Refleksi di Tahun ke-25  Perjalanan Panggilan Imamat RD. Simon Edy Kabul Teguh Santoso

Ketika ingat Motto Tahbisan Imam, aku mulai merenungkan seluruh perjuangan dan pergulatan hidupku saat ini. Aku bertanya pada diriku sendiri: apakah hidupku ini sungguh berarti bagiNya atau tidak? Apakah aku layak menjadi alatNya atau tidak? Apakah ketekunan dan kesetiaanku selama ini sungguh berguna bagiNya dan sesamaku atau tidak? Saat merenungkan Motto itu dan ketika datang perasaan tidak berguna dan diabaikan, aku tersadarkan kembali bahwa Yesus yang kuikuti itu selalu membelaku dan setia mendoakanku. Kutengok dan renungkan lagi Motto Tahbisan Imamatku:

Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Luk 22:31-32).

Motto itu meyakinkan diriku bahwa keberadaanku hingga saat ini hanyalah karena kasihNya yang luar biasa dan cintaNya yang dalam secara pribadi. Aku tersadar bahwa DIA yang mencintaiku mendoakanku setiap waktu. DIA yang mendoakanku itu memanggilku dengan nama pribadiku. Terngiang-ngiang dalam relung hatiku sebutan halus dan tegas menyapaku setiap waktu.

Simon, Simon, lihat….”

Ketika kata-kata itu diucapkan dengan penuh cinta oleh Yesus di hadapan Simon, aku bisa membayangkan dan merasakan getaran kasih Yesus kepada murid yang disayanginya itu. Yesus mengerti betul watak dan temperamen pribadi Simon Petrus. Yesus juga tahu isi hati dan kelemahan manusiawi Sang Nelayan itu. Karena cintaNya, Yesus mengingatkan Simon agar selalu waspada dan berjaga-jaga.

Sekalipun dalam nas tersebut Yesus bermaksud meneguhkan Simon Petrus, murid kepercayaanNya, namun ketika aku merenungkannya, peristiwa kasih itu kurasakan hadir dalam diriku. Ketika peristiwa itu kukenakan pada diriku sendiri, secara personal aku merasakan seakan-akan aku  berada dalam aura kasihNya. Yesus menyapa dan memanggilku secara pribadi dengan menyebut namaku dua kali, ”Simon, Simon” dan menambahkan kata tegas untuk mengingatkanku “lihat….” Kata tersebut diungkapkanNya supaya aku dengan serius memperhatikan, mencermati, dan selalu menyadari kehadiran si jahat yang mengelilingi hidupku dalam seluruh perjalanan hidupku. Yesus mengingatkan diriku untuk selalu waspada dan berjaga-jaga setiap waktu. Karenanya aku tidak ragu lagi, kalau Yesus tahu dengan betul isi hati, kelemahan manusiawi, watak dan temperamenku. Yesus yang mencintai dan mengasihiku mengenal betul siapa diriku.

Baca Juga:  Rendah atau Tinggi

Iblis telah menuntut untuk menampi-ku seperti gandum, tetapi Yesus telah berdoa untukku

Setelah 53 tahun aku hidup dalam suka-duka, jatuh-bangun, senang-derita, seperti berada dalam situasi sedang ditampi, aku baru menyadari bahwa aku bisa melewati Hidup dan setia pada Panggilan imamatku itu, hanya berkat pertolongan Allah, berkat doaNya. Itulah pemberian Allah yang terbesar bagiku. Anugerah Ilahi yang luar biasa kualami. Hidupku dan Panggilan Imamatku itu berasal dari Allah dan oleh karenanya aku dan imanku dijaga olehNya dengan doaNya.

Jadi pertama-tama karena Allah menginginkannya, karena Yesus yang lebih dahulu mempunyai inisiatif dan menghendakiNya. Sehingga sesungguhnya bukan aku pemeran utamanya, atau pelakunya, apalagi sutradaranya. Karena hal itu bukanlah inisiatifku atau kemauanku, apalagi kehendakku. Aku menjadi imamNya itu, pertama-tama bukan karena kukehendaki, melainkan karena Yesus lebih dahulu mencintaiku, menghendakiku, menginginkanku, maka Yesus pula yang memanggilku, yang meneguhkanku setiap waktu bila aku jatuh, dan Yesus pula yang mentahbiskanku dan selalu menjagaku dengan doa-doaNya, supaya imanku tidak jatuh.

Dalam segala kelemahan dan ketidakberdayaanku, Yesus selalu setia mendoakanku, supaya imanku tidak goyah. Aku tidak jatuh. Sekalipun dalam keadaan genting dan darurat, seperti kualami saat bertugas di Paroki ”Stella Maris” Sungai Danau dan saat mengalami stres tingkat tinggi, aku selalu dijaga dan diingatkanNya melalui orang-orang yang mencintai dan mengasihiku. Saat aku sedih dan susah karena keadaan yang menjepitku, aku selalu didoakan olehNya dan seluruh umat, juga oleh mereka yang sudah meninggal. Saat aku digigit anjing gila dan ular berbisa, dan saat mengalami beberapa kali kecelakaan kendaraan dalam tugas melayani umat, aku dibuatNya mampu bertahan hidup hingga sekarang dan dihindarkan dari bahaya yang mengancamku. Saat aku tidak mampu berdebat dan akal budiku tidak jalan dengan baik, dalam diamku dan penerimaanku, aku merasa dibelaNya, bahkan saat aku terpojok dan lunglai tidak berdaya, Yesus mengangkatku kembali dan menyemangatiku. Oleh karenanya aku selalu yakin dan tidak ragu lagi dengan Panggilan Imamatku, karena Yesus selalu ada di sampingku, mendoakanku, membimbingku, menemaniku, menjagaiku, menegurku, memperingatkanku, dan bahkan kadang menjewerku. Aku menyadari bahwa Yesus yang memilihku.

Baca Juga:  Menyambut Peristiwa Penuh Rahmat dengan Sukacita

Sekalipun pertama-tama bukan karena inisiatifku ataupun kemauanku, aku baru sadar bahwa selama ini tanpa kusadari ternyata aku telah menjawabi panggilanNya dalam seluruh perjalanan Sejarah Hidupku. Aku baru saja melewati masa pengirikanku selama 25 tahun ini, sejak ditahbiskan sebagai ImamNya. Namun sejak dalam kandungan ibuku, aku sudah mengalami 53 tahun masa pengirikanku. Aku masih harus terus melewati dan mengalami masa-masa penampian hidupku. Entah sampai kapan aku harus menjalaninya, aku tidak tahu. Aku tidak ingin mendahului kehendakNya, karena Yesus sudah punya rencana terbesarNya atas hidupku. Apapun yang terjadi atas diriku, baik buruknya diriku; sukses tidaknya tugasku; memuaskan atau tidaknya pelayananku, semua itu adalah karena kebaikan dan kehendakNya. Semua itu karena kemauanNya, karena pilihanNya.

Kadang aku ingin melarikan diri dari realitas hidup, ketika aku tidak sukses, ketika aku selalu disalahkan, ketika aku tidak beruntung, ketika pelayananku terasa sebagai beban berat sampai tak mampu lagi berjalan. Namun, dalam kelelahan dan ketakberdayaan manusiawiku Yesus menyadarkan diriku bahwa situasi dan keadaan tersebut sengaja dipakaiNya, agar aku menjadi lebih sabar untuk belajar menangkap kehendakNya; agar aku bisa merasakan kehadiranNya, bantuanNya dan terlebih adalah sokongan doaNya. Bahkan melalui keterpurukan yang kualami; penolakan pahit serta keadaan merasa tidak berguna sama sekali pun, dipakaiNya untuk memperlihatkan kehadiran dan keterlibatanNya. Apakah situasinya itu buruk atau baik, jelek atau bagus, bagiNya semua itu dapat dipakaiNya untuk mendatangkan anugerah yang luar biasa. Yesus mengubah yang tidak mungkin bagi manusia menjadi mungkin. Aku percaya bahwa semua itu dipakai Allah untuk menyatakan kehendak baik diriNya terjadi dalam diriku. Yesus menghendaki diriku menjadi lebih baik, kataNya kepadaku, “Ti voglio bene.”

Tahbisan Imamat RD Simon Edy kabul Teguh Santoso, 18 Agustus 1996 di Paroki Kelayan Banjarmasin

Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.

Baca Juga:  Perayaan Tahbisan Imamat, Diakon dan Pesta Perak Imamat

Setelah aku menerima begitu banyak perhatian, cinta dan doaNya, kurasakan melalui pesanNya pada ayat berikutnya, Yesus memberi tugas dan mengutusku untuk menguatkan saudara-saudaraku. Tugas perutusan yang sangat luar biasa bagiku untuk mewujudnyatakannya. Aku menyadari bahwa pengalaman-pengalaman pahit dan sakit yang kualami menjadi bekal bagiku untuk menguatkan saudara-saudaraku yang mengalami hal yang mirip. Aku sadar bahwa melalui setiap peristiwa yang menyedihkan, menyengsarakan dan tidak menyenangkan, aku disiapkan oleh Yesus untuk mengalaminya, agar aku mampu merasakannya terlebih dahulu, sehingga aku bisa bercerita dan meneguhkan saudara-saudaraku dengan pengalaman yang pernah kualami dan kurasakan sendiri.

Untuk menjalankannya dan mengalaminya memang tidaklah selalu mudah. Aku beruntung karena Yesus selalu mendoakanku. Saat mengalami kekeringan rohani, saat gelisah, saat tidak ada kepastian tentang hidup ini, aku disadarkan bahwa Yesus memakai peristiwa itu untuk mengujiku dan mengingatkanku, agar aku tetap menjadi sabar dan selalu mempercayakan diri kepadaNya, karena Yesus tidak pernah meninggalkan diriku. Yesus selalu mengingatkanku untuk menyadari kehadiranNya.

Seringkali aku mencoba untuk membantu sesamaku dan menguatkan mereka dalam segala susah-deritanya dengan pengalamanku. Banyak pengalaman mengatasi kesedihan, derita dan luka masa lalu yang kubagikan dalam setiap sharing-ku. Sharing-ku ternyata cukup membantu mereka untuk keluar dari keterpurukannya. Mereka diteguhkan dan dikuatkan untuk berani mengalami Allah yang hidup dalam dirinya. Mengalami Allah yang mencintai dan Yesus yang mengasihi adalah pengalaman pribadi setiap orang yang percaya kepadaNya. Itulah iman. Sebagai orang yang berdosa dan lemah, aku telah mengalami dikasihiNya; sedang merasakan disayangiNya; dan akan tetap berharap selalu didoakanNya.

 

Wisma Ventimiglia – Seminari Menengah Santo Petrus

Jl. Gatot Subroto No.10,

Banjarmasin, 1 Juli 2021

RD. Simon Edy Kabul Teguh Santoso