Sembilan puluh tiga tahun sejak ikhrar sumpah para pemuda dan pemudi Indonesia dikumandangkan bukan usia yang sedikit telah kita lalui bersama dalam hidup berbangsa dan bernegara. Mereka telah berikhrar bersama bahwa mereka memiliki satu tanah, yakni Tanah Indonesia, memiliki satu bangsa, yakni Bangsa Indonesia dan memiliki satu bahasa, yakni Bahasa Indonesia.

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tanggal 28 Oktober 2021 adalah hari dimana kita diingatkan kembali semangat para muda Indonesia saat itu di tahun 1928 untuk bersatu untuk kejayaan Indonesia, dimana saat itu mereka melawan ancaman intoleransi, penjajahan dan terorisme yang jelas berusaha merobek persatuan kita disaat itu.

Radikalisme Ancaman Nyata

Kepala Densus 88 Irjen. Pol. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si.

Hal ini jelas disampaikan oleh Kepala Densus 88 – Irjen. Pol. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si. dimana Densus 88 sempat waktu lalu didengungkan oleh mereka yang pro dengan intoleran agar dibubarkan. Masih ingat bukan?

Disampaikan dalam acara Kebangsaan yang diadakan oleh Pondok Pesantren Abdulrahman Wahid Soko Tunggal Jakarta Timur, bahwa saat ini radikalisme jelas ancaman nyata bagi bangsa Indonesia dimana mereka sudah masuk di banyak lini seperti halnya dunia pendidikan, perekonomian dan lain sebagainya. Dan mereka masuk terlebih kepada generasi muda dengan mengadopsi penggunaan teknologi dan sosial media yang tentu akrab digunakan oleh para generasi muda saat ini, dengan narasi-narasi antara lain narasi kebencian, narasi keterancaman, konspirasi terorisme, narasi intoleransi dan narasa keagamaan khususnya untuk menyingkirkan ideologi bangsa kita, Pancasila.

Baca Juga:  Berkomunikasi dan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya

Semangat Sumpah Pemuda Tangkal Radikalisme

Bersama DR Nuril Arifin Husein, MBA atau lebih dikenal Gus Nuril

Sama halnya dengan para pemuda dan pemudi pada tahun 1928 yang lampau, saat ini semangat itu juga semestinya menjadi titik mula kita berikhtiar untuk bersemangat menangkal radikalisme di sekitar kita. Tentu kita tidak perlu dengan kekerasan, bahkan cara ini juga – persuasif – juga digunakan oleh Densus 88 sebagai cara ampuh untuk melakukan deradikalisasi. Diungkap bahwa sesungguhnya banyak pelaku teroris ini adalah korban dan mereka akhirnya dapat kembali kepada bangsa dan negara setelah perlakuan persuasif yang dilakukan oleh Densus 88. Banyak juga karena persuasif ini, banyak jaringan terorisme saat ini terungkap seperti yang baru ini diungkap Densus 88 yakni penemuan 35 kg bahan peledak atas pengakuan napi teroris belum lama ini.

Bersama Tokoh Nasionalis – Habib Zein Assegaf atau lebih akrab dipanggil Habib Kribo

Kita sebagai generasi muda, kita wajib untuk tidak berdiam diri, karena ini juga panggilan kita sebagai generasi muda, dengan melakukan kontra narasi, kontra propaganda serta kontra ideologi mereka baik di media sosial, atau pun lingkungan sekitar kita dan terus menyuarakan bahwa kita ini satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, dan perbedaan dan keragaman kita – dengan Bhinneka Tunggal Ika serta semangat ideologi Pancasila menyatukan kita selamanya.

Salam Pancasila! Salam 5 Jari! (MSN)