Peserta Rekoleksi di depan gereja Santa Anastasia, Napu

Dalam rangka menghidupi Tahun Berdialog Keuskupan Banjarmasin serta menanggapi keprihatinan bahwa orang muda asik dengan dirinya sendiri sehingga terkadang mengarah pada Ansos (anti sosial), maka pada Sabtu (12/6/2021) digelar Rekoleksi bagi Orang Muda Katolik (OMK) Mandam, Napu dan Kotabaru. Rekoleksi yang mendalami tema Will Be Better tersebut diadakan di gereja stasi Santa Anastasia Napu, Paroki Santo Vincentius a Paulo Batulicin. Melalui kegiatan yang dipandu oleh Diakon Yohanes Tjuandi, Pr. Itu, peserta diajak menyadari perlunya berkomunikasi dengan orang lain, karena hidup bersama dengan orang lain itu penting.

Pukul 16:00 WITA, setelah para peserta beristirahat, mamiri dan sambil menunggu beberapa peserta yang masih belum datang dari Kotabaru, kegiatan dimulai dengan perkenalan, doa pembuka dan games atau permainan.  Diakon Yohanes Tjuandi, Pr atau yang akrab disapa Diakon Johan sangat kreatif dalam memilih games serta secara menarik mampu menjelaskan makna yang dapat diambil dari games tersebut sehingga suasana terasa penuh kegembiraan.

 

Games yang Sarat Makna dan Penuh Kegembiraan

Games yang pertama bernama Bahtera Nuh, Peserta rekoleksi dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok diberi Koran. Setelah semua kelompok mendapat Koran dan menyusunnya dengan rapi lalu masing-masing peserta naik ke atas Koran, Diakon Johan memainkan gitarnya sambil mengajak para peserta menyanyikan lagu “Jalan serta Yesus”  dan semua peserta ikut bernyanyi.

Di pertengahan, lagu itu berhenti. Lalu Diakon Johan meminta peserta untuk mengambil salah satu koran mereka sambil berkata, “Ternyata ada ombak besar yang membuat bahtera itu menjadi hancur.” Permainan terus berlanjut sampai koran yang tadinya banyak hanya tersisa satu, Diakon Johan memberi instruksi “ silahkan kalian mengatur bagaiaman agar kaki kalian semuanya harus berada di dalam koran itu, entah itu ada yang dikorbankan atau mau mengorbankan diri silahkan”. Para peserta pun sangat panik sambil mengatur strategi bagaiaman caranya agar diatas Koran yang tinggal satu itu, semua anggota kelompok tetap bisa meletakan kaki dan pada akhirnya tidak ada satu kelompok pun yang bisa mempertahankan bahtera mereka.

Baca Juga:  Misa Harian Jumat Pekan Biasa XIX, 13 Agustus 2021

Di akhir permainan Bahtera Nuh itu Diakon Johan berkata, “Perintah saya tadi kan kakinya saja yang harus di dalam koran bukan badannya. Jadi ya tidak apa-apa kalau kalian sambil duduk lalu cuma menaruh kaki kalian di atas koran itu.” Spontan peserta mengatakan, “Yah… tertipu…..”

Selanjutnya Diakon Johan memberi penjelasan tentang makna games Bahtera Nuh ini dengan mengatakan “Kebanyakan orang lebih suka mempertahankan egonya dan mementingkan diri sendiri. Coba saja tadi ada yang mengatakan, saya saja yang jatuh ke laut biar teman-teman lain bisa selamat dan mempertahankan bahteranya itu, tapi tidak ada yang melakukan hal itu.”

Setelah mandi dan makan malam, Rekoleksi sesi 2 dimulai. Pada sesi ini semua peserta diajak untuk menyadari kekurangan yang ada didalam diri sendiri melalui games Find The Group.  Malalui games ini, peserta diajak melihat bagaimana dalam  kehidupan sehari-hari, seseorang kerapkali mentertawakan dan mengomentari kelemahan atau kekurangan sesamanya.

