Pastor Ruben Basenti Moruk, OFM atau akrab disapa sebagai Pastor Ruben sejak 2020 menjadi Pastor Paroki pertama bagi paroki yang baru didirikan, Paroki Santo Fransiskus Asisi Gendang. Semangat Santo Fransiskus Asisi sebagai pendiri ordo OFM yang memperjuangkan keutuhan ciptaan melekat dalam karya dan pelayanan Pastor kelahiran Atambua, 34 tahun yang lalu.

Rabu (14/7/2021) Tim Komsos Paroki Landasan Ulin bekerjasama dengan Tim Redaksi Majalah Ventimiglia mengadakan wawanhati dengan Pastor Ruben melalui media Zoom seputar perjalanan panggilan serta karya dan pelayanan yang saat ini diembannya. Berikut petikan wawanhati Pastor yang ditahbiskan pada November 2015 di Keuskupan Ruteng itu.

 

Bagaimana latar belakang keluarga Pastor?

Pastor Ruben, OFM bersama ibu dan ayahnya

Saya anak sulung atau anak pertama dari delapan bersaudara. Maka orangtua memberi nama Ruben, yang dalam Kitab Suci merupakan anak sulung dari keluarga Yakub.

Orangtua saya adalah petani yang tidak tamat SD.  Meskipun di rumah tidak ada kebiasaan berdoa bersama, namun orangtua mewajibkan kami untuk berdoa dan membuat tanda salib ketika akan makan atau akan tidur. Mereka juga mendorong saya dan adik-adik untuk pergi ke gereja stasi setiap Minggu. Padahal pada waktu itu stasi kami jarang dikunjungi Pastor atau Suster karena letaknya cukup jauh dari pusat paroki.

 

Apakah dorongan ini membuat Pastor menjadi aktif dalam kehidupan menggereja?

Tidak…… Jujur, saat kecil saya tidak aktif di gereja. Hanya, saat kelas 3 SD, saya diajak tante ikut koor di gereja. Kalau menjadi misdinar baru saya lakukan ketika di Seminari. Tapi ini jangan ditiru ya…. lebih baik sejak dini anak-anak terlibat dalam kegiatan dan pelayanan di gereja.

 

Sejak kapan Pastor tertarik menjadi Imam?

Ketertarikan itu terbersit ketika saya duduk di kelas 3 SD. Pada waktu itu ada seorang Pastor yang masih memiliki hubungan keluarga dengan mama saya datang berkunjung ke rumah kami. Pastor tersebut menyapa kami sekelurga dengan suasana akrab. Ia berkata kepada saya dan adik-adik saya, “Ayolah kalau kalian besar  nanti jadi seorang Pastor ya, karena saya sudah tua. Siapa lagi yang menggantikan saya sebagai Pastor kalau tidak kalian?” Rupanya  perbincangan itu membekas dalam diri saya dan menumbuhkan keinginan saya untuk menjadi seorang Pastor.

Tak hanya itu. Saya juga kagum dan terkesan ketika Pastor tersebut memimpin misa dan membagikan hosti pada umat satu persatu. Peristiwa pembagian hosti dan sosok yang membagi hosti merupakan suatu peristiwa  dan sosok yang menarik bagi saya. Maka  sepeninggal Pastor tersebut, saya mencoba menirukan peristiwa misa itu. Saya mengiris tipis buah pisang menyerupai hosti….hahaha… Adik-adik saya minta berbaris  dan antri untuk menerima “hosti” yang terbuat dari irisan buah pisang itu. Waktu itu saya merasa sangat bangga, seakan-akan saya adalah Pastor yang membagikan hosti.

Baca Juga:  Kaum Muda: Gunakan Anugerah dan Kharismamu

 

Apakah ketertarikan itu kemudian menghantar Pastor masuk Seminari?

Lulus SD saya masuk SMP di kota. Saat itu keinginan untuk menjadi Pastor tidak ada lagi. Malah saya ingin menjadi seorang perawat. Kala itu saya senang melihat anak-anak SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) berseragam putih. Namun ternyata ketika saya lulus SMP tahun 2002, sekolah tersebut tutup. Maka cita-cita menjadi seorang perawat pun kandas.

Tak lama berselang, saya mendengar pengumuman penerimaan Seminari Menengah di sekolah. Saya mencoba untuk mendaftar Seminari tanpa rekomendasi atau persetujuan dari orangtua. Hanya bermodalkan surat rekomendasi dari SMP dan rekomendasi Pastor Paroki Katedral, saya memberanikan diri mendaftar. Puji Tuhan saya diterima di Seminari tersebut. Setelah diterima, saya baru memberitahu orangtua saya. Tentu saja orang tua saya sangat terkejut dan sempat marah-marah kepada saya karena tidak diberitahu terlebih dahulu bahwa saya mendaftar masuk seminari. Bagi mereka, biaya pendidikan di Seminari cukup mahal. Oleh karena itu perlu dipersiapkan sebelumnya.

