SECARIK KISAH PERJALANAN PASTOR AMBROS,. MSF.

Oleh : Tim KOMSOS Paroki Bunda Maria Banjarbaru.

Processed with VSCO with preset

Ambrosius Laba Ruing, MSF atau akrab disapa sebagai Pastor Ambros adalah Pastor Paroki di Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Pastor kelahiran Lelawerang, NTT, 11 Mei 1982 tersebut adalah putra bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Yohanes Bali Tereng (alm) dan Ibu Cecilia Lipa Lengaring. Keduanya petani. Komsos Paroki Bunda Maria Banjarbaru berkesempatan berbincang dari hati ke hati dengan Pastor yang memiliki hobi menulis, badminton, sepak bola, futsal, serta menyanyi dan membagikannya kepada pembaca ventimiglia.id.

 

Bisakah Romo ceritakan perjalanan Romo dari kecil hingga akhirnya ditahbiskan?

Saya tidak pernah mengikuti pendidikan di TK, tapi langsung masuk SD.  Waktu itu saya sekolah di SDK St. Rafael, Lelawerang. Lulus SD melanjutkan ke SMPN Laweleba dan kemudian melanjutkan pendidikan di STM Bina Karya, Larantuka.  Setelah lulus dari STM, tahun 2001 saya mendaftar dan diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).  Kemudian saya bekerja sebagai PNS hingga tahun 2005.

Tahun 2005, saya mengundurkan diri sebagai PNS dan memutuskan untuk masuk hidup membiara. Saya kemudian mengikuti pendidikan untuk mempersiapkan diri masuk seminari di KPA (Kelas Persiapan Atas) St. Paulus Mataloko, Bajawa. Tahun 2006 hingga 2007 melanjutkan pendidikan di Seminari Johaninum, Banjarbaru.

Dari Seminari Johaninum, saya meneruskan pendidikan di Novisiat Biara Betlehem Salatiga, kemudian ke Biara Nazareth Yogyakarta, kuliah di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma dan lulus tahun 2012.

Tahun 2012 -2013 saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Jhon Don Bosco, Sampit, Kalimantan Tengah. Lalu melanjutkan kuliah dan lulus tahun 2015.

14 Februari 2015 saya ditahbiskan sebagai Diakon di Paroki Kotabaru, Yogyakarta. Masa diakonat saya jalani di Paroki Keluarga Suci Tering, Hulu Mahakam, Kalimantan Timur, Kutai Barat. Tahbisan imam saya terima pada 28 Oktober 2015 di Paroki St. Theresia Prapatan, Balikpapan, Kalimantan Timur oleh Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF.

 

Bagaimana kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga yang mempengaruhi kehidupan rohani Pastor?

Kebiasaan hidup dalam keluarga dan teladan orangtua sangat mempengaruhi kehidupan rohani saya. Ayah aktif mengikuti kelompok Konfria dan Ibu yang mengikuti kelompok St. Anna. Dalam keluarga, kami melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil seperti: Makan bersama dan doa tidak selalu dipimpin oleh Ayah sebagai kepala keluarga, namun bergantian oleh setiap anggota keluarga yang berkumpul diatas meja makan. Doa malam sebelum tidur, kami lakukan bersama. Demikian juga ketika bangun di pagi. Saya dibangunkan untuk melakukan doa pagi bersama. Hal-hal kecil ini kami lakukan dalam keluarga setiap hari.  Hal kecil lainnya adalah dengan pergi ke gereja bersama dan duduk bersama dalam satu bangku. Bahkan kami pasti  duduk di satu bangku yang sama, dan tidak bisa terspisah satu sama dengan yang lainnya.

 

Sejak kapan dan mengapa Pastor tertarik menjadi Imam?

Kedekatan saya dengan biarawan-biarawati sejak kecil mempengaruhi ketertarikan saya. Setiap tahun selalu ada biarawan-biarawati yang datang ke desa saya. Mereka menyapa anak kecil serta melakukan promosi panggilan.  Cara mereka berpakaian dan cara mereka berinteraksi dengan warga sekitar membuat anak-anak tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang biarawan-biarawati. Saya sendiri sebagai anak kecil waktu itu sangat terkesan ketika diberi permen oleh salah satu imam SVD yang berkunjung dan ini menumbuhkan benih-benih tertarikan saya menjadi imam.