Dalam games ini, peserta diajak untuk masuk ke dalam kelompok. Kelompok Kotabaru, kelompok Mandam dan kelompok Napu. Peserta diminta untuk menari mengikuti video singkat yang diberikan oleh Diakon Johan. Yang pertama tampil adalah kelompok OMK Kotabaru. Pada saat OMK Kotabaru tampil, OMK Mandam dan Napu menjadi penonton dan tidak sedikit dari mereka yang menertawakan karena ada beberapa gerakan yang sulit ditiru atau ada beberapa orang yang salah membuat gerakan.

Setelah OMK Kotabaru tampil, selanjutnya OMK Mandam dan dilanjutkan OMK Napu. Pengalaman yang sama pun mereka alami sehingga semua saling menterwakan dan yang tampil pun juga tertawa karena merasa salah.

Games berikutnya adalah games 3P: Pencuri, polisi, pastor serta games ikat tali. Seperti biasanya setelah memberikan games tersebut  Diakon Johan menjelaskan maksud dan tujuan games tersebut.

Baca Juga:  Jalanan Macet Bukan Halangan

Rekoleksi hari pertama ditutup doa malam. Usai doa malam, Diakon Johan meminta kepada peserta untuk beristirahat namun tidak melarang peserta yang mau begadang, asalkan kondisi fisik kuat.

Kerja Bakti: Sumbangsih OMK bagi Pembangunan Gereja

Keesokan harinya Minggu, (13/06/2021), para peserta bangun pagi, dan langsung bergegas untuk mengikuti senam pagi. Sebelum senam dimulai para peserta diajak untuk berdoa.

Setelah 30 menit mengikuti senam, para peserta diajak ke lokasi gereja baru stasi Santa Anastasia Napu untuk kerja bakti sebagai bentuk sumbangsih Orang Muda Katolik terhadap pembangunan gereja.

Setelah kerja bakti, para peserta mandi, makan dan mempersiapkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi bersama umat stasi Napu. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Allparis Freanggono, pastor paroki Santo Yusup, Kotabaru.

 

Wisata ke Liang Wayang

Setelah mengikuti perayaan Ekaristi, makan dan mempersiapkan perlengkapan, para peserta berangkat menuju tempat wisata alam Liang Wayang dengan didampingi oleh beberapa umat Stasi Napu.

Perjalanan menuju Liang Wayang ditempuh dengan sepeda motor yang kemudian dititipkan di rumah warga yang ada di pinggir desa Napu. Setelah itu para peserta bersama-sama berjalan kaki menuju lokasi wisata. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu setengah jam. Setelah sampai ke Wisata Liang Wayang itu, para peserta makan bersama dan ada yang berenang, foto-foto sambil melepas penat.

Gua Liang Wayang

Liang Wayang adalah salah satu obyek wisata alam yang terletak di Desa Muara Napu Kecamatan Hampang Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan. Mengapa dinamakan Liang Wayang? Karena disana terdapat gua dan di dalam gua terdapat patung-patung yang dibalut dengan kain kuning. Setiap sudut Liang Wayang memiliki kisah yang melegenda. Konon, pada jaman bahari (dulu), beberapa tokoh atau pemuka adat yang ada di desa Muara Napu mengadakan acara babalian (pesta panen dll.) di balai adat Liang Wayang. Ketika mereka sedang mengadakan acara babalian tersebut, datang seorang siluman yang mengutuk balai dan semua yang ada di dalam balai itu menjadi batu. Maka tak heran jika kita masuk ke dalam Liang Wayang itu kita akan melihat batu yang berbentuk manusia sedang duduk, tulang rusuk, macan, buaya dll.

Baca Juga:  “Pernahkah Kamu Mengalami Bullying karena Imanmu?”

Akses jalan menuju Liang Wayang ini juga cukup menantang, karena letaknya benar-benar di dalam hutan. Untuk sampai kesana kita bisa menggunakan motor dan berjalan kaki. Separuh jalan bisa ditempuh dengan motor sedangkan separuh jalannya lagi harus berjalan kaki karena jalan yang sempit, banyak akar dan batang-batang kayu yang tumbang. Kita juga harus beberapa kali menyeberang sungai. Ketika menyeberang sungai kita juga harus berhati-hati, karna banyak batu dan licin, apalagi ketika hujan bisa saja banjir dan debit airnya pasti akan lebih dalam dan deras. (Yustina Muinnesu, S.Ag)