusia. Oleh karena itu, butuh kepekaan pada wajah dan ekspresi- ekspresinya, yang berupa kasih sayang dan sikap saling berbagi.

Sampai di sini, saya kemudian merenung tentang berbagai pemberitaan seputar perang dan “ perang paralel” yang dilancarkan dengan cara menyebarkan informasi yang salah. Saya juga memikirkan para reporter yang terluka  atau terbunuh saat menjalankan tugas; mereka, yang memungkinkan kita melihat apa yang mereka saksikan. Sebab hanya kontak langsung dengan penderitaan anak- anak, perempuan dan laki- laki, membuat kita makin memahami absurditas perang.

Pemanfaatan kecerdasan artifisial dapat memberi kontribusi positif  pada  sektor  komunikasi  asalkan  peran  Jurnalisme  di lapangan sungguh didukung,  bukannya  dilenyapkan. Sumbangan positif itu juga bisa berupa penghargaan pada profesionalisme komunikasi,  yang  membuat  setiap komunikator semakin sadar akan  tanggung  jawabnya.  Dan tentu saja yang memungkinkan semua orang  berada sebagaimana   mestinya,   mencerdaskan   para   partisipan dalam karya- karya komunikasi.

 

Pertanyaan untuk Sekarang dan Masa Depan

Terkait dengan semua hal yang sudah disampaikan, sejumlah pertanyaan muncul secara alamiah. Bagaimana kita menjaga profesionalisme dan  martabat  para  pekerja  di bidang informasi  dan  komunikasi  serta  martabat  para  penggunanya di       seluruh      dunia?  Bagaimana  kita memastikan interoperabilitas (kemampuan dua atau lebih sistem/ platform untuk bertukar data/ informasi dan  menggunakannya) platform-platform yang ada? Bagaimana kita memberdayakan bisnis yang mengembangkan platform digital sebagai tanggung jawab mereka dalam kaitannya dengan konten dan iklan  sebagaimana dilakukan para  editor di media tradisional?

Baca Juga:  Pesparani Kalsel: Melewati Audisi 2 PSDC

Bagaimana      kita   membuat    makin    transparan  kriteria yang memandu  operasi- operasi algoritma dalam  proses indeks (indexing)  dan penghapusan    indeks    (deindexing/ tindakan untuk menghapus situs web atau bagian situs web dari index), serta untuk mesin pencari yang mampu membesarkan atau membatalkan individu- individu dan opini- opini, sejarah dan budaya? Bagaimana kita menjamin transparansi pemrosesan informasi? Bagaimana kita mengidentifikasi sumber  tulisan dan menelusuri sumber- sumber yang tersembunyi di balik konten anonim? Bagaimana kita bisa paham dan yakin bahwa sebuah foto atau video benar- benar hasil jepretan  di lapangan atau hasil simulasi? Bagaimana kita mencegah sumber- sumber itu dari upaya reduksi menjadi satu bagian dan mendorong sebuah pendekatan yang dikembangkan atas basis algoritma? Bagaimana kita mempromosikan l ingkungan yang cocok dalam pemeliharaan pluralisme dan memotret kompleksitas realitas? Bagaimana kita dapat melestarikan sebuah teknologi yang kuat, mahal dan butuh energi besar? Dan bagaimana kita membuat semua itu bisa diakses oleh masyarakat di negara- negara berkembang?

Jawaban- jawaban yang kami berikan atas pertanyaan- pertanyaan ini dan  pertanyaan  lainnya  akan  menentukan apakah kecerdasan artifisial akan  menciptakan  kasta  baru akibat perbedaan akses pada informasi ini. Dan  dengan demikian, memunculkan bentuk- bentuk eksploitasi dan kesenjangan baru. Atau, apakah ini akan membuat kita makin setara dengan  tersebarnya  informasi  yang  benar  dan membawa pada kesadaran yang lebih  tinggi  atas  perubahan yang sedang kita alami? Ini karena kecerdasan artifisial memungkinkan kita memahami banyak kebutuhan dari para individu dan manusia dalam satu jaringan informasi yang pluralistik dan terstruktur dengan baik. Sehingga, di satu sisi, bila kita l ihat  sekilas,  tampak  sebuah  bentuk  perbudakan baru. Namun, di sisi lain, kita juga bisa melihat sebuah sistem yang bisa makin membebaskan kita, entah  yang  dipilih  itu hanya sedikit dan  dapat  mengondisikan  pikiran  orang  lain atau semua orang dapat berpartisipasi dalam perkembangan pikiran itu.

Jawaban yang kami berikan atas pertanyaan- pertanyaan ini tentu saja tidak bisa ditentukan sebelumnya. Semua terserah kita apakah mau menjadi makanan algoritma atau kita akan mengembangkan hati dengan kebebasan yang  tanpa kebebasan itu kita tidak dapat tumbuh dalam kebijaksanaan. Kebijaksanaan seperti itu menjadi matang dengan memanfaatkan waktu secara bijaksana dan dengan memeluk kerapuhan- kerapuhan kita. Semua itu tumbuh dalam perjanjian yang terjadi antargenerasi, di antara mereka yang mengingat masa lalu dan yang menatap masa depan. Hanya dengan bersama- sama kita bisa meningkatkan kapasitas dalam membuat keputusan  (dicernment)  dan  bersikap mawas diri serta melihat segala sesuatu dalam terang pemenuhannya. Jangan sampai kemanusiaan  kita  hilang arah. Marilah mencari kebijaksanaan  yang  ada  sebelum segala  sesuatu  (lih.  Sir.  1 :  4 ):  Ini  akan  membantu  kita  dalam penggunaan sistem- sistem kecerdasan artifisial demi terwujudnya komunikasi yang sungguh manusiawi.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 24 Januari 2024

FRANSISKUS

 

1] Surat dari Danau

  • 2] Pesan Hari Komunikasi Sosial  Sedunia  tahun  2024 mengambil pesan- pesan sebelumnya yang ditujukan  untuk bertemu   dengan orang- orang   di   mana   dan   bagaimana mereka   berada   (2021 ), mendengar  dengan  telinga  hati  (2022 ),  dan berbicara dengan hati (2023 ) .
  • 3] Lih.  “ Kebenaran  Akan  Memerdekakan  Kamu”  (Yoh.  8 :  32 ).  Berita Palsu  dan  Jurnalisme  untuk  Perdamaian,  Pesan  Hari  Komunikasi Sosial Sedunia 2018 .
  • 4] Pesan Hari Perdamaian Sedunia ke- 57 , 1 Januari 2024 , 8 .

Copyright © Dicastero per la Comunicazione – Libreria  Editrice Vaticana