Umat Allah sekalian,

Biarawan – Biarawati, rekan – rekan imam, yang dikasihi Tuhan.

Uskup Keuskupan Banjarmasin, Mgr.Petrus B.Timang

Salam jumpa, salam sehat untuk Anda semuanya,

  1. Tahun 2021 kita lewati dengan selamat. Dengan mengalami banyak pergumulan, kecemasan dan ketidakpastian. Bahkan dengan tetesan air mata dan keringat dalam menanggung beragam beban hidup. Termasuk kehilangan anggota keluarga atau orang-orang yang kita kasihi akibat sakit-penyakit khususnya Covid-19. Memasuki tahun 2022 ada secercah harapan berdasarkan analisis para ahli mengenai sejumlah hal: pertumbuhan ekonomi walau lambat, semakin positip, korban penularan Covid menurun seiring dengan semakin banyaknya warga yang menerima vaksinasi anti Covid-19, tahap satu, dua bahkan tiga yaitu vaksin penguat (booster). Warga semakin akrab dengan berbagai merk vaksin, Sinovac, Pfizer, Astraseneca, Moderna, Merah Putih dan lainnya. Dengan semakin bertambahnya jumlah warga yang menerima vaksin, kekebalan kelompok (herd-immunity) dalam masyarakat kian meningkat. Karenanya kemungkinan tertular oleh virus Corona semakin diperkecil pula.

Namun awan mendung yang menyelubungi warga dunia termasuk kita di Kalimantan Selatan dan Indonesia belumlah sirna seluruhnya. Sebaliknya, ancaman nyata terhadap kenyamanan dan keamanan kehidupan warga masih menyisakan sejumlah ketidakpastian. Beberapa daerah di Kalimantan Selatan kembali dilanda banjir bandang pada awal 2022. Dengan segala kerusakan yang diakibatkan untuk lahan pertanian, pemukiman penduduk, jalan dan jembatan. Bahkan sampai saat ini sejumlah daerah, termasuk beberapa bagian Kota Banjarmasin masih menjadi sasaran genangan air pun saat hujan tidak turun dan langit Kalimantan cerah. Ancaman bencana alam terasa sangat dekat berupa banjir, tanah longsor, jalanan dan jembatan terputus, angin puting beliung, petir, gempa bumi, gunung meletus, dan banyak lagi.

Perjalanan tahun 2022 belum beranjak jauh tetapi sejumlah ketidakpastian sudah mulai menghadang. Bangkitnya kembali pandemi Covid-19 dengan hadirnya varian Omicron yang merebak dengan kecepatan relatip tinggi ke sejumlah negara termasuk negeri kita. Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi global selama 2022 hanya 4,4 persen dan pada tahun 2023 diperkirakan 3,8 persen. Artinya kemungkinan kehidupan warga semakin sulit karena pendapatan semakin menyusut akibat dari lapangan pekerjaan semakin terbatas. Ketidakpastian lain menyangkut peralihan sumber-sumber energi lama kepada sumber-sumber terbarukan. Bila jalannya atau prosesnya tidak mulus, maka harga energi akan melambung. Dalam bidang politik internasional ketegangan antara negara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dengan Rusia dalam kasus Rusia-Ukraina, dan dengan Cina di laut Cina Selatan (LCS) menambah bobot ketidakpastian kehidupan warga secara mondial. Apa pun yang terjadi di belahan bumi mana pun pasti akan mempengaruhi situasi hidup warga sehari-hari di sini dan kini!

  1. Keuskupan Banjarmasin (KEBAN) menetapkan tahun 2022 sebagai Tahun Gereja Inklusif pada tahun ketiga tahapan pelaksanaan Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin Periode Kedua 2020-2024. Dalam rangka “Memancarkan Kasih Allah di Kalimantan Selatan”. KEBAN melalui setiap anggotanya sebagai pribadi, kelompok, komunitas, stasi, paroki melalui kegiatan, pekerjaan, profesi masing-masing dipanggil dan diutus untuk secara aktif mengambil bagian dalam berbagai kegiatan di lingkungan kerja atau tempat tinggal masing-masing. Seluruh dan setiap umat diajak, didorong, dimotivasi untuk terbuka dan bekerjasama dengan orang-orang yang agama, suku dan budayanya atau adatnya berbeda. Dengan berbagai pihak itu umat katolik didorong dan didukung untuk mengembangkan dan membangun hidup bersesama dalam masyarakat sebagai saudara-saudara. Bukan sebagai orang lain yang dipandang sebagai saingan, dan pasti bukan sebagai lawan yang perlu dinegasikan, dimusuhi, disingkiri dan dijauhkan. (Bdk “Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin 2015-2024, Tahun 3, 2022, Gereja Inklusif ” hal. 35 dan 36).
Baca Juga:  Jalan Tuhan untuk Paulus dari Tarsus: dari Benci menjadi Cinta