 

Bagaimana pengalaman mengikuti pendidikan di Seminari?

Awalnya, saya sempat ingin menangis karena rindu dan jauh dari orang tua. Namun akhirnya suasana kebersamaan dan persaudaran dengan teman teman di Seminari mampu mengobati kerinduan itu. Bahkan kemudian ketika liburan di rumah saya malah ingin cepat-cepat kembali ke Seminari.

Selain itu di  Seminari, saya diajari cara belajar yang benar dan cara menata diri menjadi pribadi yang mandiri, sopan dan disiplin. Kami didampingi dengat sangat baik oleh Romo , Suster dan Frater. Fasilitas olahraga dan perpustakaan yang cukup lengkap mendukung kenyamanan kami. Pandangan masyarakat bahwa anak-anak Seminari merupakan pribadi dan punya nilai plus secara sosial sangat menyemangati kami.

Setelah lulus Seminari Menengah, saya masuk OFM dan menjalani masa Postulan di Manggarai. Kemudian melanjutkan Tahun Novisiat di Depok Jawa Barat dan melakukan kaul pertama sebagai OFM. Setelah itu mengikuti pendidikan S1 Filsafat di STF Driyarkara Jakarta, menjalani Tahun Orientasi pastoral di Seminari Mattaloko Keuskupan Ende sekaligus berlajar Teologi. Tahun 2015 saya menerima Tahbisan Diakon dan kemudian Tahbisan Imam. Jadi dari masuk Seminari Menengah hingga ditahbiskan menjadi Imam, saya jalani selama 13 tahun!

 

Mengapa memilih OFM?

Pada mulanya saya jatuh hati dengan jubah yang dikenakan para Pastor OFM. Waktu itu stasi kami telah dimekarkan menjadi sebuah paroki dan beberapa imam OFM berkarya di situ. Saya melihat jubah para imam OFM unik, berwarna coklat dan ada penutup kepalanya, bagian bawahnya lebar sehingga leluasa bergerak. Jubah ini sebenarnya terinspirasi dari pakaian yang dikenakan para iman di Italia dan memiliki makna kesederhanaan atau kedinaan, siap bergerak dimana ada yang memerlukan pelayanan.

 

Pilihan OFM itu apakah karena ketertarikan pada jubah saja, Pastor?

Saya lebih tertarik lagi untuk memilih OFM ketika melihat keteladanan para imam OFM di paroki saya. Mereka ramah, mengayomi dan merangkul semua umat di paroki. Dalam hidup sehari-hari mereka menampakkan kesederhanaan, seperti: menggunakan fasilitas paroki yang sederhana, bersedia makan apa adanya, giat dalam mengolah lahan, dan sebagainya.

Baca Juga:  RP. Ambrosius Laba Ruing, MSF: Pemberkatan Jenazah Di Atas Air

Setelah saya bergabung dalam ordo atau konggregasi OFM saya makin yakin dengan pilihan saya. Nilai-nilai persaudaraan, kedinaan atau kesederhanaan serta cinta akan keutuhan ciptaan yang diwariskan oleh Pendiri OFM, Santo Fransiskus Asisi, selalu ditumbuhkan dalam ordo ini.  Hal ini ditunjukkan dalam tindakan nyata oleh Provinsial OFM, Pastor Paskalis Bruno Syukur, OFM (saat ini menjadi Uskup Keuskupan Bogor), yang waktu itu berkunjung ke Atambua. Saat perjumpaan itu saya menangkap kesan rendah hati dalam pribadi Beliau. Beliau memasakkan makanan untuk para seminaris dan bahkan rela ikut mencuci piring kami semua.

Tahbisan Imam Pastor Ruben, OFM

Bagaimana Pastor memaknai kesederhanaan atau kedinaan itu?

Saya belajar dari Tuhan Yesus dan Santo Fransiskus Asisi. Dua pribadi ini mengajarkan dan memberikan teladan bagi kita bagaimana hidup sederhana dan hidup dekat dengan orang “kecil.”  Kesederhanaan memudahkan kita untuk membangun persaudaraan sejati dalam berelasi dengan orang lain. Kesederhanaan juga akan menumbuhkan keterbukaan satu sama lain serta memupuk sikap rendah hati.

 

Dalam perjalanan panggilan sebagai imam, apakah Romo pernah mengalami titik dimana Romo ingin menyerah?

Pernah. Naluri sebagai anak sulung mengakibatkan saya tidak ingin melanjutkan perjalanan panggilan saya. Saat itu saya masih mengikuti pendidikan S1 Filsafat semester 6.  Saya merasa galau dan kasihan dengan orangtua yang masih menanggung kehidupan dan pendidikan adik-adik saya. Saya berpikir bahwa sebagai anak sulung saya harus membantu orangtua mengemban tanggung jawab itu.

Saat itu saya sempat ingin keluar dari Seminari. Dalam situasi ini, saya dikuatkan dengan sebuah pesan dari seorang ayah kepada putra sulungnya yang menjadi  Pastor. Ayah tersebut mengatakan, “Harta dan materi bisa dicari. Namun harta atau materi itu seketika bisa hilang. Tetapi menjadi seorang Imam jauh lebih berharga dari harta atau materi.”

Kemudian saya kembali mereflesikan panggilan saya dan memberanikan diri untuk berbicara dengan orangtua mengenai kegalauan saya. Orangtua meneguhkan saya untuk tetap fokus pada panggilan sebagai imam. Mereka menjamin kehidupan dan pendidikan adik-adik saya akan dapat mereka tanggung. Peneguhan dari orangtua saya membuat saya semakin mantap dan bersemangat melanjutkan panggilan hingga menjadi seorang imam.

 

Sebagai Pastor Paroki Pertama bagi Paroki yang baru saja dibentuk, bagaimana strategi pastoral yang Pastor jalankan?

Pada 1 Januari 2020 Stasi Gendang dimekarkan dari wilayah pelayanan Paroki Batulicin dan menjadi Paroki Fransiskus Asisi, Gendang. Mengawali sesuatu tentu tidak mudah. Apalagi Paroki Gendang memiliki 23 Stasi  dengan jarak antar stasi yang cukup jauh dari pusat Paroki. Lima stasidari 23 stasi tersebut terdiri dari umat asli Dayak. Sedangkan di stasi lainnya terdiri dari umat yang bekerja di kebun sawit yang kebanyakan pendatang. Strategi pastoral tergantung latar belakang stasi tersebut, umat asli Dayak atau pekerja pendatang.

Baca Juga:  RP Jufri Kano, CICM: Anak Pantai menjadi Penjala Manusia

Bagi umat asli Dayak, kami melakukan pendekatan pendidikan kepada anak-anak dan memotivasi agar mereka tidak cepat-cepat menikah di usia muda. Kami menumbuhkan pentingnya pendidikan bagi masyarakat ini dan meyakinkan mereka bahwa pendidikan bisa merubah taraf kehidupan anak-anak di kemudian hari.

Bagi umat yang bekerja di kebun sawit kami membantu memperjuangkan keadilan secara administrasi dan dokumen pekerja. Banyak juga para perantau yang bekerja di perkebunan sawit memiliki pendidikan yang rendah, bahkan ada yang belum bisa baca dan tulis secara lancar. Kami berusaha mendampingi dan memotivasi anak-anak para pekerja tersebut untuk mendapatkan pendidikan mengingat jauhnya akses dari tempat mereka ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Bagi calon pasangan yang akan menikah, terutama umat yang tinggal atau bekerja di perkebunan, kami mempersyaratkan mereka memiliki tabungan untuk persiapan acara pernikahan dan bekal kehidupan berkeluarga selanjutnya. Oleh karena itu pada saat kanonik kami meminta calon pasangan yang akan menikah tersebut menunjukkan buku tabungannya. Kami juga membantu memberikan pendampingan bagi umat untuk mengelola keuangan keluarga melalui tabungan CU (Credit Union). Kami bekerjasama dengan CU dari Batulicin.

 

Terakhir Pastor, apa pesan Pastor bagi kaum muda di jaman ini?

Saya berharap agar kaum muda Katolik harus bangga, karena dalam Katolik kita menemukan hal hal yang  luar biasa dan istimewa. Meskipun banyak orang menilai kita minoritas, tetapi menurut saya, justru di situ kita dipandang sebagai orang yang unik dan istimewa. Jangan takut. Sebagai orang Katolik kita percaya apa yang kita usahakan akan semakin mudah karena kuasa Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Asahlah diri untuk bisa terlibat dalam hidup menggeraja sehingga pada akhinya kita dengan matang dan tanpa keragu-raguan bisa mewartakan kabar sukacita tentang Kristus.

Hidup menggereja dapat dilakukan dengan terlibat dalam liturgi. Liturgi Gereja Katolik menawarkan sesuatu yang teratur, tertata rapi dan memiliki makna yang dalam. Gereja Katolik membuka lebar kesempatan bagi kaum muda untuk terlibat aktif dalam mempersiapkan Misa maupun keterlibatan menjadi petugas liturgi seperti: paduan suara, lektor, pemazmur, misdinar dan lain lain. Untuk mendukung keterlibatan kaum muda dalam kehidupan liturgi dan menggereja, di Paroki Gendang dijadwalkan Misa khusus kaum muda secara berkala. Hal penting yang perlu ditekankan bagi kaum muda adalah jangan takut salah. Dari kesalahan, kita bisa belajar memperbaiki kesalahan tersebut agar menjadi lebih baik.

(Komsos Paroki Yohanes Pemandi, landasan Ulin; Foto: arsip P.Ruben, OFM)