Baca Juga:  Menimba Semangat Seorang Misionaris Cilik

Waktu saya SD, saya juga terkesan ketika di desa saya ada tahbisan Imam SVD. Dan ketika saya sudah bekerja, ada lagi tahbisan imam di desa saya dan saya ditunjuk sebagai sekretaris panitia. Selain itu, dalam keluarga besar saya, ada juga Saudari saya yang menjadi Suster PRR. Hal ini mendorong makin kuatnya ketertarikan saya untuk menjadi imam.

Tetapi waktu kelas 4 SD, di dalam kelas, kami ditanya, “Siapa yang ingin menjadi Pastor?” Saya tidak angkat tangan. Hal ini karena Pastor Paroki yang menjabat waktu itu bukan sosok figur pastor yang saya kenal sewaktu kecil. Sangat berbeda jauh! Pastor yang saya kenal waktu kecil adalah figur pastor yang periang, senang dengan anak kecil dan baik hati.

 

Apakah itu berarti Pastor tidak tertarik lagi menjadi Imam?

Setelah tamat SD, saya memberitahu keinginan saya untuk melanjutkan sekolah ke SMP Seminari pada Ibu. Namun Ibu menolak keinginan saya dengan alasan saya anak laki – laki satu-satunya dalam keluarga. Saya diharapkan dapat melanjutkan keturunan dalam suku. Selain itu karena alasan ekonomi. Waktu itu untuk masuk sekolah seminari butuh biaya yang besar. Dan kedua orangtua saya hanya petani, tidak ada penghasilan tetap.

Waktu itu bahkan Ibu mengatakan bahwa saya tidak boleh sekolah dan meminta saya untuk  membantu mengurus kemiri saja. Mendengar kata-kata ibu saya, spontan saya merasa kecewa. Saya ngambek, mengunci diri dalam kamar seharian tanpa makan. Namun keesokan sorenya Ibu menghampiri saya dengan berkata. Ya sudah… kamu boleh sekolah tetapi kamu harus urus sendiri.” Mendengar hal itu saya langsung loncat dari tempat tidur sanking senangnya.

Keesokan harinya, saya langsung mendaftarkan dirinya ke SMPN Lowoleba dan diterima. Untuk membayar uang sekolah dan kebutuhan sekolah lainnya,  setiap pulang sekolah, saya ditemani adik Ibu yang bungsu pergi ke hutan mencari kayu bakar. Setelah dipotong dan diikat, keesokan paginya pukul 5 pagi saya berkeliling desa untuk menjualnya dengan harga  Rp 2.000,-/ikat. Pukul 6 pagi kami harus pulang dan siap-siap pergi ke sekolah, karena jam 7 sudah masuk sekolah.  Selain menjual kayu bakar, saya juga membantu para tukang becak, untuk menarik becak bersama. Hasil yang diperoleh dibagi bersama mereka.

Lulus SMP, saya mendapatkan tawaran dari keluarga untuk bersekolah seminari. Namun penolakan dari orangtua kembali saya alami. Mereka tetap tidak setuju dengan alasan yang sama dengan sebelumnya.

 

Lalu, apakah Pastor kemudian bersekolah di sekolah umum?

Ketiadaan biaya membuat saya tidak bisa sekolah selama satu tahun. Suatu hari saya pergi mengantarkan salah satu saudari saya untuk melanjutkan sekolah di biara SEIYA, Ende. Saya hanya mengantar sampai Larantuka, di susteran SEIYA, di Waibalun.

Setalah saudari saya berangkat ke Ende, Suster di Waibalun menawarkan pekerjaan pada saya di susteran. Saya terima tawaran itu. Waktu itu saya utarakan pada Suster keinginan saya untuk melanjutkan sekolah, “Kalau ada sesuatu yang suster berikan pada saya dari hasil kerja saya di sini, lebih baik tidak perlu diberikan kepada saya. Ditabung saja, nanti uang itu saya akan saya pakai untuk masuk sekolah.

