Rabu, 10 November 2021
PW. St. Leo Agung – Paus dan Pujangga Gereja

Keb. 6:1-11
Luk. 17:11-19

 

Saudara/i yang terkasih…
Bersyukur adalah sebuah panggilan dan penghayatan iman. Orang yang beriman adalah orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah atas setiap anugerah yang ia terima dalam hidupnya; ia senantiasa bersyukur baik dalam suka maupun dalam duka, baik dalam sehat maupun dalam sakit, baik dalam kegembiraan maupun dalam kesedihan.
Bacaan-bacaan hari ini mengajarkan dan mengajak kita untuk menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur.
Penulis Kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama menegaskan dan menyadarkan kita untuk senantiasa bersyukur dengan jalan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab karena kekuasaan adalah anugerah dari Allah. Maka setiap pemimpin harus bertanggung jawab dalam tugasnya karena pemimpin adalah abdi Kerajaan Allah. Hal ini dilaksanakan oleh St. Leo Agung – Paus dan Pujangga Gereja. Ia membimbing perjalanan hidup Gereja dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab.

Saudara/i yang terkasih..
Bersyukur juga diajarkan oleh orang Kusta yang adalah seorang Samaria. Dalam situasi penderitaan ia datang pada Yesus untuk memohon Rahmat kesembuhan dari Yesus. Ia sadar bahwa ia tidak pantas maka ia hanya berteriak dari jauh : Yesus Guru, kasihanilah kami! Sebuah seruan doa yang penuh kepasrahan.
Dan ketika ia mengalami kesembuhan dalam perjalanan, ia kembali dan tersungkur di depan kaki Yesus untuk bersyukur kepada-Nya. Hal ini berbeda dengan sembilan temannya yang lupa daratan. Mereka tidak kembali untuk bersyukur.
Bagaimana dengan saya?

Saudara/i yang terkasih…
Kita pun kadang bertindak seperti sembilan orang Kusta tadi; ketika sakit kita datang pada Tuhan, tetapi ketika sembuh kita lupa dengan Tuhan. Namun kadang kita juga bertindak seperti orang Kusta dari Samaria yang tidak lupa bersyukur atas setiap peristiwa kehidupan. Marilah kita berusaha untuk menjadi pribadi yang senatiasa bersyukur dalam kehidupan kita masing-masing. Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin

Baca Juga:  Merefleksikan Iman dalam Sebuah Bangunan Gereja

(P. A. L. Tereng MSF)
Si Hitam – Mu-Sa-Fir