Refleksi Motto Tahbisan Imam Yohanes Tjuandi

Diakon Yohanes Tjuandi di Gua Maria Mandam

Butir-butir refleksi setiap permenungan hidupku selalu berawal dan berakhir dengan rasa syukur karena Tuhan Allah senantiasa melindungi dan menuntun tapak-tapak panggilan hidupku. Semboyan ”Allah adalah Kasih” atau Deus Caritas Est, itulah yang menjadi dasar dan puncak peziarahan hidupku, karena aku menyadari keterbatasan diriku di hadapan-Nya.

Apa yang aku alami sepanjang hidup ini, termasuk menghidupi panggilan untuk menjadi imam merupakan kebaikan Tuhan Yesus yang sungguh luar biasa mengasihiku. Permenungan panggilanku selalu mengerucut pada Allah yang murah hati di mana melalui Bapa Uskup Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang dan seluruh umat Allah di tempat aku diutus selalu mendukung dan menguatkan perjalanan panggilan hidupku ini.

Pengalaman suka dan duka aku refleksikan dalam keheningan bersama DIA bahwa dalam mengarungi peziarahan panggilan sampai saat menjelang menerima sakramen imamat ini, dan sungguh Tuhan Allah mendidik aku agar semakin siap menjadi gembala yang baik hati, rendah hati, murah hati, dan setia dalam menghayati tiga nasihat injili (taat, miskin, dan murni). Sakramen imamat yang aku terima ini merupakan anugerah kasih terbesar dari-Nya dan harus aku persembahkan kepada umat melalui pelayanan di mana pun aku diutus melayani.

Rangkaian kisah panggilan yang aku lalui mulai dari kedatanganku di Keuskupan Banjarmasin sampai menjelang menerima tahbisan imam ini, bisa berjalan baik dan lancar karena KASIH TUHAN dan memang rencana Tuhan indah pada waktunya. Semangat hidup panggilan yang kuhidupi dan aku jadikan semboyan atau motto tahbisan imam, yakni ”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihKu itu.” (Yoh 15:9).

Baca Juga:  Jadilah Imam yang Baik dan Taat pada Uskup

Aku menyadari bahwa diriku ini hanyalah seorang hamba yang berjuang untuk setia pada kehendak-Nya. Suatu sumber kekuatan di masa yang lalu dan suatu harapan untuk sepanjang penjalanan hidupku ke depan nanti akan berjalan dengan baik dan benar, bahkan kesulitan mampu aku hadapi tentunya jika aku tinggal dalam kasih-Nya, maka motto tahbisan inilah yang aku pilih. Allah adalah Kasih dan DIA telah mengasihiku, maka sudah layak dan sepantasnya jika aku memancarkan kasih dari Tuhan kepada sesama, teristimewa untuk semua umat yang terkasih di Keuskupan Banjarmasin ini.

(Yohanes Tjuandi)