Cita-cita luhur itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit, taken for granted, diandaikan terjadi dengan sendirinya. Hidup bersesama dan bersaudara mengandaikan kesediaan untuk membuka diri dan kesiapan untuk berdialog serta bekerja sama dengan siapa pun tanpa syarat. Dengan cara itu kita mampu dan terampil untuk membangun persaudaraan sejati dan tulus tanpa pura-pura atau tedeng aling-aling. Keutamaan-keutamaan tadi bersumber pada kebajikan dasar yakni kerendahan hati yang sesungguhnya adalah karya Roh sendiri. Membuka diri kepada sesama memprasyaratkan keterbukaan dan kerendahan hati di hadapan Allah Roh Kudus yang bergiat dan tinggal dalam diri anak-anak Allah (bdk Doa Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin di Tahun Gereja Inklusif 2022 dan Doa untuk Sinode, Adsumus Sancte Spiritus). Kualitas kehidupan Gereja Katolik melalui setiap anggotanya dalam masyarakat dengan semangat bersaudara, bersesama dan bermasyarakat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas komunikasi timbal balik antara umat Allah dan warga masyarakat lainnya. Komunikasi saling terhubung dan menyatu dengan kelompok lain dalam masyarakat yang semakin optimal/berkualitas, memperkuat sinergi, memperluas peluang untuk menemukan saudara dan sahabat baru. Komunikasi itu menjembatani berbagai perbedaan dan mengelola berbagai potensi kesalahpahaman, perpecahan dan pertentangan yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

  1. Memasuki tahun 2022 Menteri Agama Republik Indonesia mencanangkan 2022 sebagai Tahun Toleransi. Pencanangan itu merupakan wujud tekad Pemerintah untuk merawat toleransi antar pihak dalam komunitas besar masyarakat Bangsa Indonesia. Toleransi itu mencakup kehidupan beragama, bermasyarakat/sosial, politik dan segala aspek dalam pembangunan bangsa. Merawat toleransi berarti memperkuat sendi-sendi berbangsa dan bernegara menuju bangsa yang kokoh, solid, aman, sejahtera, adil dan makmur. Mengabaikan apalagi menggerogoti atau merongrong sikap toleran artinya perlahan tapi pasti sedang merobohkan bangunan raksasa Bangsa dan Negara Indonesia. Dalam konteks Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin, merawat toleransi itu adalah sikap inkusif melalui keterlibatan maksimal dan optimal dalam berbagai kegiatan berbasis komunitas/hidup bersesama. Sikap inklusif itu menyangkut tiga bidang utama:
  • Pelayanan komunitas (community services)
  • Pemberdayaan komunitas (community empowerment) dan
  • Hubungan komunitas (community relationship)

Toleransi bukan suatu sikap pasip melainkan upaya aktip terus-menerus untuk membuka diri secara tulus dan jujur kepada pihak lain dan dengan rendah hati penuh hormat memberikan diri kepada pihak lain itu dalam sikap melayani: Sikap itu mengandaikan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh tentang regulasi (Undang-undang /Peraturan) yang ada, memahami secara utuh proses dan cara pelaksanaan, membangun komunikasi dan dialog yang berkualitas dan positif dengan pihak-pihak yang terkait. Akhirnya apa pun saja yang kita perbuat dalam pelayanan, pemberdayaan atau hubungan dengan komunitas-komunitas agama, budaya, suku, adat istiadat lain, semuanya merupakan buah-buah Roh (Gal. 5:22-23): kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri, (kebajikan, kesederhanaan dan kemurnian, KKGK, hal 218). Dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari masyarakat tempat kita berdomisili dan akhirnya sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia, sikap inklusif itu sebagai buah-buah Roh harus nyata dalam 7 Amal Kasih Jasmaniah dan 7 Amal Kasih Rohaniah.

Baca Juga:  Tahun Liturgi dan Tahun Politik: "Menjadi apakah anak ini nanti?" (Luk 1:66)

AKJ:        1. Memberi makan kepada orang lapar

  1. Memberi minum kepada orang haus
  2. Memberi tumpangan kepada orang asing
  3. Memberi pakaian kepada orang telanjang
  4. Melawati orang sakit
  5. Mengunjungi orang di penjara
  6. Menguburkan orang mati

(bdk Mat 25:35-37)

 

AKH:       1. Menasehati orang yang ragu-ragu

  1. Mengajar orang yang belum tahu
  2. Menegur pendosa
  3. Menghibur orang yang menderita
  4. Mengampuni orang yang menyakiti
  5. Menanggung kesalahan dengan sabar
  6. Berdoa untuk orang yang hidup dan mati.

 

Perbuatan baik dan cara hidup yang membawa berkat bagi sesama manusia dan sesama makhluk ciptaan perlu semakin ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya supaya sungguh menjadi kebaikan sesama (bonum commune). Semuanya dalam semangat solidaritas, belarasa, penuh empati yang menyembur tanpa henti dari hati nurani yang bening bersih.

 

Selamat mengisi Tahun Gereja Inklusif 2022 dengan sukacita, apa pun juga yang terjadi. Kristus sumber kekuatan kita dalam menyempurnakan kemanusiaan dan keutuhan ciptaan, dalam semangat inklusif, tetaplah sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya, hieri, hodie, cras et in saecula-saeculorum (Ibr 13:8).

Salam sehat, Damai Tuhan menyertai Anda sekalian. Allah adalah kasih, Deus Caritas Est.

Banjarmasin, 02 Februari 2022,

Pada Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah.