Jumpa lagi adik-adik BIAK dan SEKAMI,

Kali ini Kak Venti akan menceritakan tentang kijang emas. Jika kalian lewat kota Pelaihari maka akan disambut Tugu Kijang Emas. Benarkah kijang emas itu ada?

Menurut hikayatnya, jenis kijang ini bukan kijang biasa. Mereka adalah peliharaan Dewi Gunung Kusan yang dibiarkan lepas bebas hidup di wilayah Kerajaan Tanah Laut. Mereka memiliki keistimewaan tanduk yang berkilau emas sebagai penanda peliharaan Sang Dewi. Tidak ada pemburu yang berani memburu atau menangkapnya. Dari jauh masyarakat sekitar sudah mengetahuinya dan mereka segera memberikan tumpukan daun ketela, daun kelor serta rumput kesukaannya. Kedatangan kijang emas ke rumah penduduk merupakan berkah karena tanaman pertanian mereka akan menjadi subur dan panen bakal melimpah.

Tempat yang paling disukai kijang emas adalah ceruk parit di dekat rumah Nini Galuh. Di parit itu terdapat gundukan batu yang mengandung garam. Secara berkala gerombolan kijang emas datang menjilati batu garam tersebut, sementara itu Nini Galuh dengan penuh kasih sayang memberikan pakan daun-daunan dan rumput di letakkan di samping rumahnya.
Penduduk sekitar memelihara parit itu agar tetap mengalirkan air yang jernih. Mereka menamai daerah itu Parit Mas karena airnya berkilau jernih dan menjadi tempat kesukaan kijang emas. Warga percaya bahwa kehadiran kijang emas di tempat mereka akan menjamin kesejahteraan kampung. Mereka rela menanami pohon-pohon di sekitar mata air parit itu agar tetap mengalirkan air sepanjang waktu.

Kabar kebiasaan kijang emas datang ke rumah Nini Galuh di Parit Mas terdengar sampai ke telinga pangeran Kerajaan Tanah Laut. Sang pangeran memiliki kesukaan berburu binatang, kemana-mana ia datang bersama pengawalnya. Yang menjadi tantangan pangeran adalah ia belum pernah bisa memanah kijang emas. Koleksi kepala kijang emas belum tertempel di dinding kamarnya. Pangeran membayangkan kepala kijang emas yang berkilauan tanduknya dan daging yang pasti lezat karena makanannya terjamin.

Baca Juga:  RP. Martinus Juprianto Bulu Toding, SJ: Berbagi Rahmat dan Cinta Allah

Pangeran memutuskan mengambil jalan pintas dengan niat berburu langsung di lokasi rumah Nini Galuh saat kelompok kijang emas turun minum dan menjilati batu garam. Bersama pengawalnya mereka mendatangi rumah Nini Galuh dan memaksa Nini Galuh agar mereka diperbolehkan memanah kijang emas saat datang ke Parit Mas. Tentu saja Nini Galuh tidak mengizinkan dan menghalang-halangi keinginan jahat sang pangeran. Namun apa daya Nini Galuh tak kuasa melawan. Ketika bulan purnama turun, nampaklah terang berjalan menerangi lorong hutan. Rombongan kijang emas menyusur Sungai Parit Mas, menuju batu garam di dekat rumah Nini Galuh.

Kawanan kijang emas keluar dari hutan, menyusur Sungai Parit Mas menuju batu garam di bulan purnama.

Tak sadar jika rombongan itu sudah diintai pangeran yang dikuasai nafsu menangkap dan membunuh semua kijang emas yang ada. Tak bisa dihindari kawanan kijang emas terkepung dan menjadi bulan-bulan anak panah. Nini Galuh melihat kekejaman pangeran dan anak buahnya jatuh lemas, hingga meninggal dalam posisi terduduk. Rohnya lepas menemui Dewi Gunung Kusan. Betapa sedihnya sang dewi Segeralah kawanan kijang emas yang tersisa dipanggil kembali ke istananya.

Bumi dan hutan wilayah Kerajaan Tanah Laut sangat berduka. Akibat ketamakan sang pangeran mengakibatkan alam terluka. Panenan penduduk tidak lagi sebanyak dulu, warga harus mengolah tanah dengan lebih berat. Air Sungai Parit Mas tidak lagi menunjukkan kejernihannya, terkadang bahkan berlalu air bah membanjiri kawasan itu. Pohon-pohon tidak lagi terurus dan hutan banyak ditebangi tanpa peduli memberikan rumah bagi penghuni hutan.
Akankah kijang emas kembali? Mereka akan kembali jika air Sungai Parit Mas kembali jernih, mata airnya dipenuhi pohon-pohonan rindang. Banyak orang yang peduli, seperti kecintaan Nini Galuh pada alam sekitar dan tentu saja tidak ada lagi orang yang memiliki sifat tamak dan rakus. Saat itulah kijang emas kembali turun menemui warga yang menanti kesuburan sawah dan ladangnya. (oZo)

Baca Juga:  Live in Pendamping Sekami di Paroki Santo Matius Halong