Di susteran pekerjaan yang saya lakukan antara lain, mengurus ternak ayam potong dan petelur, memelihara babi, menanam sayur. Ketika musim buah, saya memetik buah yang akan dijual di Pelabuhan Waibalung. Di usia 13 tahun saya bisa berangkat sendirian ke Kupang untuk mengambil ayam yang ada di sana. Saya mengurus semuanya sendirian termasuk karantina hewannya.

Baca Juga:  RP. Florentinus Hersemedi CM: Panggilan adalah Gerakan Bersama

Setelah satu tahun bekerja di susteran tersebut, saya mengundurkan diri dan keluar dari susteran untuk melanjutkan sekolah. Saya tinggal bersama dengan adik ibu atau bibi saya yang suaminya sudah meninggal.  Beliau memiliki tiga anak anak yang semuanya lebih muda dari saya . Uang yang saya dapat dari bekerja di susteran saya gunakan untuk biaya masuk awal ke STM, jurusan Bangunan Gedung.

 

Bagaimana dengan keinginan Pastor menjadi Imam dan mengapa memilih MSF?

Dulu sebenarnya saya ingin sekali masuk konggregasi SVD karena waktu di Lembata, saya tinggal di satu paroki SVD, di Waikomo. Ketika bertemu dengan pastor paroki saya waktu saya masih kecil yang saya kenal sebagai Pastor yang galak, saya bertanya kepada Beliau, “Pater…kalau saya lulusan dari SMA/U dan ingin jadi imam, bagaimana caranya?” Bukannya mendapat jawaban, Pastor paroki tersebut malah mengatakan, “Memangnya kamu pikir bahwa jadi imam itu gampang?”

Saya kecewa ketika mendengar perkataan itu. Lalu saya pamit pergi dan pulang. Namun dalam perjalanan pulang,  saya menyadari bahwa jawaban dari pastor tersebut adalah “cambukan” motivasi bagi saya untuk bisa menjadi imam.

Lalu saya masuk di KPA Seminari Mataloko.  Saat itu saya memilih konggregasi Ordo Karmel (O.Carm.) dan mengikuti tes masuk ke STFK Ledalero. Namun, saya tidak bisa masuk ke STFK karena saya hanya mendapatkan poin 109, sedangkan nilai minimal yang dibutuhkan adalah 110 poin. Setelah gagal dalam tes masuk, saya pergi ke Maumere, mengunjungi salah satu keluarga yang menganggap saya seperi anak mereka sendiri.

Di Maumere, saya bertemu teman seangkatan saya juga tidak berhasil masuk waktu mengikuti tes masuk STFK Ledalero. Dia adalah Piter Ping Poto (sekarang Pastor Piter Ping Poto. MSF – Pastor Paroki Landasan Ulin). Beliau menemui saya dengan membawa brosur MSF yang diberi oleh temannya di Maumere. Padahal waktu itu saya sudah kirim lamaran menjadi imam diosesan Kalimantan Tengah.

Setelah mendapat brosur itu saya langsung menghubungi Pastor Doni, MSF selaku pengampu Seminari Johaninum Banjarbaru. Karena waktu itu di Maumere ada tiga orang yang mendaftar masuk Seminari Johaninum Banjarbaru, maka  kami bertiga di-tes di Maumere. Kami bertiga lulus dan masuk Seminari Johaninum Banjarbaru.

 

Bisakah Pastor ceritakan pengalaman berkesan selama menjalani pendidikan?

Salah satu pengalaman saya yang berkesan adalah ketika menjalani Asistensi ke paroki – paroki MSF di Jawa  waktu Natal dan Paskah. Dari kegiatan itu, saya mendapat pembelajaran seperti, melayani umat serta bagaimana caran berpastoral.  Dukungan dari umat juga memotivasi saya.

Baca Juga:  Colloquium: RP. Albertus Jamlean, MSC: Menghidupkan Gereja melalui Keluarga

Ketika menjalani asistensi di Sampit bersama Pastor Paulus Emanuel Fay. MSF, saya ditempatkan di stasi Bangkal dan tidur di susteran SPC. Selama pekan suci kami bergantian memimpin. Ketika bersalaman, mereka cium tangan. Saya yang waktu itu masih seminaris bingung, kaget, heran dan serba salah. Ingin menarik tangan tapi nanti dianggap tidak sopan, jadi saya biarkan saja.  Namun pengalaman ini meneguhkan panggilan saya  dan memotivasi saya agar bisa lebih baik lagi ke depannya.

Kekompakan dengan teman seangkatan, adik kelas, dan juga kakak kelas ketika saya menjalani pendidikan di seminari juga sangat berkesan bagi saya. Kami bisa saling support dalam segala hal.

 

Adakah suatu peristiwa yang menggoyahkan perjalanan panggilan Pastor?

Ketika keluarga saya mengalami kesulitan keuangan berkaitan pinjaman belis (gading, syarat untuk melamar calon pengantin wanita timur) saat ayah saya melamar ibu, saya merasa bersalah dan terbebani.  Tanggung jawab itu seharusnya saya pikul karena saya anak laki-laki satu-satunya di keluarga. Saya berpikir, seandainya waktu itu saya masih menjadi PNS, saya pasti bisa membantu untuk melunasi pinjaman tersebut.

Saat itu saya diteguhkan oleh perkataan Almarhum ayah saya, “Kami sudah serahkan engkau pergi, maka kau jalani itu. Ini urusan kami, kami masih hidup, kami bisa urus ini.”. Puji Tuhan, akhirnya permasalahan itu dapat teratasi.

 

Pengalaman berkesan Pastor dalam pastoral sebagai Imam?

Ketika saya bertugas di Paroki Tering, suatu waktu saya harus turney ke stasi. Saya tidak tahu bahwa di stasi yang akan saya kunjungi sedang banjir. Setelah sampai di puncak tanjakan, saya bertemu dengan umat yang kebetulan melintas di sana. Salah satu dari mereka berkata, “Motornya letakkan saja di sana Pastor. Di bawah banjir, motor tidak bisa lewat.” Teryata benar saja banjir yang dalamnya hampir sepinggang orang dewasa itu, memaksa saya untuk menarik celananya tinggi meskipun tetap basah juga. Namun saat itu saya tetap memimpin misa disana, dengan celana yang sudah agak kering.

Pengalaman lainnya adalah ketika harus melakukan pemberkatan jenazah saat banjir. Karena air banjir masuk ke dalam ruma, pemilik rumah membuat tempat seperti loteng di dalam rumah agar saya bisa memberkati jenazah. Peti berserta jenazah juga diletakkan di situ. Sedangkan umat yang lain tetap mengikuti misa pemberkatan jenazah denganmenggunakan Puntun (jika di Banjarmasin kita menyebutnya Jukung).

Harapan Pastor terhadap umat Paroki Banjarbaru?

Seluruh umut Paroki Bunda Maria Banjarbaru menjadi sebuah paguyuban. Tidak perlu ada pengkotak-kotakan dalam paguyuban ini. Kita harus menyadari bahwa kita adalah umat diaspora. Kita berasal dari banyak daerah dan berkumpul menjadi satu umat di Paroki ini. Ini sama halnya dengan Abraham yang keluar dari tanahnya sendiri ke tanah terjanji. Kita keluar dari daerah masing – masing dan berkumpul ditanah Banjarbaru dan menjadi satu umat.

Untuk kedepannya mari kita bertindak, punya pola pikir, punya perlakuan, seperti halnya Abraham yang menghargai apa yang ada di tanah yang Tuhan berikan. Tanah Banjarabaru ini adalah tanah yang Tuhan beri untuk kita. Maka supaya tidak terpecah mari kita membangun persatuan dan persaudaraan. (KOMSOS BJB)