Kamis, 07 April 2022
Pekan Prapaskah V

Kej. 17:3-9
Yoh. 8:51-59

Semua orang bisa memberikan janji, tetapi tidak semua orang dapat memenuhi janji dalam kesetiaan

Saudara/i yang terkasih…
“Buat apa berjanji tetapi pada akhirnya tidak ditepati sehingga menjadi janji busuk,” itulah sebuah kalimat yang sering kita dengar dalam hidup berkaitan dengan janji dan setia.
Janji setia Allah berbeda dengan janji setia dari manusia. Allah senantiasa setia pada janji-Nya seperti yang ditunjukkan kepada Abraham dan keturunannya. Namun yang dituntut dari Abraham dan keturunannya adalah setia pada janji yaitu menjadi umat yang setia pada Allah.
Dalam perjalanannya, keturunan Abraham menjadi orang-orang yang tidak setia pada Allah sehingga mereka mengalami penderitaan di tanah pembuangan. Peristiwa pembuangan bagi bangsa Israel yang merupakan keturunan Abraham adalah peristiwa “Allah meninggalkan” mereka. Mereka merasa ditinggalkan oleh Allah karena mereka mengalami “kematian rohani” dalam hati dan hidup mereka, namun Allah tetap setia pada janji-Nya.

Kesetiaan Allah ini terpenuhi dalam diri Yesus. Ia yang adalah “Sang Ada” dianggap sebagai orang yang kerasukan setan karena Ia mengatakan : “Sungguh, Barangsiapa menuruti Firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya”. Yang dimaksudkan oleh Yesus tentang mengalami maut adalah bukan hanya kematian badani tetapi kebinasaan Jiwa.
Oleh karena itu, sebagai “Israel yang baru”, marilah kita belajar setia pada Allah : mendengarkan firman Allah, menuruti-Nya dan melaksanakan dalam hidup agar Allah tidak meninggalkan kita seperti orang-orang Yahudi yang ditinggalkan oleh Yesus; Ia menghilang dan meninggalkan Bait Allah.
Sanggupkah kita untuk melakukan tugas ini? Semoga doa Keluarga Kudus Nazareth membantu kita. Tuhan memberkati kita. Amin

(P. A. L. Tereng MSF)
Gendang – Mu-Sa-Fir

Baca Juga:  Bertobat: Membangun Hati yang Baru