Seminar Kekatolikan dilaksanakan pada Kamis , 03 Maret 2022, diinisiasi oleh Seksi Kerawam Bidang Pelayanan DPP Paroki Suriyan. Narasumber Pater Aba, MSC dan Br.Willy, MSC. Sasaran peserta seminar adalah anak-anak pelajar SD yang telah menerima Sakramen Komuni I, pelajar SMP, SMA/SMK,  mahasiswa ,  OMK, dan para guru Katolik di wilayah paroki. Kegiatan berlangsung di ruang Gereja Santo Yosep Suriyan pukul 15.00-17.30 WITA.

Peserta seminar seminar berjumlah 92 orang.  Terdiri dari siswa SD 14 orang, SMP 32 orang, SMA/SMK 30 orang , mahasiswa/OMK 16 orang dan guru Katolik 8 orang .

Ketua pelaksana, Lucas Djatmiko, memberikan pengantar maksud dan tujuan seminar.

Acara dibuka dengan doa pembukaan Sr. Maria Yerona, PRR. Ketua Bidang Pelayanan DPP, Lucas Djatmiko H.N. memberi pengantar bahwa hidup di tengah-tengah umat beragama lain dan menjadi minoritas memerlukan sikap arif dan bijaksana. Kasus-kasus pelecehan hendaknya jangan sampai membuat kehilangan iman namun sebaliknya semakin menguatkan iman kekatolikan. Penderitaan yang diterima sebagai  akibat dari pilihan iman  hendaknya mampu dipahami sebagai keniscayaan karena hal itu adalah resiko pengikut Kristus. Maka dalam situasi apapun pengikut Kristus harus tetap bahagia dan berbuat baik kepada siapapun bahkan terhadap mereka yang tidak menyukai.

Pater Aba, MSC memberikan materi utama kepada peserta seminar.

Tampil sebagai pembicara utama adalah Pastor Paroki, Pater Aba, MSC. Tayangan slide “Ketika Menjadi Minoritas adalah Luka” membuka materinya. Pater Aba lalu memberi penguatan yakni“ kita bukan minoritas, tetapi kawanan kecil” (yang merupakan pendapat  Bapak Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang). Kawanan kecil  yang memiliki andil besar dalam berdinamika di tempat kita berada. Contoh dengan refleksi para martir yang meninggal demi mempertahankan iman.

Baca Juga:  HUT Wanita Katolik Republik Indoesia ke-97 oleh WKRI DPD Kalsel

Sejarah perkembangan Gereja perdana sampai dengan saat ini di dunia modern menghadapi aneka halangan dan hambatan. Namun umat Katolik di Indonesia khususnya harus memiliki sikap yang jelas (baca artikel: Teladan para Martir dan Kebanggan sebagai Pengikut Kristus). Pater Aba MSC menguraikan secara gamblang kepada kaum muda, diselingi tanya jawab dan simulasi-simulasi peristiwa yang kontekstual menarik untuk disimak.

Pada sessi kedua dilaksanakan sharing pengalaman  secara kelompok  untuk tanggapan siswa jika mengalami tekanan atau pelecehan (bullying) terhadap iman atau agama mereka. Apa yang sebaiknya dilakukan? (baca artikel:”Pernahkah Kamu mengalami Bullying karena Imanmu?”)

Diskusi kelompok dalam jenjang sekolah dengan pendamping guru Katolik.

Peserta masuk dalam kelompok sharing sesuai tingkat sekolah. SD terdiri 2 kelompok . Kelompok SMP terdiri 4 kelompok, SMA/SMK  5 kelompok , Mahasiswa/OMK 2 kelompok. Masing-masing kelompok didampingi guru Katolik agar sharing dapat berjalan dengan baik, tepat waktu, penyajian presentasi jelas. Seusai  melakukan sharing kelompok, mereka melaksanakan  presentasi hasil diskusi sharing pengalaman . Hasil diskusi dan presentasi kelompok diserahkan ke Panitia untuk dibuat kesimpulan .

Kesimpulan hasil akhir sharing kelompok disampaikan Bruder Willy MSC yakni penderitaan yang kita terima sebagai kawanan kecil harus mampu memperkuat iman dengan menghayati serta turut merasakan penderitaan Kristus dalam menebus dosa manusia, tidak mendendam tetap mengasihi, memberi penjelasan secukupnya bagi mereka yang tidak paham, mendoakan orang-orang yang melecehkan. Tetaplah Katolik ,karena kita lahir sebagai Katolik, menikah secara Katolik, hingga nanti mati tetap sebagai orang Katolik.

Acara ditutup dengan doa oleh Marcelius Jelahu, Ketua Bidang pewartaan, dan foto bersama.